
keesokan harinya...
seperti biasa, orang-orang mengerjakan rutinitasnya masing-masing, bersih-bersih, sarapan, ada yg berangkat ke kantor, ke sekolah bahkan ke pasar sekalipun juga ada.
setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing begitu juga dengan Ian, yg akhir-akhir ini selalu di sibukkan dengan pekerjaannya. selama ini Ian bekerja keras untuk pekerjaannya, Ian selalu berpikir berapa banyak orang-orang yg ada di bawah kepemimpinan nya, jika saja Ian tidak bekerja keras, bagaimana dia bisa membantu para pegawainya untuk tetap bisa mempertahankan hidup mereka dan keluarganya.
Ian di kenal sebagai sosok pemimpin perusahaan yg baik dan ramah, oleh sebab itu semua pegawainya sangat segan dan menghormatinya.
"selamat pagi pak.."
"ya.."
"ini jadwal bapak hari ini.."
ujar sang asisten memberikan gawainya.
Ian pun membacanya dengan seksama. setelah merasa cukup paham dengan jadwalnya hari ini, Ian pun memberikan kembali gawai tersebut kepada sekretaris nya.
tanpa Ian sadari, sedari tadi sekretaris nya terus memandanginya, sampai Ian memberikan gawainya, barulah ia tersadar dari fokus nya memandang Ian.
asisten Ian pun pergi keluar dari ruangannya dan kembali ke mejanya.
Ian pun terus mengerjakan pekerjaannya tanpa memperdulikan sekitarnya.
saking fokusnya Ian bekerja, ia lupa kalau saat ini sudah memasuki jam makan siang.
bahkan pintu terbuka pun Ian tidak tahu.
"terus aja kerja, sampe kamu lupa makan.."
mendengar suara yg tak asing di telinganya, membuat Ian langsung melihat siapa sosok yg ada di hadapannya saat ini.
"sayang.. ngapain kamu kesini ?"
"aku mau makan siang sama suami aku.."
ujar Ara sambil menunjukkan rantang makanan yg ia bawa.
Ian pun tersenyum, betapa beruntungnya Ian memiliki istri seperti Ara.
*sebelumnya
saat Ara sedang berada di kamarnya sambil mengerjakan pekerjaannya dan melihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan waktunya jam makan siang, tiba-tiba saja Ara ingin membawakan makan siang untuk suaminya itu.
Ara pun bergegas ke dapur dan memasak makanan kesukaan suaminya.
setelah selesai Ara pun bergegas mengganti pakaiannya dan sedikit berias.
Ara menyetir mobilnya sendiri menuju gedung perusahaan milik suaminya.
saat Ara tiba, semua pegawai yg mengetahui bahwa Ara adalah istri dari Ian pun langsung menundukkan kepala nya dan menyapanya.
Ara menaiki lift yg akan mengantarkannya ke ruangan dimana suami bekerja.
saat Ara akan segera sampai, Ara melihat kalau sekretaris suaminya sedang berdandan dan merapikan pakaiannya seperti orang yg sedang jatuh cinta, ingin selalu terlihat cantik dan mempesona.
saat sang sekretaris hendak mengetuk pintu ruangan Ian untuk memberitahukan jam makan siang, tiba-tiba saja Ara mengagetkannya.
"permisi mbak, pak Ian nya ada.."
karena sangat kagetnya, sang sekretaris pun langsung memutar badannya dan melihat, siapa orang berani mengagetkannya.
__ADS_1
niat ingin marah-marah namun ia urungkan saat tau yg bertanya adalah istri dari bosnya.
"selamat siang ibu, kebetulan sekali, bapak sedang berada di dalam, silahkan ibu.."
dengan ekspresi yg di ada-adaka seramah-ramahnya, sang sekretaris pun membukakan pintu agar Ara bisa masuk.
saat Ara sudah berada di dalam dan pintu sudah tertutup, betapa terpesonanya Ara saat melihat suaminya sedang fokus bekerja, wajahnya sangat tampan natural dan penuh wibawa.
"pantas saja sekretaris nya ganjen.."
ujar Ara dalam hati.
Ara dan ian pun makan siang bersama di dalam ruangan Ian.
makanan yg menjadi kesukaan Ian pun habis di makannya tanpa tersisa sedikit pun, sampai-sampai saat lauk terakhir tinggal sedikit, Ara dan ian sempat-sempatnya berebut makanan tersebut.
"buat aku.."
"buat aku.."
"kamu mau jadi istri durhaka ?"
"kamu mau di juluki suami yg nggak sayang istri ?"
"ya sudah, kamu yg makan deh.."
ujar ian dengan raut wajah kecewanya.
Ara pun mengambil makanan yg tersisa satu sendok dari rantang, kemudian menodongkan sendok ya ke mulut Ian.
"ini, ini untuk suami ku.."
"kenapa nggak semuanya ?"
"setengahnya lagi untuk istri ku yg soleha.."
Ara pun tersenyum kemudian Ian menyuapkan sisa makanan yg ada di sendok ke Ara.
di perusahaan lain di saat jam makan siang juga, Dewi dan Jo masih sibuk dengan pekerjaannya.
"kamu nggak makan.."
ujar Dewi pada Jo.
"nanti saja, tanggung, sebentar lagi selesai.."
"ya sudah aku pesan makanan saja ya.."
Jo hanya menganggukkan kepalanya saja.
sekitar 20menit menunggu, akhirnya pesanan makanan pun datang.
Dewi menyiapkannya di meja, tidak hanya makanan tapi juga lengkap dengan minuman dan camilnnya.
"sudah, kita makan dulu.."
ujar Dewi sambil memegang tangan Jo yg sedari tadi sibuk dengan laptopnya dan itu berhasil, Jo menghentikan pekerjaannya kemudian makan bersama Dewi di dalam ruangannya.
sesekali Jo melihat ke arah Dewi yg sedang makan, Dewi yg merasa di perhatikan pun akhirnya balik menatap Jo.
"apa ?"
__ADS_1
Jo tidak menjawab, ia malah menyendok makanan dan mengarahkannya kepada Dewi.
Dewi pun hanya bisa tersenyum dan menerima suapan dari Jo.
tak ingin hanya Jo yg menyuapinya, Dewi pun balik menyuapi Jo.
setelah makan siang selesai, mereka pun kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing karena jam istirahat sudah selesai dan sudah masuk lagi jam kerja, mereka pun harus profesional.
Jo sangat mengagumi Dewi karena keprofesionalan nya dalam bekerja dan juga bisa menempatkan dirinya di berbagai tempat dan keadaan.
"kamu nanti pulang sendiri ?"
"ya, biasanya kan juga sendiri.."
"aku ikut boleh ?"
"kemana ? ke rumah ? mau ngapain ?"
"iya, mau main lah, nggak boleh emang ?"
Dewi tidak menjawab, karena mereka mengobrol juga sambil bekerja.
"aku pulang dulu ya sayang.."
ujar Ara pada ian.
"nggak mau nungguin aku sampe jam pulang kantor ?"
"nggak ah, kelamaan.."
"ya udah, aku anter kamu ke bawah.."
Ian pun mengantarkan istrinya ke bawah, ke arah parkiran.
"hati-hati.."
Ara pun pamit sambil mencium punggung tangan Ian kemudian masuk kedalam mobilnya dan pergi.
selama di perjalanan, Ara selalu terbayang kelakuan sekretaris suaminya tadi.
sebagai seorang perempuan, Ara juga mengerti apa yg terjadi, namun Ara tidak ingin ambil pusing, asalkan Ian setia, itu sudah lebih dari cukup.
*
*
*
*
*
*
*
jika kau yakin, lakukanlah
jika kau ragu, jangan pernah kau coba, karena keragu-raguan hanya akan membawa ketidakpastian.
yakin, berjuang dan selalu berdoalah.
__ADS_1