My Favorite Prince

My Favorite Prince
10. Wanita Gila


__ADS_3

Untuk mengikis kebosanan, Rossy berjalan-jalan menyusuri istana yang sangat luas. Seakan tak ada rasa jera yang tersemat sedikitpun di hati Rossy, walau baru saja semalam mendapatkan ancaman dari putra mahkota karena kecerobohannya.


Sudah beberapa saat dari kepergian Alexander menemui Isabella, tetapi sampai saat ini pria itu tak kunjung kembali menemui dirinya.


"Hah, bosan!" serunya sambil menguap.


Tiba-tiba saja dari arah belakang tubuhnya seakan di dorong seseorang yang membuatnya nyaris tersungkur di lantai.


"Dasar rakyat jelata tidak tahu diri!" Umpatan dari seorang wanita seketika membuat Rossy terbelalak. Rasa terkejut yang belum usai membuat gadis itu masih tampak bingung memikirkan situasi yang tengah terjadi.


"Hah? Anda siapa?" tanya Rossy.


"Dasar kucing dekil pengganggu! Kalau kau tidak ada, Alexander pasti akan menerima lamaran dariku!" pekiknya semakin histeris.


Rossy menghela napasnya seraya menggeleng kepala karena melihat tingkah laku gadis itu. Tak ada niat sedikitpun untuk dirinya menggubris perkataan gadis tak dikenal yang sudah bersikap kasar dan tak sopan pada dirinya. Rossy tidak ingin menambah masalah di sini asing tempatnya kini berada


"Apaan sih, gak jelas!" jawab Rossy yang berniat langsung pergi meninggalkan gadis tempramental itu.

__ADS_1


Semakin diabaikan oleh Rossy maka semakin meluap api amarah yang bergemuruh di dalam hatinya. Gadis itu benar-benar tidak terima dan merasa disepelekan oleh orang asing yang bahkan baru satu hari berada di dalam istana.


"Kau! Dasar wanita penggoda! Apa yang kau banggakan dengan rambutmu yang gelap seperti arang itu dan kulitmu yang terbakar terlalu banyak terkena sinar matahari," umpatnya dengan suara tinggi.


Perkataannya sontak membuat Rossy menghentikan langkahnya, ia pun berbalik dan kian mendekat pada gadis bangsawan tersebut.


"Jangan rasis, kau! Lantas apa yang kau banggakan dari kulitmu yang sepucat mayat itu? Huh, menjengkelkan! Lebih baik kita tidak perlu berjumpa lagi, Lady aneh!" cibir Rossy seraya menunjuk kening gadis itu dengan jari telunjuknya lalu kembali melanjutkan perjalanan untuk pergi meninggalkan gadis tersebut.


Teriakan caci maki terus ia dapatkan, tetapi kini Rossy berusaha keras untuk menulikan pendengarannya karena ia tidak ingin mencari masalah di negri orang.


Tanpa dirinya sadari jika ada sepasang mata yang sedari tadi melihat semua kejadian tersebut, sosok tersebut mengembangkan senyumannya singkat sebelum kembali memasang ekspresi wajah datarnya dan meninggalkan tempat tersebut.


***


Tok! Tok! Tok!


Kriettt!

__ADS_1


Pintu kamar tersebut terbuka perlahan sesaat ketukan terjadi beberapa kali. Sontak sang empunya kamar sedikit menoleh, melihat siapakah tamu tak diundang yang datang dan mengganggu dirinya dalam menikmati kesunyian yang kian menelan diri.


"William," ucap pria tersebut dan terus mendekati sang putra mahkota yang tak sedikitpun bergerak dari tempatnya berada.


"Ada apa?"


"Sampai kapan kau mau terus begini? Aku mohon, relakan kepergian ayah dan juga Celine. Tidak baik untuk kamu terus menerus mengurung diri dan tenggelam dalam perasaan duka terus menerus."


Senyuman seringai tersungging di wajah William, tanpa melihat Alexander ia pun menjawab dengan nada suara meremehkan, "Kau ini tahu apa? Kau tidak pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai, jadi lebih baik kau tutup mulutmu!"


Kedua tangan Alexander mengepal kuat, bahkan sampai akhir pun dirinya memilih memendam seluruh perasaan yang ia punya. Alexander menghela napasnya, mengatur perasaan marah yang mulai bergemuruh di dalam dada.


"Lebih baik kau bawa pergi wanita aneh itu, entah dari mana kau memungut," sambung William.


Alexander berbalik dan meninggalkan William kembali, tetapi sejenak ia menghentikan langkahnya sebelum benar-benar pergi dari ambang pintu.


"Sungguh malang nasib rakyat negri ini, memiliki pemimpin yang hanya memikirkan perasaannya sendiri. Lantas, kau juga tidak tahu, kan, rasanya dicibir karena menjadi anak haram seumur hidup?" Alexander tersenyum miris ambil menutup pintu kamar William, meninggalkan sang putra mahkota sendirian dengan segala spekulasi yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2