My Favorite Prince

My Favorite Prince
Dokumen Rahasia


__ADS_3

Rossy termenung dan terus berjalan di taman yang terletak di Istana Bintang. Kakinya melangkah menuju rumah kaca yang baru saja semalam menjadi saksi bisu pernyataan di antara dirinya dan Alexander.


Rasa sentuhan dan kehangatan yang diberikan oleh Alexander, bahkan aroma tubuh sang pangeran pun masih jelas Rossy rasakan sampai saat itu. Namun, mengapa Alexander harus pergi tanpa berpamitan dengannya terlebih dahulu? Sikapnya sungguh membuat Rossy berat untuk melangkah menyelesaikan tugasnya di dunia fantasi tersebut.


Rossy menyentuh bunga mawar putih yang bermekaran di rumah kaca tersebut. Warnanya kembali mengingatkan pada sosok sang pangeran yang telah mengusik kedamaian hatinya.


"Maaf Nona, sebentar lagi anda harus mengunjungi kediaman Marquess Nore," ucap Adele yang baru saja menyusul Rossy,  gadis itu juga membawa sepasang sepatu dan selendang untuk menutupi tubuh Rossy yang saat ini masih mengenakan gaun tidur.


Rossy menghela napasnya, sesungguhnya perasaannya sedang tidak baik dan membuatnya tidak ingin melakukan apapun pada hari itu. Namun janji adalah janji, dia harus datang agar tidak mengecewakan Lady Nore.


"Baiklah, bantu saya bersiap," ucap Rossy.


Riasan yang semakin menonjolkan kecantikan Rossy, dipadu dengan gaun berwarna merah. Rossy keluar dari dalam kamarnya dan seketika disambut oleh William yang sudah menunggu di depan pintu.


"Salam untuk Matahari kecil kekaisaran," ucap Rossy  memberikan salam hormat.


Penampilan William yang berubah bak putra mahkota pada umumnya, tak jua membuat Rossy terpana akan paras tampan pria berambut pirang itu.


Rossy bahkan tak sekalipun menatap wajah William yang jauh terlihat lebih baik dibandingkan saat mereka pertama bertemu.


"Hari ini pun anda terlihat cantik, Lady," ucap William.


"Ada perlu apa Yang Mulia jauh-jauh menemui saya?"

__ADS_1


"Saya hanya ingin mengajak anda untuk berjalan-jalan di festival musim semi, apakah sore hari Lady memiliki waktu luang?" tanya William.


"Ya, saya memiliki waktu luang," jawab Rossy yang tidak bisa menolak keinginan seorang putra mahkota.


William tersenyum sumringah, matanya tampak berbinar saat mendengar jawaban dari Rossy.


"Terima kasih, Lady."


***


'Yang Mulia, saya mendapatkan informasi tentang perpindahan dimensi. Semua terdapat di sebuah buku kuno pada menara sihir, tetapi kami tidak bisa melakukan apapun karena buku tersebut hanya dapat dibuka oleh penyihir tingkat tinggi. Bukan hanya itu, buku tersebut tidak dapat dibawa keluar dari menara sihir '


Pesan yang diberikan oleh para penyihir tingkat menengah pun seakan menjadi angin segar bagi Alexander. Pria tampan bersurai silver itu kian memacu kuda yang ia tanggungi tiada henti, berharap jika dirinya bisa lekas sampai tanpa harus memakan waktu yang lama.


"Aku mohon tunggu aku," gumam Alexander dengan harapan yang kian membesar.


"Ada apa ini?" tanya Alexander kepada seorang pria yang diduga adalah seorang kusir.


Pria itu pun menoleh lalu berkata, "Rodanya lepas karena guncangan terlalu parah dan muatan terlalu banyak," jawabnya.


"Biar saya bantu." Alexander menawarkan bantu atas dasar kemanusiaan, dan dengan senang hati diterima oleh kusir tersebut. 


Keduanya pun tampak sibuk melakukan perbaikan hingga tiba-tiba saja segerombolan pria mencurigakan muncul tepat dibelakang Alexander.

__ADS_1


"Hallo, Yang Mulia!" ucap seorang Pria seraya mengayunkan pedang yang berada di tangannya.


***


Rossy terus termenung di dalam kereta kuda, sedari tadi pikirannya sama sekali belum teralihkan dari Alexander.


Rossy menatap pemandangan ibukota yang ramai akan aktivitas para penduduk, pemandangan yang sama seperti saat dirinya dan Alexander berjalan-jalan keluar dari Istana.


Dua puluh menit lamanya dengan menaiki sebuah kereta kuda, akhirnya kini dirinya sampai di sebuah mansion yang cukup mewah dan megah.


Tiga orang ksatria keluarga seketika membukakan pagar yang menjulang tinggi, mempersilahkan kereta kencana berlambangkan kekaisaran itu untuk masuk dan mendekat ke arah bangunan utama.


"Selamat datang, Lady Rossy. Merupakan suatu kehormatan bagi keluarga kami untuk menyambut kedatangan anda," ucap Marquess Nore ramah.


Di belakangnya berdiri Isabella yang hanya tersenyum seakan dirinya masih merasa malu pada Rossy, mengingat selama ini ia selalu berbuat jahat pada Rossy bahkan terus menerus mencibirnya.


"Terima kasih atas undangannya Tuan Marquess Nore. Ada sedikit buah tangan dari saya, mohon diterima," ucap Rossy seraya menyerahkan sebuah hadiah sebagai bentuk menghormati keluarga Marquess Nore.


Marquess Nore tersenyum dan menerima buah tangan yang diberikan oleh Rossy untuknya. Ia pun mempersilahkan Rossy untuk masuk ke dalam kediamannya lalu menghidangkan teh dan berbagai macam kue.


"Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas bantuan Lady untuk anak saya," ucap Marquess Nore.


Isabella buang sedari tadi hanya diam pun kini menatap Rossy lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan memberikannya pada Rossy.

__ADS_1


"Maafkan saya atas semua kesalahan yang saya perbuat pada Lady. Lalu saya ingin menyerahkan dokumen ini pada Lady, semoga bisa membantu."


Rossy yang tak paham hanya bisa mengerutkan keningnya, ia pun menerima dokumen tersebut dan bertanya, "Apa ini Lady?"


__ADS_2