My Favorite Prince

My Favorite Prince
Setuju


__ADS_3

"Kopi bukan hanya bisa dijadikan minuman, tetapi bisa dibuat cake ataupun campuran rasa ice cream. Bukan hanya itu saja minuman kopi bisa di variasi berbagai macam rasa, atau dari segi kecantikan kita bisa membuat parfum aroma kopi, masker wajah atau lulur kopi."


Rossy menegaskan seluruh ide yang ada di dalam kepalanya dengan menggebu-gebu. Bagaimana tidak, sepintas saja ia sudah membayangkan betapa banyaknya keuntungan yang akan diraup jika bisa membalik rasa tidak suka masyarakat akan kopi.


"Sebelumnya kita harus memanggil ahli ataupun petani kopi untuk menjelaskan jenis dan karakteristiknya, patissier terbaik yang mampu mengolah kopi menjadi beberapa hidangan penutup. Bukan itu saja, kita harus menciptakan seorang yang ahli meracik kopi menjadi berbagai minuman, dan juga para alkimia untuk membuat parfum, perawatan kulit dan wajah yang berbahan dasar kopi," sambung Rossy bersemangat.


Alexander mencoba mencerna seluruh ide yang dituangkan oleh Rossy. Ibu kota kekaisaran memang tengah dilanda krisis tenaga kerjaan akibat jumlah transmigran yang melonjak, hal tersebut banyak menimbulkan berbagai polemik dan juga meningkatkan angka kriminalitas.


"Aku setuju, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke laboratorium tempat para alkimia di ibukota? Selanjutnya besok aku akan mencari patissier terbaik di wilayah kekaisaran," ujar Alexander menanggapi.


Jawaban yang ia terima sontak membuat Rossy kian tersenyum sumringah, seandainya saja ia tidak tengah dalam pengaruh sihir penyamaran, Alexander pasti akan terhanyut akan binar lensa mata milik Rossy yang bagaikan langit malam.


Semakin hari ia mengenal gadis itu, Alexander menyadari jika dirinya kian terpikat akan kepribadian Rossy yang cukup unik. Gadis itu benar-benar tidak terbaca, dan bisa merubah sikapnya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tengah ia hadapi.


Ada kalanya gadis itu terlihat ceria, konyol, dan menyenangkan namun, ada kalanya juga Rossy terlihat kejam seolah menjadi manusia yang tidak memiliki perasaan.


Alexander semakin dibuat penasaran akan latar belakang yang membuat koribadian Rossy seperti itu. Tetapi satu yang ia sadari, jika gadis itu sudah melewati banyak hal di hidupnya, yang membuat dirinya harus cepat beradaptasi dengan baik.


Setelah sepakat kini mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju sebuah laboratorium yang terletak di distrik St Loise, dimana tempat sektor penting dan berbatasan dengan wilayah pemukiman sebagian para bangsawan yang menetap di ibu kota.


"Rossy, bisa tolong genggam tanganku sebentar?" pinta Alexander seraya mengulurkan tangannya.


Dengan cepat Rossy menganggu lalu menggenggam tangan Alexander yang putih bagaikan salju.


Rasa hangat perlahan menyelimuti tubuh gadis itu, nampaknya Alexander tengah memberikan sihir yang membuat tubuh Rossy merasakan hangat walaupun suhu udara nyaris melampaui titik beku.


"Bagaimana? Sudah lebih hangat?" tanya Alexander memastikan.


"Kamu sudah tiga kali menyalurkan sihir penghangat kepadaku. Rasa ini bukan sekedar hangat lagi, tapi sekarang aku merasa seolah tengah berjemur di bawah sinar matahari," protes Rossy akan sikap Alexander yang berlebihan pasca kejadian dirinya nyaris mengalami hipotermia.

__ADS_1


"Jangan menggerutu terus, Lady-ku."


Deg!


Detak jantung Rossy tiba-tiba saja berdetak kencang, selaras dengan Roma merah yang semakin terlihat di kedua pipinya yang berwarna kuning langsat. Rasa menggelitik bak ribuan kupu-kupu beterbangan di dadanya, terasa aneh sekaligus membuat dirinya salah tingkah.


Wajah Alexander yang tampan pun semakin membuat gadis itu merasakan sesuatu meletup-letup di hati yang tak sanggup ia artikan.


"Anda ini, ya!" seru Rossy sambil memalingkan wajahnya.


Kuda yang mereka tunggangi mulai berjalan melewati jalanan yang beralaskan salju. Beruntung hari itu cuaca cukup cerah, dan salju tak turun dengan lebat hingga mereka leluasa untuk berpergian kemanapun mereka mau tanpa hambatan.


Perjalanan menuju laboratorium para alkimia pun sesuai dengan waktu tempuh mereka, bahkan pertemuan mereka pun berjalan dengan sangat lancar. Gagasan yang dicetuskan oleh Rossy tentu saja disambut positif dan menjadi awal baik untuk menaikan kepercayaan padanya.


Kini mereka hendak kembali sambil menunggangi kuda secara santai, menikmati suasana sambil bercengkerama dan bersenda gurau satu sama lainnya.


"Jika kamu sangat senang, selanjutnya aku akan lebih sering membawamu berkeliling," jawab  Alexander tersenyum.


Rossy tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, " Baiklah, aku anggap ini adalah sebuah janjimu untukku."


"Rossy, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Alexander sambil memacu kudanya dengan kecepatan lambat, menyelaraskan dengan kecepatan kuda yang di tunggangi oleh Rossy.


Dengan pandangan yang masih berfokus menatap jalanan di depannya, Rossy pun menjawab pertanyaan dari Alexander dengan tenang.


"Tentu saja, silahkan menanyakan apapun. Selama aku bisa menjawabnya maka akan aku jawab."


"Apakah semua ide tadi berasal dari duniamu?" tanyanya ragu-ragu, takut jika Rossy tersinggung karena pertanyaan dari dirinya.


Tanpa Alexander duga, Rossy tertawa kecil. Jangankan tersinggung, bahkan Rossy pun menjawab pertanyaan tersebut dengan mudahnya.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Aku mencari sesuatu yang tidak sulit, dan aku rasa bisa diterapkan disini. Kopi di duniaku adalah salah satu minuman terfavorit yang banyak penggemarnya dari berbagai kalangan dan usia," ungkap Rossy.


"Sungguh? Aku sangat penasaran dengan duniamu. Seandainya aku bisa kesana, mungkin sangat menyenangkan."


"Benar, seandainya saja bisa, aku juga sangat ingin menunjukkan duniaku pada dirimu."


Secara tiba-tiba Rossy menghentikan langkah kudanya, hal tersebut tentu saja membuat Alexander terkejut dan turut menghentikan kuda yang tengah ia tunggangi.


"Alex, lihatlah!"


"Ada apa?" tanya Alexander penasaran.


Jari telunjuk Rossy menunjuk ke arah seorang wanita yang memakai tudung hitam, wanita tersebut keluar dari sebuah mansion mewah lalu menaiki sebuah kereta kuda usang.


"Aku yakin itu Adele! Aku tadi lihat sekilas wajahnya," seru Rossy berbisik.


"Adele?"


Alexander mengerutkan keningnya, menatap Rossy yang seakan tengah memikirkan sesuatu.


"Rossy, kamu yakin itu Adele. Buat apa dia keluar dari mansion Duke Ferus?" sambung Alexander kembali.


"Duke Ferus?"


"Ya, Robert Ferus. Sepertinya aku harus menyelidiki gadis itu lagi, Rossy tolong berhati-hatilah dengannya."


Seakan tengah menyadari sesuatu yang salah, seketika Rossy membulatkan matanya.


Rossy menggenggam lengan Alexander dan berkata, "Kita harus segera kembali ke Istana!"

__ADS_1


__ADS_2