My Favorite Prince

My Favorite Prince
Penampilan Baru


__ADS_3

Baru dua jam bersama dengan Rossy sudah membuat William sangat lelah. Tingkah laku gadis itu yang seenaknya dan juga konyol membuat dirinya pasrah diperlakukan seperti apapun oleh Rossy.


Kehadiran gadis itu seakan telah mengisi hari-harinya yang terasa kosong.


William menghela napasnya, sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut karena perbuatan Rossy. Bahkan gadis itu sepertinya sudah melupakan etika di dalam istana, atau bahkan melupakan jika William adalah seorang putra mahkota yang tidak bisa diperlakukan sesuka hatinya. 


Brak!


"Yang mulia! Saya kembali!" pekiknya dengan suara lantang dan raut wajah riang gembira.


Bukan hanya membuka pintu kamar William dengan kasar, bahkan gadis itu tampak membawa gunting rambut di tangannya.


Tingkah laku Rossy sontak membuat William membeku dan kehilangan kata-kata.


"M-mau apa kau?" tanya William panik terlebih saat Rossy yang berjalan mendekat padanya sambil memainkan gunting yang ia bawa.


Gadis itu tersenyum seringai, menatap seluruh tubuh William dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"He-he-he duren," gumam Rossy sambil terus terkekeh.

__ADS_1


*duren \= Duda keren.


"K-kau sudah tidak waras? A-aku akan berteriak memanggil penjaga!" ancam William, tetapi sepertinya Rossy sama sekali tidak peduli, gadis itu terus saja mendekati William yang panik.


"Enaknya di potong model apa ya?" Rossy masih saja bermonolog sendiri.


Suasana salah paham itu berlangsung cukup lama, tiap satu langkah Rossy berjalan maju, maka selangkah pula sang putra mahkota melangkah mundur. Wajah putra mahkota benar-benar pucat mengingat jika dirinya juga kurang bisa menguasai ilmu bela diri.


"Berhenti! Mau apa kau?"


"Mau potong rambut Yang Mulia! Lihat saja, rambut anda sudah tidak terurus seperti itu! Hmmm ... kira-kira model apa yang cocok ya? Botak, Polem, cepak atau cepmek?" jawab Rossy yang masih terus mengamati wajah William.


"Cepmek, Yang Mulia! Cepmek! Anda tenang saja, begini-begini saya berpengalaman memangkas rambut para pekerja saya yang tidak disiplin!" Rossy tersenyum seringai sambil menggoyangkan gunting yang ia bawa. Putra Mahkota yang tentu saja tidak percaya dengan kemampuan gadis itu seketika merinding kala membayangkan wajahnya setelah rambutnya dipangkas asal-asalan oleh Rossy.


"Tidak! Lebih baik panggil pemangkas rambut istana, saya tidak mau jika kau yang mengerjakannya!"


He-he-he


Rossy tertawa puas dalam hati, akhirnya setelah satu tahun sang matahari muda kekaisaran tak mau mengurus dirinya, hari ini William berpasrah untuk memperbaiki penampilannya. Rambut panjang acak-acakan bahkan dengan wajah yang berkumis dan berjenggot, benar-benar membuat Rossy risih saat melihat putra mahkota.

__ADS_1


"Baiklah, Yang Mulia! Saya akan segera membawanya ke sini! Setelah ini, saya juga akan membawakan camilan tinggi kalori, agar anda tidak terbang lagi jika terhembus angin," ucap Rossy dengan semangat sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya.


Setelah memastikan jika gadis itu benar-benar telah pergi, seketika William mengembuskan napasnya kasar sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah satu tahun lamanya, hari itu benar-benar menjadi hari yang berat baginya. Entah apalagi rencana yang akan Rossy lakukan, membayangkannya saja sudah membuat William semakin sakit kepala.


***


Suara langkah kaki terdengar menggema di salah satu koridor menuju ruang kerja Pangeran Alexander.


Pintu tiba-tiba terbuka membuat sang pangeran yang sedang berkutat dengan pekerjaannya sontak mengalihkan pandangan.


"Alex!"


"Bisa tidak jika kau mengetuk pintu dulu?" ucap Alexander.


Alexander yang baru menyadari sesuatu seketika mengedipkan matanya beberapa kali, seolah memastikan jika penglihatannya tidak keliru.


"Ha-ha-ha ... apa yang terjadi?" tanya Alexander dengan gelak tawanya melihat penampilan baru Putra Mahkota.


"Yang mulia? Anda dimana?"

__ADS_1


Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara seorang wanita, sontak saja William segera berlari dan bersembunyi di balik meja kerja Alexander seraya berbisik, "Tolong jangan katakan aku di sini! Aku rasa aku bisa gila!"


__ADS_2