My Favorite Prince

My Favorite Prince
Persidangan


__ADS_3

"Duke, walaupun nyawa saya sudah berada di ujung tanduk sekalipun, saya tidak akan pernah berpikiran untuk bergabung bersama anda. Daripada membuang waktu anda yang sangat berharga, alangkah lebih baik jika anda tidak perlu repot-repot mengusik saya." Marquess Nore dengan acuh berkata tanpa melihat ke arah Robert yang mendekat padanya.


Pria itu sama sekali tidak peduli dan tak menunjukkan kesopanannya walaupun status bangsawan Robert berada di atasnya. Entah mengapa, rasa percaya akan perkataan Rossy membuat hatinya menjadi jauh lebih tenang, dan semakin meyakinkan Marquess Nore harus berpihak ke mana


Sikap dan perkataan Marquess Nore tentu saja memancing kemarahan Robert. Namun, sayangnya para bangsawan lain mulai berdatangan dan menandakan jika pengadilan akan segera dimulai.


"Dasar sombong, kita lihat saja nanti! Apakah keluarga kekaisaran akan berpihak pada putrimu atau menghancurkannya menjadi bagian kecil," cibir Robert lalu berjalan menjauhi Marquess Nore yang masih tersenyum dan tenang.


Putra Mahkota dan Rossy pun mulai memasuki area persidangan, di susul oleh Pangeran Alexander di belakangnya.


Semua tampak berbisik dengan kedatangan William dan Rossy yang tidak seperti biasanya, karena tampak William menggandeng Rossy entah sebagai maksud kesopanan ataukah ada maksud tertentu lainnya.


Wajah Rossy terlihat tidak senyaman biasanya, tetapi dirinya harus tetap terlihat tenang dan menahan diri agar tidak menoleh ke belakang untuk melihat Alexander.


Persidangan pun di buka, dan berjalan dengan cukup lancar.

__ADS_1


Selama berlangsungnya persidangan terlihat Isabella hanya diam tanpa membela diri sedikitpun. Gadis itu seakan sudah berserah diri dan mengakui seluruh kesalahan yang ia perbuat.


Satu jam berlalu tanpa ada pihak yang saling menyerang, hingga keputusan yang diambil Putra Mahkota membuat seluruh kekaisaran tercengang.


Saat nasib Isabella berada di ujung tanduk karena nyaris meracuni Rossy secara sengaja, William menggunakan hak vetonya sebagai putra mahkota untuk menyelamatkan nasib gadis itu.


Hak veto adalah satu-satunya gak yang digunakan sekali seumur hidup untuk membela seseorang di pengadilan, oleh kaisar ataupun pewaris yang akan segera menduduki takhta teratas kekaisaran.


Hal itu pula menandakan jika William mendeklarasikan jika dirinya telah siap untuk meninggalkan status sebagai seorang putra mahkota, dan akan naik menjadi seorang Kaisar.


"Dengan adanya hak Veto dari Yang Mulia Putra Mahkota, dengan ini Lady Isabella Antonius Nore dibebaskan dari segala tuntutan dan hukuman yang membelitnya."


Tok! Tok! Tok!


Palu sang hakim tiga kali terketuk tanda berakhirnya persidangan. Isabella yang tidak menyangka jika dirinya terbebas dari hukuman penggal, seketika bersimpuh dan menangis seraya mengucapkan kata syukur.

__ADS_1


Marquess Nore tanpa segan memeluk putrinya yang terlihat lebih kurus dan lusuh dari sebelumnya. Kasih sayangnya yang begitu besar pada Isabella sangat terlihat hingga menyentuh hati siapapun yang menyaksikannya.


"Sial!" umpat Robert lalu melangkah keluar meninggalkan ruangan persidangan.


Satu persatu bangsawan mulai meninggalkan Kastil, menyisakan keluarga Marquess Nore dan juga keluarga kekaisaran.


Isabella seketika berlari menghampiri Rossy dan berlutut seraya meminta maaf dan berterima kasih atas kemurahan hati Rossy.


"Sudahlah, Saya tahu jika anda tidak seburuk itu dan saya percaya anda akan berubah menjadi lebih baik lagi," ujar Rossy tersenyum.


"Terima kasih, Lady Rossy. Saya dan anak saya benar-benar meminta maaf atas semua yang terjadi. Saya bersumpah akan menjadi perisai kekaisaran seumur hidup saya," ucap Marquess Nore sungguh-sungguh.


Setelah semuanya meninggalkan kastil, kini Rossy bisa menghela napas lega. Beban yang selama ini menjeratnya seakan hilang tanpa tersisa.


Namun tiba-tiba, seseorang menggenggam lengannya dari arah belakang. Sontak saja Rossy menoleh dan melihat Alexander yang berkata, "Saya ingin bicara padamu, Lady!"

__ADS_1


__ADS_2