
"Sialan, begini saja tidak bisa! Percuma aku membayar mahal kalian jika menyingkirkan dua lalat pengganggu saja kalian tidak becus!"
BRAK!
Sebuah guci langsung pecah seketika kala Robert melemparkannya dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Pria paruh baya itu murka hingga wajahnya terlihat memerah dengan urat-urat syaraf yang terlihat menonjol.
"Maafkan saya, Tuan. D-dia membawa pedang yang membuat saya tidak bisa melewati batas untuk melawannya."
"Dasar tidak berguna! Rasanya aku ingin segera menghabisimu, tapi sayang sekali karena sekarang aku masih membutuhkan pecundang seperti kau!" seru Robert.
Pria itu menepuk tangannya beberapa kali hingga tiba-tiba saja muncul tiga orang bertudung hitam dengan pedang yang mereka bawa masing-masing. Pria tersebut memasuki ruang kerja Robert dari jendela yang memang sengaja dibiarkan terbuka olehnya.
"Hei pecundang, kau bantu mereka cari manusia pengganggu itu!"
***
Sudah hampir satu jam lamanya Alexander dan juga Rossy mengitari seluruh tempat perdagangan di wilayah ibukota. Hal ini membuat Rossy merasa jika mereka bukan seperti sedang berkencan, tetapi lebih tepat terlihat seperti tengah melakukan inspeksi dadakan.
Alexander pun dengan teliti mendengarkan keluh kesah pedagang kecil, ataupun para kaum jelata yang kesulitan dalam faktor ekonomi.
"Kenapa, kamu lelah?" tanya Alexander saat menyadari jika Rossy terus menerus menatap dirinya.
"Tidak, aku sama sekali tidak lelah. Alex, apakah kamu melakukan ini setiap bulan? Mengapa tidak menitahkan seseorang saja?"
Alexander menghela napasnya berat, sebelum akhirnya ia pun menjawab, "Aku lebih puas mendengarkan keluh kesah mereka sendiri, sehingga aku bisa memikirkannya dengan tepat solusi permasalahan untuk mereka masing-masing. Setidaknya aku bersyukur karena bulan ini aku mendapatkan keluhan lebih sedikit dari bulan kemarin, itu semua berarti jika solusi yang aku berikan sebelumnya benar-benar efektif untuk mereka."
Senyuman kembali tersemat pada wajah Rossy. Walaupun ia sangat mengetahui jika Alexander sangat tidak suka terlibat dalam urusan pemerintahan, tetapi sikap tanggung jawab yang dimilikinya membuat ia harus turun tangan sendiri menanggung beban yang sebenarnya adalah milik sang putra mahkota.
Rossy berpikir, jika bukan hanya putra mahkota lah yang terluka karena meninggalnya putri mahkota dan juga kaisar sebelumnya. Tetapi Alexander terlihat lebih tenang dan mampu menyembunyikan kesedihannya, pria itu bahkan terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab. Sehingga hal tersebut tak lantas membuat dirinya seperti Willam yang terus menerus tenggelam dalam duka dan menutup matanya akan tanggung jawabnya sebagai calon Kaisar.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rossy saat melihat Alexander tertawa kecil sambil menatapnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Alexander mencubit pipi Rossy lalu berkata, "Wajahmu lucu jika sedang memikirkan sesuatu. Kamu memikirkan apa? Tanyakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal."
"Tidak apa-apa, aku hanya kesal saja dengan si putra mahkota cengeng itu. Karena dia, kau jadi harus mengerjakan pekerjaan yang bukan tanggung jawab kamu," gerutu Rossy.
"Tidak apa, jika dia sudah pulih maka aku bisa kembali ke menara sihir dan melepaskan semuanya. Rossy, apakah kau tahu, jika disana terdapat taman bunga yang sepenuhnya terbuat dari es? Kalau ada kesempatan aku ingin sekali menunjukkan kepadamu," ucapnya.
"Aku ingin melihatnya, tapi kau tahu sendiri jika aku tidak bisa terkena udara dingin terlalu lama."
"Kamu tidak akan pernah merasakan dingin ketika berada di sampingku, karena aku akan menghangatkan kamu," jawab Alexander yang berhasil membuat tawa Rossy seketika pecah saat itu juga.
Rossy mulai mengatur napasnya, lalu kembali menanggapi perkataan dari Alexander yang terdengar rancu bagi dirinya.
"Oh Yang Mulia, tolong jangan berkata sesuatu buang bisa menimbulkan sebuah kesalahan pahaman. Aku tidak bisa mengartikan makna positif loh," ucap Rossy terkekeh.
Merekapun tenggelam dalam canda tawa, manghangatkan suasana kala salju terus turun tiada henti. Namun tiba-tiba kehangatan itupun sirna dalam sekejap mata.
Alexander sontak menarik pedang miliknya, berusaha melindungi Rossy dari orang-orang yang tiba-tiba mengepung mereka.
'Robert, sialan! Apakah dia memang ingin menumbalkan kami?'
Salah satu pembunuh bayaran itu mengumpat dalam hatinya, tetapi dirinya harus tetap melakukan perintah karena sudah terikat perjanjian darah oleh Robert.
"Kau!" Alexander menangkap sosok pria yang ia kenal di balik sebuah pohon sambil sesekali mengintip dirinya. Sorot matanya menatap tajam seorang pria yang tengah bersembunyi di balik sebuah pohon tersebut.
Hak itu membuat dirinya tersenyum seringai kala mengetahui jika pria tersebut adalah salah satu pemungut pajak yang berada di bawah naungan Duke Robert.
"Tikus yang di balik pohon itu, akan aku serahkan padamu! Silahkan bermain-main dengannya sesuka hatimu," ujar Alexander kepada Rossy yang dijawab oleh sebuah senyuman lebar gadis itu.
Dengan lihai gadis itu melompat seraya meraih sebilah pedang pendek yang ia selipkan pada pangkal pahanya, begitu pula Alexander yang tak segan langsung memainkan pedangnya, melawan seluruh pembunuh bayaran yang menargetkan dirinya.
"Hei, kita bertemu lagi!" Rossy tersenyum seroang sambil menepuk pundak pria yang tengah gemetar mengintip Alexander. Gadis itu menodongkan pedang pendek yang ia bawa tepat di leher pria itu tanpa rasa ragu sedikitpun, sorot matanya tajam dan seketika membuat pria berbadan kekar tersebut tampak ketakutan.
__ADS_1
"Wanita gila!"
"Gila kau bilang? Aku yang gila atau kau yang gila telah berani mencari masalah dengan kami?" jawab Rossy mengejek.
"Kau pikir aku akan takut padamu? Kau hanyalah seorang wanita rendahan!" cerca pria itu yang berusaha menutupi perasaan takut yang tengah ia rasakan.
"Oh ya, mari kita buktikan!"
Senyuman Rossy terlihat lebar tetapi cukup membuat pria itu merinding hanya karena melihatnya. Rossy mengayun-ayunkan pedangnya sembarangan, sebelum pada akhirnya benar-benar menghabisi pria itu dengan sekali tebasan.
Dari kejauhan Rossy melihat Alexander yang masih terus bertarung, dalam waktu singkat sang pangeran yang merupakan penyihir dan ahli pedang itu pun menaklukan para pembunuh bayaran dan menyisakannya seorang saja.
"Rossy, apa yang akan kita pada sisa sampah ini?" tanya Alexander setelah memojokkan seorang pembunuh bayaran yang tersisa hingga tak mampu untuk berkutik lagi.
Rossy tertawa kecil, gadis itu menonton dengan tenang di atas batang pohon yang mulai diselimuti salju. Perlahan warna hitam rambut dan juga lensa warna Rossy mulai berangsur kembali, membuat Alexander kian tersenyum dan terpesona dibuatnya.
Deg!
'Warna hitam itu benar-benar membuatku gila. Apakah hitam memang seindah itu?'' Alexander bergumam di dalam hatinya menatap warna hitam pekat surai gadis yang terlihat kontras dengan hamparan salju.
Sedangkan Rossy mengangkat sebelah alisnya gadis itu tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "Kita biarkan saja hidup agar mengadu pada Tuannya!"
"Tapi, bagaimana kalau itu akan menjadi bahaya untuk diri kita sendiri?" tanyanya.
Gadis itu melompat dari atas pohon lalu berjalan menuju Alexander. Dengan santainya ia mendekat lalu berbisik tepat di telinga sang pangeran.
"Aku akan selalu merasa aman jika tetap di sisi Anda, Yang Mulia," ucapnya yang berhasil memporak-porandakan hati Alexander.
Alexander berusaha kembali fokus setelah mendapatkan serangan mental dari Rossy. Tanpa rasa segan melihat musuh yang sudah memohon, pria itu pun melukai sebelah mata serta menebas sebelah tangan pembunuh bayaran tersebut, lalu membiarkannya pergi berlari pontang-panting sambil menahan rasa sakit.
"Duke Robert ya, sepertinya kita harus melakukan sesuatu pada orang tersebut," ucap Rossy.
__ADS_1
"Ya, dan sepertinya mulai hari ini kau harus tetap berada di sisiku! Karena aku tidak akan membiarkan siapapun walau hanya menyentuh ujung rambutmu."