My Favorite Prince

My Favorite Prince
7. Isabella Antonius More


__ADS_3

"Apa? Pangeran Alexander membawa seorang wanita asing ke istana?"  Wanita yang memiliki warna rambut coklat kekuningan itu menatap para pelayan kediamannya yang sedang berbincang-bincang.


Wanita yang merupakan putri sulung dari keluarga bangsawan Marquess Nore itu tampak gusar, tak menerima jika pria yang sudah berkali-kali menolak lamarannya tersebut dengan dingin, tiba-tiba saja dengan mudah membawa gadis yang bahkan tidak diketahui identitasnya.


Harga dirinya seakan tercabik-cabik, tak segan dirinya melemparkan sebuah vas bunga ke sembarang arah, hingga membuat para pelayan tersebut ketakutan.


"Ayah!" pekiknya lalu berbalik.


Gadis berusia dua puluh satu tahun itu berjalan menuju ruang kerja ayahnya, sambil terus menerus berteriak dengan suara yang keras.


Tidak ada satupun yang berani menghalanginya, bahkan kepala pelayan yang telah mengabdi di kediamannya sekalipun.


Brak!


"Ayah! Ayah!" teriaknya setelah membuka ruang kerja Marquess Nore tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Perbuatan Gadis yang memiliki nama Isabella Antonius Nore itu sontak membuat Marquess menghela napasnya. Dilepaskannya kacamata yang dikenakan Marquess Nore dengan perlahan, lalu pria paruh baya itu pun menatap sang putri yang tengah merajuk di hadapannya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu harus berteriak seperti itu?" ucapnya dengan lembut.


"Ayah, apakah Pangeran Alexander sudah membalas surat permohonan pernikahan itu?" tanyanya.


"Yang Mulia baru saja kembali dan kau sudah menanyakannya. Sudahlah Isabel, lebih baik kau menyerah saja. Ayah akan mencarikan mu jodoh yang tak kalah lebih baik, misalkan seperti Duke muda Vincent," ucap Marquess Nore yang sudah lelah dengan sikap putrinya.


Sejak menginjak usia sembilan belas tahun, Isabella yang bertemu dengan Alexander untuk pertama kalinya langsung terobsesi pada laki-laki tersebut. Gadis itu bahkan menolak lamaran dari pria bangsawan manapun dan memilih mempertaruhkan harga dirinya demi melamar sang pangeran terlebih dahulu.


Marquess Nore tidak ingin Isabella terus menerus menjatuhkan harga dirinya, ia pun ingin sang putri sadar jika semua yang ia inginkan belum tentu akan terwujud seperti kehendaknya.


Brak!


Lagi-lagi hadis itu keluar dari ruang kerja ayahnya dengan penuh rasa kecewa. Gadis itupun berjalan ke arah kamarnya seraya mengigit-gigit kuku ibu jarinya karena terlalu memikirkan sesuatu.


"Aku tidak boleh tinggal diam, aku tidak akan membiarkan seorang wanita manapun yang mendekati Alexander-ku!"


***

__ADS_1


Rossy menatap kagum pemandangan di sekelilingnya ketika perlahan dirinya mulai melangkah memasuki bagian dalam istana.


Semuanya terlihat begitu megah dan sangat indah, persis seperti yang diceritakan pada novel yang ia baca.


"Ini adalah kamar Nona Maharani, Anda bisa beristirahat di sini," ucap James kala mengantarkan Rossy dengan seorang dayang yang mengikuti di belakangnya.


"Rossy, panggil saja aku dengan nama depanku. Karena kebetulan di negaraku memang jarang yang memakai nama keluarga, jadi anda bisa memanggilku Rossy," ucap Rossy sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.


Pria tua itu pun membalas senyuman Rossy lalu turut membalas jabatan tangan gadis itu.


"Baiklah Nona Rossy, Anda bisa memanggil saya James. Lalu Adele yang akan melayani anda selama berada di sini," ucapnya sebelum akhirnya berpamitan untuk undur diri pada gadis itu.


Rossy yang sudah sangat lelah sontak saja langsung masuk kedalam kamarnya. Kamar megah dengan interior yang mewah bergaya klasik membuat dirinya tak henti-hentinya memuji. Gadis itupun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Rossy pun menatap kosong langit-langit kamarnya sambil menghela napasnya


"Selanjutnya apa yang harus aku lakukan? Aku ingin cepat pulang, pekerjaanku masih sangat banyak di sana," gumamnya sampai pada akhirnya ia pun terlelap.

__ADS_1


__ADS_2