My Favorite Prince

My Favorite Prince
Robert Yang Murka


__ADS_3

Rossy memalingkan wajahnya dari putra mahkota, bahkan ia berupaya agar tatapan mata mereka tidak saling bertemu satu sama lainnya.


"Kenapa kamu diam? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, Lady?" tanya William dengan tatapan curiga.


Rossy yang terpojok terus memutar otaknya, mencari celah agar bisa keluar dari topik tersebut.


"Sudahlah, yang mulia karena ada hal yang lebih penting untuk segera diurus. Saya tidak ingin meninggalkan masalah berlarut-larut, dan saya pikir harus membereskan semuanya sebelum Anda naik takhta," sahut Rossy.


William terdiam sejenak seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Perkataan gadis itu ada benarnya juga, karena apapun yang terjadi antara Rossy dan juga Alexander, Rossy sudah memutuskan untuk menjadi permaisurinya saat ia naik takhta di posisi tertinggi kekaisaran.


'Ingatlah William! Kamu adalah Putra Mahkota dan satu-satunya penerus takhta Baginda. Kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan, walaupun harus merampasnya sekalipun, mengerti?'


'Baik, Ibu.'


Kilasan ingatan masa kecil William tiba-tiba saja berkelebat di dalam kepalanya. Masih terasa jelas di pendengarannya, bagaimana Permaisuri terdahulu selalu menekankan kalimat tersebut setiap hari pasca Alexander dibawa ke dalam Istana.


"Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Rossy yang mendapati William melamun.


Seketika William tersentak dan berusaha kembali menarik kesadarannya.


Diraihnya tangan Rossy dengan lembut lalu mengecupnya perlahan.

__ADS_1


"Aku akan mengurus berkas ini sebentar. Lalu bersiaplah karena hari ini kita akan berkencan!" seru William tanpa memperdulikan pendapat Rossy terlebih dahulu.


***


"Dasar tidak berguna!"


Suara bariton Duke Ferus terdengar menggelegar mengisi seluruh ruangan tempatnya berada. Para pelayan yang bekerja di dalam mansion miliknya hanya bisa diam dan berusaha menyembunyikan diri, takut jika mereka akan menjadi pelampiasan kekesalan dari seorang Robert.


Tidak berselang lama, tamu yang dinyanyikan olehnya pun tiba. Adele datang menghadap Duke dengan mengenakan jubah dan tudung berwarna hitam.


"Maaf atas keterlambatan saya, Tuan Duke!" ucap Adele seraya membungkukkan badannya untuk memberikan salam penghormatan.


"Kalian! Cepat ikuti aku!" titah Robert kepada kedua orang para prajurit bayaran dan juga Adele yang baru saja berada di sana.


"Saya sudah menjadi sponsor guild tempat kalian bernaung dan menghabiskan banyak uang untuk itu. Tetapi, apa yang saya dapatkan? Untuk sekedar menyingkirkan anak haram itu saja kalian tidak mampu!" Robert terlihat murka hingga wajahnya memerah. Bagaimana tidak, rencananya untuk menjebak dan membunuh Alexander kembali gagal untuk kesekian kalinya.


"Pembunuh bayaran atau prajurit bayaran tidak akan pernah mampu menandinginya kekuatan Pangeran Alexander. Bagaimana kalau kita mencari penyihir yang setidaknya memilik kekuatan nyaris setara dengan Pangeran?" ujar salah satu prajurit bayaran yang berada di sana.


Sebuah Vas bunga kecil yang terbuat dari porselen seketika melayang dan mengenai tembok di samping prajurit bayaran tersebut. Hal itu tentu saja membuat yang berada di sana terkejut dengan tempramen Duke Ferus yang buruk, semuanya begidik ngerti tak terkecuali dengan Adele.


"Dasar bodoh! Rendahan tak berotak! Kau pikir mudah menemukan seorang penyihir yang setara dengannya? Semua penyihir bahkan berada di kubu kekaisaran karena pengaruh anak haram itu!" serunya murka.

__ADS_1


Robert menjatuhkan dirinya si atas kursi kebesarannya, seraya memijat keningnya yang terasa berdenyut hebat.


"Lalu, kau anak Baron! Apa informasi yang kau dapatkan, nampaknya akhir-akhir ini kau terlalu menghayati peranmu sebagai dayang wanita itu."


Adele menelan salivanya dengan susah payah, seolah tenggorokannya tengah tercekik sesuatu. Ia terus berusaha untuk terlihat tenang walaupun perasaannya sangat gelisah dan ingin segera kembali ke Istana.


"Maafkan saya, Tuan Duke. Saya terpaksa melakukan ini agar tidak dicurigai. Karena pasca kejadian Lady Nore, keamanan di dalam istana diperketat, terutama orang-orang yang berhubungan langsung dengan Lady Rossy," jawab Adele memberikan alasan yang tampak masuk akal.


Adele menghela napasnya sejenak lalu mulai melanjutkan perkataannya dengan lugas.


"Saya mendapatkan kabar jika Yang Mulia Putra Mahkota sudah memutuskan untuk mengisi kekosongan takhta, lalu beliau juga meminta Lady Rossy untuk menjadi permaisurinya," jelas Adele kembali.


Robert menggenggam pena bulu ditangannya dengan sangat erat, hingga membuatnya terbelah menjadi dua. Giginya menggertak, menahan amarahnya yang kembali meluap.


"Bukankah ini semua akan menjadi lebih baik? Selepas Pangeran kembali, bisa saja ada pertumpahan darah karena merebutkan seorang wanita?" ucap Adele.


PRANG!


Lagi-lagi Robert yang sudah murka kembali memecahkan semua yang ada di dekatnya, peringainya sangatlah buruk selaras dengan ketamakannya yang seolah sudah menyerap hingga ke sumsum tulang belakang.


"Lebih baik kau tutup mulutmu, jika semudah itu memprovokasi Alexander maka aku tidak akan pernah berjumpa manusia tak berguna seperti kau!" cerca Robert yang membuat suasana semakin penuh tekanan.

__ADS_1


Salahbsatu prajurit bayaran yang lainnya tampak tersenyum lalu berkata, "Saya punya ide lain yang lebih baik, Tuan!"


__ADS_2