
Istana utama kekaisaran sudah dipenuhi para bangsawan yang datang. Hari ini adalah hari ya g sudah dinantikan para masyarakat. Dimana sang putra mahkota yang selama ini terdiam dalam kesedihan, kini sudah siap untuk memimpin dan naik takhta menggantikan ayahnya yang telah tiada.
Upacara penobatan putra mahkota berjalan dengan khidmat, begitu pula dengan rakyat kecil yang telah memenuhi ruas-ruas jalan dimana parade iring-iringan kaisar baru akan berlangsung.
William berjalan menuju kamar Rossy lalu menatap wajah Rossy yang masih terlelap dalam alam bawah sadarnya.
"Terima kasih atas segalanya. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hatimu yang selalu mendampingiku dan membuatku melupakan masa lalu," ucapnya seraya menyentuh dengan lembut helaian rambut Rossy.
William berusaha untuk tenang walaupun Rossy masih belum pulih dan sadarkan diri. Namun, demi janjinya dan juga demi mengadili Duke Ferus dengan otoritasnya yang mutlak, William harus segera naik takhta agar tak ada yang mampu mengusik diri ya dan orang-orangnya.
William meraih tangan Rossy yang masih terkulai lemas, lalu perlahan mengecupnya perlahan.
"Kumohon, segeralah bangun. Bukankah kamu ingin melihatku dinobatkan? Bangunlah calon permaisuriku," ucapnya kembali.
Adele yang melihat putra mahkota hanya bisa terdiam di sisi Rossy. Kesedihan terlihat jelas di mata William, tetapi pria itu tak ingin kembali terperosok pada lubang yang sama. Karena Rossy sudah banyak mengingatkannya jika William memiliki tanggung jawab atas nasib ribuan rakyat kekaisaran yang berada di genggamannya.
Dengan berat hati William meninggalkan Rossy bersama dengan Adele. Entah mengapa, hati ya terasa janggal dan berat. Keinginannya terus bersama gadis itu kian menguat, seakan dirinya tak akan bertemu dengan Rossy untuk selamanya.
"Yang Mulia, sudah waktunya!" ucap James yang datang menyusul William.
***
'Rossy! Buka matamu!'
__ADS_1
Suara misterius yang biasa ia dengan kini terasa berbeda dari sebelumnya. Suara yang biasanya menyebalkan itu kini terdengar sangat lembut dan menenangkan.
Perlahan Rossy membuka matanya, kini dirinya kembali berada di ruangan antah berantah seperti saat pertama kali dirinya hendak memasuki dunia novel. Samar-samar sosok seseorang berambut panjang terlihat di hadapan, sosok yang semakin lama semakin jelas lalu tersenyum di hadapannya.
"Siapa Anda?" tanya Rossy.
Rossy mengerutkan keningnya seakan dirinya tengah menerka sesuatu. Rambut silver panjang itu terasa tak asing, hingga semakin ia sadari sosok tersebut nyaris seperti Alexander namun dalam wujud seorang wanita.
"Aku adalah Anastasia, aku yang selama ini menemanimu dan membawamu ke dunia ini," ucapnya.
"Kenapa harus aku? Kenapa aku yang harus menjadi sasaranmu?" Sebuah pertanyaan sontak saja terlontar dari mulut Rossy. Pertanyaan yang selama ini hanya mampu ia pendam seorang diri, tanpa ada yang bisa menjawabnya.
Wanita itu tersenyum lalu menjawab perlahan, "Karena kamu adalah sosok yang ditakdirkan dewa untuk menyelamatkan hidup putraku."
"Putramu?" tanya Rossy yang semakin tak mengerti.
"Aku merelakannya karena aku sadar, jika aku tidak bisa bersanding dengan seseorang kaisar, bahkan tak pantas menjadi seorang selir sekalipun. Aku berusaha susah payah membesarkan putraku seorang diri, sampai suatu seketika kusadari jika semuanya di ambang batas. Aku memberanikan diri memohon ke istana agar putraku bisa diterima kehadirannya, setidaknya bisa mendapatkan kehidupan yang layak dari yang selama ini ia jalani," lanjutnya kembali mengungkapkan jalan hidup yang selama ini telah ia jalani.
Semua mulai jelas akan identitas wanita misterius yang telah menarik dirinya ke dalam dunia yang berbeda. Pada akhirnya ia pun berkata, "Apakah Anda ibu dari Alexander?"
"Ya, benar. Namun setelah itu saya mengerti jika kehidupan Alex akan sulit, Alex yang dicap sebagai anak haram tidak akan pernah mendapatkan perlakuan yang sama seperti William dan akan selamanya mendapatkan diskriminasi dalam hidupnya."
"Rossy, sesungguhnya saya musnah setelah berusaha mengambil jantung naga. Saya memohon pada dewa dan mempersembahkanya guna menawarkan sebuah perjanjian agar Alexander bisa bahagia dalam hidupnya, walaupun saya harus menjadi makhluk tanpa raga seperti ini yang mampu menembus antar batas dimensi. Itulah mengapa saya berusaha untuk mencegah Alexander naik takhta, karena walaupun ia telah menjadi seorang kaisar bijak sekalipun, hidup Alexander tidak akan pernah luput dari cibiran yang akan terus menggerogoti hatinya. Perlahan semua itu akan menghabisinya dan menenggelamkan jiwanya dalam kegelapan."
__ADS_1
Rossy tak mampu berkata-kata lagi mendengar apa yang baru saja ia dengarkan. Semua sama sekali terdengar tak masuk akal hingga sulit dicerna oleh akal dan logikanya. Masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, namun entah mengapa semuanya terasa sangat sulit terucapkan oleh bibirnya.
Hingga akhirnya wanita itu menyentuh tangan Rossy lalu menggenggamnya perlahan sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih telah memberikan cinta pada Alexander walaupun dalam waktu singkat. Sekarang semuanya telah usai," ungkapnya lalu menghilang dalam sekejap.
Rossy pun membuka matanya dengan napas terengah-engah. Hal itu sontak saja membuat Adele terkejut dan segera menghampiri dirinya.
"Nona! Nona sudah sadar! S-saya akan memanggilkan dokter istana!" seru Adele panik.
Rossy merasakan sesuatu yang aneh terjadi di tubuhnya. Tubuhnya benar-benar terasa ringan dan mulai mengeluarkan cahaya. Merasa ada yang tidak beres, ia pun segera bangkit dari ranjangnya dan berlari sekuat tenaga seolah fisiknya tengah baik-baik saja.
Hingga akhirnya berada di istana utama, tidak ada satu orangpun yang melarang dirinya masuk ke dalam ruangan penobatan. Rossy menyaksikan. bagaimana William dipasangkan sebuah mahkota di atas kepalanya lalu mengucapkan sumpah atas takhta yang sudah ia terima.
"Selamat Yang Mulia," gumam Rossy, tetapi tiba-tiba suaranya menggema bahkan terdengar di telinga William.
Sontak saja semua perhatian tertuju pada sosok Rossy. Angin yang berhembus lembut tiba-tiba aja menjadi lebih kuat dan mampu mengangkat gadis itu hingga melayang di udara.
"Rossy!" jerit William sambil berlari ke arah Rossy yang menatapnya sambil tersenyum.
Sementara itu Alexander terus memacu kudanya hingga masuk area istana. Ia pun segera melompat turun setelah melihat ada sesuatu yang membuat istana utama dipenuhi oleh para bangsawan.
Alexander berlari dengan sisa tenaga yang ia punya, seketika matanya terbelalak saat melihat Rossy yang melayang dengan bias cahaya membalut seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Rossy!" teriak Alexander.
Tetapi Rossy semakin terlihat samar seakan tinggal bayangannya saja yang tersisa. Alexander berusaha menggapai gadis yang ia cintai, tetapi semuanya sudah terlambat, Rossy sudah hilang tanpa jejak meninggalkan dirinya begitu saja.