
"Hah, a-apa?" tanya Rossy yang seolah tengah memastikan sesuatu.
Diam, sontak suasana seketika menjadi hening dan kikuk seakan mereka tengah sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Alexander menghela napasnya lalu
berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Sementara Rossy tampak gugup karena tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Ehmm ... Rossy, aku ingin menunjukkan sesuatu pada kamu," ucap Alexander.
"Ya, Alexander. Ada apa?"
Alexander tersenyum dan menjentikkan jemarinya, seketika terlihat samar-samar warna ungu terlihat di udara sekitar dirinya.
Helaian kelopak bunga mawar berwarna merah muda sontak turun secara ajaib, membuat Rossy terperangah dan terkagum-kagum atas keajaiban kecil yang diciptakan oleh Alexander.
"Astaga, setelah sampai lantai mereka menghilang!" seru Rossy dengan mata yang berbinar.
Senyuman dari gadis itu atas kemampuan sihirnya yang tak seberapa, cukup membuat seorang Alexander turut merasakan rasa bahagia. Seakan seluruh beban yang sudah sepekan ia pikul seorang diri sontak hilang tanpa tersisa sama sekali.
"Rossy, apakah kamu besok kamu bersedia pergi bersamaku?" tanya Alexander tiba-tiba.
"Mau!"
Tanpa berpikir dan ragu sama sekali Rossy langsung menjawab permintaan dari Alexander. Walaupun dirinya selalu mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakan sekalipun, tak ada keresahan yang membuatnya kapok untuk berpergian bersama sang pangeran.
__ADS_1
"Sungguh?" tanya Alexander kembali menegaskan.
"Iya, ya ampun aku itu bosan banget di sini. Ketemunya putra mahkota lagi, putra mahkota lagi! Kalau jalan-jalan aku juga gak merasa takut, karena aku percaya jika Yang Mulia pasti melindungiku."
Deg!
Detak jantung Alexander kembali berdebar dengan kencang, membuat pria itu semakin tak mengerti dengan apa yang tengah ia rasakan. Seakan perasaannya saat dulu bertemu dengan mendiang Putri mahkota terulang kembali, bahkan kali ini terasa lebih dari sebelumnya.
"Loh, wajah anda kok memerah?" goda Rossy sambil tertawa kecil menatap Alexander, sehingga sang pangeran berparas tampan itu sontak mengalihkan wajahnya sambil guna berusaha menutupi rona merah yang kian terlihat pada kulitnya yang seputih salju.
***
"Rossy! Rossy! Cepat ambilkan saya susu! Tidak panas dan tidak dingin, dengan madu dua puluh tetes!"
William berteriak dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka. Namun beberapa saat ia tunggu, tak ada jawaban yang biasanya terdengar.
"Yang Mulia, ada yang bisa saya bantu?"
Seorang pelayan wanita datang menemui William, karena bunyi tanda panggilan yang berasal dari kamar sang putra mahkota. Hal tersebut sontak membuat William mengerutkan keningnya dan bertanya, "Dimana gadis aneh itu?"
"Yang Mulia, apakah yang anda maksud adalah Lady Rossy?" tanyanya.
"Iya, siapa lagi? Di mana dia?" tanya William dengan nada suara yang sedikit membentak.
__ADS_1
Sontak saja pelayan wanita itu menundukkan kepalanya, merasa takut dengan sikap William yang seakan tengah marah kepadanya.
"Dimana dia?" tanya William sekali lagi dengan suara yang lebih meninggi.
DenganĀ bibir yang gemetar pelayan itupun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang penerus takhta.
"Saat Yang Mulia tengah tidur. Lady Rossy meminta izin untuk berjalan-jalan sebentar untuk melepas lelah," ungkapnya.
Tanpa menanggapi jawaban pelayan tersebut, atau sekedar berterima kasih, William segera bangkit lalu keluar dari kamarnya. Pria itu seakan tidak peduli jika dirinya hanya mengenakan seutas jubah tidur bahkan kala udara terasa dingin.
Matanya menelisik ke setiap sudut, mencari sosok Rossy yang tak kunjung ditemukan. Setiap ruangan ia periksa, bahkan William kembali bertanya pada siapapun yang ia temukan tentang keberadaan Rossy.
"Yang Mulia, Anda bisa sakit! Biar saya saja yang akan mencari Lady Rossy!" ucap James yang tidak sengaja bertemu dengan William.
Raut wajahnya tampak khawatir melihat William yang kembali bersikap tak seperti biasanya.
"Tidak! Kalau kau mau bantu silahkan, tapi jangan larang saya untuk mencari wanita aneh dan menyusahkan itu!" seru William.
'Aneh dan menyusahkan?'
James sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran William. Bagaimana mungkin gadis yang sangat membantu tersebut bisa dicap sebagai wanita yang aneh dan juga menyusahkan bagi William?
Sang putra mahkota yang memiliki rambut berwarna kuning keemasan itu kini berjalan di koridor menuju salah satu sudut dari taman istana. Sontak saja ekor matanya menangkap sosok yang tengah ia cari, wanita yang terlihat tersenyum lebar sambil berbincang dengan sang adik.
__ADS_1
Tersemat perasaan tak rela di hati William, langkah kakinya kian mendekat dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Rossy!"