
"Waktu kita sudah tidak banyak lagi, kita harus bertindak secepatnya sebelum kewarasan putra mahkota benar-benar kembali."
Suasana tegang terasa pekat di sebuah ruangan yang menjadi tempat perkumpulan rahasia para bangsawan pembelot.
Seorang pria paruh baya yang terlihat memimpin perkumpulan tersebut tambak berpikir keras, dengan jemari yang terus mengetuk-ngetuk meja.
"Ini semua karena kalian yang tidak becus menyingkirkan William!"
"Hei, jaga cara bicaramu! Siapa yang kau bilang tidak becus, asal kau tahu jika menghabisi Putra Mahkota lebih sulit dibandingkan menghabisi Kaisar!"
Perdebatan tak terelakkan lagi, mereka bahkan saling menyalahkan satu sama lainnya dan merasa benar atas tindakan mereka sendiri.
Semakin lama kondisi perdebatan itu kian menjadi-jadi, bahkan beberapa di antara mereka tak segan untuk bermain fisik.
"Sudah cukup! Harusnya kalian bercermin dan tidak saling menyalahkan!"
Suara Duke Robert sontak membuat semuanya terdiam, Robert menatap satu persatu mereka yang membuat ulah dengan tatapan yang tajam dan berkata, "Pantas saja kita selalu kalah jika otak kalian semua dungu seperti ini!"
Robert bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju ke arah jendela yang berada di sisi sebelah kanannya.
"William memang sangat sulit dihabisi karena perlindungan dari Alexander! Jalan satu-satunya kini adalah menghabisi Alexander terlebih dahulu, dengan begitu kita bisa segera menyingkirkan Putra mahkota," ucap Robert dengan pandangan mata menatap pemandangan di balik jendela.
"Tapi bagaimana caranya? Bukankah Duke sudah berkali-kali berusaha menyingkirkannya tapi selalu gagal? Alexander adalah seorang penyihir dan juga sword master, bukanlah suatu hal yang mudah untuk menghabisinya."
"Betul, terlebih kini gadis dalam ramalan itu telah muncul dan membuat semuanya menjadi semakin rumit. Dia bukanlah wanita biasa, menyingkirkannya juga bukanlah hal yang mudah."
Perkataan dari dua orang anggota cukup membuat Robert berpikir keras. Kemampuan yang dimiliki Rossy memang sudah ia buktikan sendiri, gadis itu bukan hanya pandai untuk membuat putra mahkota kembali bersosialisasi tetapi juga pandai bertarung, kehadirannya benar-benar menjadi duri yang membuat seluruh rencananya untuk menghancurkan mental putra mahkota menjadi kacau dan berantakan.
Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal seketika menyeringai dan berkata dengan kipas tangan yang menutupi sebagian wajahnya.
"Bagaimana kalau kita bermain halus. Bukankah menabur garam pada luka lebih terasa menyiksa? Dengan begitu mereka juga tidak memiliki bukti atas rencana kita saat ini."
***
"Rossy!"
Rossy dan Alexander tersentak saat mendengar suara William yang tiba-tiba mengganggu romantisme di antara mereka berdua.
Raut wajah gadis itu sontak saja berubah masam, lalu ia pun menoleh ke arah sumber suara.
"Ini masih waktunya kau bekerja, bukan untuk bermalas-malasan!" seru William dengan angkuhnya.
"Maafkan saya, Yang ... Mu ... lia Putra Mahkota yang terhormat! Saya hanya sedang beristirahat sejenak sambil menghirup udara segar," ucap Rossy sambil menekankan setiap kata yang ia lontarkan.
Sedangkan Alexander hanya tersenyum tanpa berkata sepatah katapun.
"Pandai sekali kamu ini berkilah! Memiliki satu dayang seperti kamu saja sudah membuat saya pusing. Sudah seenaknya, menyusahkan, bahkan tugas-tugas kamu saja tidak ada yang dikerjakan dengan benar! Sudahlah, cepat kembali! Saya tidak ingin mendengar apapun lagi," titah William yang langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Rossy.
__ADS_1
Sikap William yang menyebalkan lagi dan lagi selalu membuat gadis itu menghela napasnya. Bertingkah laku jauh berbeda dari dirinya yang asli bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk gadis itu. Rossy memejamkan matanya sejenak untuk kembali meyakinkan dirinya, bahwa ia harus bertahan agar bisa secepat kembali ke dunia asalnya.
Perlahan Rossy kembali menoleh ke arah Alexander sebelum ia kembali bekerja. Terlihat Alexander tersenyum hangat padanya, lalu secara tiba-tiba sang pangeran memberikan setangkai bunga mawar putih pada dirinya.
"Semangat ya!" seru Alexander.
"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Rossy seraya menerima bunga tersebut dan mengangguk.
"Rossy! Kamu ini siput atau kura-kura? Lama sekali!"
Teriakan William kembali membuat Rossy tersentak, gadis itu berdengus kesal lalu berlari tergopoh-gopoh menyusul William yang sudah berada jauh di depannya.
Sedangkan Alexander hanya menatap kepergian Rossy dengan senyuman tipis yang ia sunggingkan. Sorot matanya terlihat sayu bak tengah memikirkan sesuatu.
"Bolehkah kali ini aku sedikit serakah?"
***
"Adele, tidakkah ini terlihat berlebihan?"
Rossy tersentak menatap wajahnya dari pantulan sebuah cermin rias. Bagaimana tidak, kini wajahnya benar-benar terlihat pucat bak orang yang mengalami sakit parah.
"Ini paling cocok, Nona. Karena anda harus terlihat meyakinkan!" seru Adele sambil tersenyum sumringah.
Tawa kecil Rossy lontarkan kala melihat wajah bersemangat Adele. Gadis itu terlihat sangat senang bahkan hingga matanya tampak berbinar-binar.
"Hmmm ... itu karena aku ingin. Entah mengapa aku ingin sekali dekat dengan Putra Mahkota, dan jalan satu-satunya dengan menjadi dayangnya," jawab Rossy beralasan.
"Anda menyukai Yang Mulia Putra Mahkota?"
"Heh! Amit-amit jabang bayi! Siapa pula yang suka sama orang menyebalkan dan rewel seperti balita itu!" jawab Rossy spontan, dengan mimik wajah yang seketika memicu gelak tawa Adele saat melihatnya.
Walaupun ia cukup dekat dengan Adele tetapi Rossy tidak pernah sekalipun gegabah untuk menceritakan tentang hal-hal yang menjadi misinya. Cukuplah semua itu ia bagi hanya bersama dengan Alexander, ataupun William jika pria itu sudah benar-benar akan pulih seperti sediakala.
"Ya sudah, aku mau menemui Yang Mulia dulu, ya! Terima kasih atas bantuannya, nanti aku akan belikan sesuatu untuk kamu."
"Tidak perlu repot-repot, Nona. Saya akan selalu membantu anda selama anda membutuhkannya," jawab Adele ramah.
Setelah dirasa cukup, Rossy segera mengganti pakaiannya. Gadis itu pun mulai berjalan menuju dapur istana dan dilanjutkan menuju kamar sang Putra Mahkota dengan seribu adegan drama yang sudah ia rencanakan.
Tok! Tok! Tok!
Gadis itu pun mulai mengetuk pintu kamar William dengan membawa sarapan yang baru saja ia ambil dari dapur istana. Dengan sikap yang sengaja ia buat lemah, Rossy meletakan nampan berisi makanan tersebut di atas sebuah nakas yang terletak di sisi ranjang.
"Yang Mulia, silahkan dinikmati hidangannya. Ada lagi yang Anda butuhkan?" ucap Rossy dengan nada suara rendah.
William yang baru terbangun dari tidurnya pun sontak mengusap-usap matanya, pria itu melihat Rossy dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanyanya mengejek seolah terkejut dengan sikap Rossy yang tak seperti biasanya.
Rossy menghela napasnya lalu segera membalikkan tubuhnya seraya berkata, "Jika ada yang diperlukan silahkan panggil saya, Yang Mulia."
"Rossy!" William segera bangkit lalu menahan lengan Rossy hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
William memerhatikan dengan seksama wajah gadis itu lalu menyentuh dahi Rossy tanpa ragu.
"Kamu kenapa? Wajahmu terlihat pucat walaupun suhu tubuhmu tidak tinggi."
'Kena, lo!'
Rossy bersorak sorai di dalam hatinya karena William mudah sekali untuk termakan jebakannya. Gadis itupun langsung memasang wajah yang semakin terlihat lemas, membuat putra mahkota seketika menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi yang berada di kamar tersebut.
"Sebentar ya!" seru William.
Tanpa ragu, pria itu menuangkan secangkir teh yang seharusnya menjadi miliknya lalu diberikannya pada Rossy. Raut wajahnya tampak khawatir hingga membuat Rossy berusaha keras untuk menahan tawanya.
"Minum dulu!" seru William.
"Tapi, ini milik anda. Saya benar-benar merasa tidak sopan jika harus meminum teh milik Anda."
"Sudahlah, jangan banyak membantah. Ini adalah perintah, Rossy! Bagaimanapun anda bukan dayang sebenarnya. Apa yang harus kami katakan pada negri mu jika anda sakit di kekaisaran ini?"
"Baiklah, Yang Mulia. Saya merasa sangat terhormat," ucap Rossy lalu segera menerima secangkir teh yang diberikan oleh William.
'Argh ... sial! Mengapa aku lebih suka melihat dia yang seenaknya, daripada dia yang berlaku sopan seperti ini?'
William terus menatap Rossy dan memerhatikan tiap gerakan yang dilakukan oleh gadis itu. Hatinya terasa sangat aneh, yang bahkan membuat dirinya diselimuti oleh ribuan pertanyaan.
"Apa kau sudah memeriksakan diri ke dokter istana?" tanya William.
"Sudah, saya juga sudah meminum obat, Yang Mulia. Saya hanya sedikit kelelahan saja, nanti juga membaik dengan sendirinya," ucap Rossy berdusta.
William menghela napasnya lalu mengatakan sesuatu yang sudah Rossy nantikan sedari tadi.
"Setelah ini, beristirahatlah! Hari ini biarkan pelayan lain yang melayaniku," ucap William.
"Tapi, Yang Mulia ...."
"Ini perintah. Saya tidak ingin dilayani oleh dayang yang tengah tidak sehat."
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia matahari muda kekaisaran." Rossy tersenyum tipis lalu segera berpamitan untuk kembali ke kamarnya pada Putra Mahkota.
Setelah dirasa cukup jauh, sontak saja Rossy tersenyum lebar lalu berlari secepat mungkin menuju kamarnya yang berada disisi lain istana.
Tanpa waktu yang lama, Rossy segera menghapus riasan wajahnya dan juga mengganti pakaiannya. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuju taman belakang istana di mana seseorang sudah menunggu kedatangan dirinya dengan sabar.
__ADS_1