
"Nona!" Adel sontak berteriak saat melihat Rossy menabrak seseorang.
Sedangkan Rossy yang jatuh dengan posisi terduduk itu terlihat berusaha untuk bangkit sambil menahan rasa nyeri pada pinggangnya.
"Heh, hati-hati dong!" teriak Rossy jengkel.
Pria dengan penampilan yang tampak kacau itupun tak menggubris perkataan Rossy sama sekali. Bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk membantu gadis yang terjatuh tepat di hadapannya.
"Gak tau sopan santun! Sudah membuatku jatuh tapi tidak meminta maaf!" umpat Rossy.
Alih-alih membantu Rossy untuk bangkit, Adele yang menyaksikan semua itu langsung berlutut di hadapan pria tersebut dengan tubuh yang gemetar.
"Maafkan Nona Rossy, Yang Mulia. Nona Rossy baru saja sampai di sini, jadi belum mengetahui area terlarang untuk didatangi."
"Hah, Yang mulia?" tanya Rossy bingung.
Rossy sontak menatap pria di hadapannya, seolah tengah menelisik dan menerka-nerka sosok tersebut.
Lensa mata berwarna biru, rambut pirang dengan wajah sekilas terlihat mirip Alexander, sontak membuat Rossy membeku karena baru menyadari siapa pria tersebut.
"Yang Mulia Putra Mahkota, Maafkan kelancangan dan kebodohan saya yang tidak mengenali Anda," ucap Rossy. Gadis itu berusaha mengalah dan membuang seluruh ego yang ia miliki. Untuk pertama kalinya dalam hidup gadis itu, seorang Rossy Maharani harus menundukkan kepalanya, memohon maaf atas sikap yang baru saja ia lakukan tanpa sengaja pada orang lain.
Bagaimana tidak, karena bagaimanapun putra mahkota adalah satu-satu kunci untuk dirinya kembali ke dunianya berasal, dan Rossy bertekad untuk mendekatinya dengan cara apapun dan menyelesaikan tugasnya dalam kurun waktu secepat mungkin.
Tidak ada respon apapun dari sang matahari kecil, ia hanya melirik kepada Rossy lalu kembali melangkah meninggalkan kedua gadis itu.
"Dasar congkak!" umpat Rossy kesal.
Sudah susah payah dirinya berusaha mengalah tetapi William tak menggubrisnya sama sekali.
Harga dirinya yang ia telah jatuhkan terasa terinjak-injak dan memantik rasa kesal yang tertahan di dalam hatinya.
"N-nona!" bisik Adel ketakutan.
Rossy yang sudah murka, segera bangkit dan dengan gusar dirinya menunjuk putra mahkota dengan jari telunjuk tangannya.
"Putra mahkota seperti itu? Pantas saja, bisanya menjadi beban Pangeran Alexander dari dulu hingga sekarang!"
__ADS_1
"N-nona."
"Lihat saja kelakuannya. Terlalu merasa berduka sendiri sampai lupa jika dia masih memiliki tanggung jawab besar."
Perkataan Rossy sontak mengentikan langkah Putra mahkota. Pria berusia tiga puluh tahun itu pun menoleh ke arah Rossy dengan wajah merah padam seraya berkata, "Tutup mulutmu! Kalau kau tidak mengetahui apa-apa lebih baik kau diam! Saya anggap kau tidak berkata apa-apa, jadi tolong jaga sikapmu sebelum tiang pancung itu menanti kau karena telah menghina keluarga kerajaan."
DEG!
Merasa diancam membuat gadis itu bungkam, walaupun Rossy masih terus ingin mengeluarkan seluruh amarahnya. Bertahan hidup, itu adalah tujuannya saat itu. Ia ingin segera kembali ke dunianya, meninggalkan semua kekonyolan tingkah putra mahkota yang membuat dirinya muak.
"N-Nona, lebih baik kita kembali," bujuk Adele.
Helaan napas berat terasa dari seorang Rossy Maharani. Setelah menangkan hatinya pada akhirnya Rossy pun mengangguk lalu menuruti apa yang Adele katakan untuk kembali ke dalam kamarnya.
Sementara itu Putra Mahkota William berjalan menuju balkon yang menghadap ke rumah kaca. Pria itu merasa sesak kala mendengar cacian dari gadis asing yang baru ia jumpai tersebut.
Rambut dan lensa mata hitam, serta ciri-ciri fisik lainnya sesaat mengingatkan dirinya akan rumor ramalan Kardinal yang ia dengar dari para pelayan.
Wiliam menatap nanar salju yang mulai berjatuhan lalu bergumam, "Apakah sudah waktunya?"
***
"Anda bertemu William semalam?" Alexander terlihat terkejut saat mendengarkan semua cerita Rossy pagi itu.
Sambil menyuapkan sepotong pancake kedalam mulutnya, gadis itupun mengangguk, membenarkan semua pertanyaan yang terlontar dari mulut Alexander.
"Tapi saya malah beradu mulut dengannya. Hah ... sekarang saya harus berpikir lagi cara untuk mendekatinya. Benar-benar menyusahkan," keluh Rossy.
Perkataan gadis itu sontak saja membuat Alexander terkejut, bagaimana tidak? William yang terus berdiam diri dan jarang berbicara semenjak hari itu, kini tiba-tiba saja beradu bicara dengan gadis asing yang bahkan tidak dikenal olehnya.
"William berbicara denganmu?" tanyanya kembali menegaskan.
"Iya, bukan hanya berbicara tapi beliau juga mengancamku, keterlaluan sekali! Ya ... walaupun semuanya akibat dari tingkah laku saya yang sembrono, sih!" ungkap Rossy tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Alexander kian terperangah nyaris tidak percaya, seiring dengan harapan akan kesembuhan putra mahkota semakin menguat. Sungguh dirinya sangat menantikan William bangkit dari keterpurukannya dan segera melakukan upacara penobatan untuk mengisi kursi takhta yang terlalu lama dibiarkan kosong.
"Lady Rossy, sata mohon jangan pernah menyerah memulihkan putra mahkota. Walaupun bicaranya menyakitkan tapi sesungguhnya dia adalah seorang yang baik. Saya sangat berharap William segera bangkit karena kekaisaran ini membutuhkannya," ucap Alexander memohon dengan nada suara yang rendah.
__ADS_1
Sorot mata yang biasanya terlihat dingin dan tajam kini berubah seratus delapan puluh derajat. Tersirat harapan yang sangat besar memenuhi lensa mata memukau bewarna biru laut tersebut.
"Maaf sebelumnya, Yang Mulia. Apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Rossy yang sudah tak tahan menahan rasa penasarannya.
Pria berambut putih ke abu-abuan itu pun mengangguk dan berkata, "Silahkan!"
"Maaf sebelumnya, maaf sekali jika saya sangat lancang. Tapi bukankah lebih baik putra mahkota tetap seperti itu, karena secara langsung takhta akan menjadi milik Anda?"
Alexander menghela napasnya, lalu meletakkan peralatan makannya di atas piring dengan perlahan.
Pria itu menatap Rossy dan menjawab, "Saya sudah pernah bilang padamu jika saya tidak tertarik sama sekali dengan takhta. Saya sudah sangat menerima kenyataan jika saya hanyalah anak haram dari Kaisar, saya tidak pantas mendapatkan takhta itu. Saya sudah bersyukur dengan pengakuan dan kehidupan layak yang diberikan mendiang baginda, dan saya tidak ingin serakah lagi."
Deg!
'Akh ... iya! Dicerita aslinya, Alexander merelakan putri mahkota pada William karena alasan ini juga, kenapa aku bisa lupa!'
Rossy menjerit dalam hatinya, merutuki segala kebodohannya yang bisa saja menyinggung perasaan Alexander. Ditatapnya wajah Alexander yang tengah menatap pemandangan di balik jendela yang berada di sampingnya dengan siratan sendu.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk menyinggung Yang Mulia," ucap Rossy tidak enak hati.
Helaan napas panjang lagi dan lagi dilakukan Alexander, pria itu mencoba tersenyum dan kembali memandang Rossy.
"Tidak apa, saya sudah berdamai dengan kenyataan tersebut. Oh ya, Nona, kalau saja boleh tahu bagaimana kehidupan anda di tempat anda berasal?" tanya Alexander yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rossy tertawa kecil, meminum segelas air sebelum menjawab pertanyaan Pangeran Alexander.
"Aku seorang yatim piatu sejak berusia dua puluh tahun dan saat ini aku cuma meneruskan usaha keluarga aku. Tidak ada yang spesial, setiap hari aku selalu menjalani kehidupan yang monoton dan berulang."
"Maafkan saya."
"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa dan tidak ada hal menyedihkan yang tersisa lagi. Lagi pula saya sadar jika banyak yang menggantungkan kehidupannya di tangan saya. Jadi saya harus tetap kuat walaupun lelah, semua demi para pekerja yang menjadi tanggung jawab saya," ungkap Rossy dengan semangat.
"Kamu hebat!"
Alexander mengembangkan senyumnya melihat kegigihan Rossy. Terbesit harapan di hatinya, berharap jika William setidaknya memiliki sebagian semangat Rossy. Ia benar-benarjika lelah melihat William terjebak dalam kesedihannya hingga akhirnya menelantarkan tanggung jawab besar untuk mengurus negara.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu dengan tiba-tiba, perlahan terlihat sosok kepala pelayan sesaat setelah pintu semakin terbuka lebar.
"Maaf Yang Mulia, Putri sulung Marquess Nore datang ingin menemui Anda."