My Favorite Prince

My Favorite Prince
Baron Orien


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar menghentak lantai menuju istana Bintang. Rossy yang sudah mengamankan Adele terlebih dahulu kini bermaksud untuk menemui Alexander, guna menceritakan apa saja informasi yang sudah ia dapatkan dari Adele.


"Heh, kau!" Suar seorang wanita sontak saja membuat langkah kaki Rossy terhenti. Rossy menoleh dan melihat seorang wanita muda menghampiri dirinya dengan wajah masam


"Buat apa kau berkeliaran di Istana Bintang? Dasar tidak tahu malu," cibirnya.


Rossy mengerutkan keningnya, menatap wajah gadis yang tiba-tiba saja mencaci maki dirinya tanpa alasan yang jelas. Wajah yang terlihat tidak asing, membuat Rossy susah payah mengorek ingatannya. Hingga akhirnya ia menghela napasnya dengan kasar setelah mengingat siapa wanita yang selalu menatap dirinya dengan tatapan benci dan merendahkan.


"Terserah anda mau bicara apa, saya benar-benar tidak punya waktu untuk meladeni anda, Lady Nore," jawab Rossy berusaha mengabaikan Isabella.


Namun, semakin Rossy mengacuhkan gadis itu maka semakin menjadi-jadi sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan oleh Isabella. Gadis yang selalu menjaga etiket demi nama baik keluarganya pun kini kehilangan kontrol dirinya setiap kali melihat Rossy.


"Saya tidak akan pernah membiarkan wanita tak tahu malu seperti kamu dekat-dekat dengan, Yang Mulia!" serunya seraya menarik lengan Rossy yang baru saja hendak kembali melanjutkan langkahnya.


Rossy kembali menarik lengannya sambil menatap tajam Isabella lalu berkata, "Memangnya siapa anda mengatur hidup saya dan Yang Mulia? Saudaranya bukan, pasangan juga bukan, lalu apa? Seharusnya saya yang bertanya pada anda, untuk apa anda datang ke sini tanpa undangan? Jadi lebih baik anda berkaca sebelum bicara, siapa yang wanita tidak tahu malu? Anda atau saya?"


"Kau, berani-beraninya!"


Plak!


Kesigapan dan kelincahan Rossy membuat gadis itu reflek menepuk tangan Isabella yang nyaris menampar wajahnya. Sorot matanya kian menajam, dan cukup membuat bulu kuduk Isabella meremang kala menatapnya.


"Tolong jaga sikap anda. Ini istana bukannya tempat adu gulat! Kalau anda ingin bertengkar dengan saya, silahkan anda atur waktu dan tempatnya, dengan senang hati saya akan menerimanya." Rossy berbalik lalu melanjutkan perjalanan setelah puas menekan Isabella.


Rossy benar-benar sudah tidak peduli dengan latar belakang keluarga Isabella, karena baginya sikap gadis itu sudah mencapai ambang batas kewajaran.

__ADS_1


"Dia benar-benar membuat suasana hatiku semakin kacau!" cerca Rossy kesal. Langkah kakinya semakin cepat, bermaksud agar segera sampai tujuan tanpa kembali mendapat penghalang yang menyusahkan.


Kini ia berada di depan pintu ruang kerja Alexander. Pintu dengan ukuran yang terbuat dari kayu oak itu terlihat sangat megah, membuat siapapun terasa kecil kala berada di depannya.


Tok! Tok! Tok!


Rossy mulai mengetuk pintu beberapa kali, tak lama pintu pun mulai terbuka perlahan dan memperlihatkan kepala pelayan berada di baliknya.


"Nona Rossy," ucap James.


"Kepala pelayan, saya ingin bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Alexander, ada sesuatu yang harus saya katakan padanya," ucap Rossy terus terang.


"Persilahkan saja Lady untuk masuk." Alexander menjawab sebelum James minta izin pada dirinya.


Rossy pun diizinkan untuk memasuki ruangan yang megah dan dipenuhi oleh berbagai buku tersebut, lalu dipersilahkan untuk duduk di sebuah kursi yang berada di sana tepat di samping Willian.


"Lady, kebetulan kau datang kesini. Baru saja kami ingin menitahkan Sir Caine untuk menjemput Anda," ucap William.


"Karena ada yang harus saya sampaikan, Yang Mulia. Sehingga saya tidak sabar untuk segera memberitahukannya."


"Tapi kenapa kau tidak mencari diriku, kenapa kau harus mencari Alexander hingga jauh-jauh datang ke Istananya?" tanya William dengan nada suara menyindir, raut wajah pria berambut blonde itu terlihat masam membuat Rossy yang tengah kesal hanya bisa menghela napasnya dan bersabar menghadapi sikap Putra Mahkota yang menyebalkan.


"Sudahlah, Putra Mahkota. Lebih baik kita dengarkan apa yang ingin Lady sampaikan, daripada kita membuang-buang waktu dan tenaga hanya untuk bertengkar seperti ini," Alexander berusaha menengahi dan meredam amarah Rossy yang tengah tertahan.


Senyuman hangat ia lontarkan kepada Rossy, hingga membuat Rossy sedikit melemah karena paras tampan Alexander yang sudah memenuhi imajinasi dirinya.

__ADS_1


Rambut abu-abu yang biasa dikatakan berwana perak dengan lensa mata biru bak langit cerah, membuat Rossy terperangah dan tetap tak terbiasa setiap kali menatap paras tampan Alexander yang tersenyum.


'Oh Tuhan, apakah ada satu yang seperti ini duniaku?' Rossy terus bergumam di dalam hatinya sambil terdiam.


"Ehem! Ehem!" Dehaman William sontak membuat kesadaran Rossy kembali ke titik asal. Gadis itu kembali mengatur mimik wajahnya badan mulai berkata.


"Yang Mulia, saya mendengar rumor yang tidak mengenakan hari ini. Lalu saya sudah mengetahuinya dan menyelidikinya. Hingga saya mendapatkan informasi jika semua itu berasal dari dayang, pribadi saya, Nona Adele," ungkap Rossy berpura-pura mengetahui permasalahan tentang Adele karena William berada di sana. Gadis itu memasang raut wajah yang muram, seperti seseorang yang hendak ingin menangis.


"S-saya pikir lebih baik saya langsung mengatakannya kepada Yang Mulia Pangeran Alexander, karena bagaimanapun yang menitahkan Adele melayani saya adalah Yang Mulia," ucap Rossy berpura-pura sedih.


Baru saja ia mulai ingin kembali bersandiwara, tiba-tiba muncul serpihan cahaya kilauan di dalam ruangan tersebut. Sejenak Rossy terperangah cahaya bak kilauan kembang api itu berubah bentuk menjadi sosok pria berambut pirang dengan warna mata kemerahan.


"Salam Yang Mulia Putra Mahkota dan Yang Mulia Pangeran," ucap pria tersebut.


"Bagaimana? Apakah sudah mendapatkan informasinya?" tanya Alexander kepada pria bernama Alfons Mariot yang merupakan ajudannya sejak di menara sihir.


Pria tersebut menyerahkan sebuah gulungan surat kepada Alexander, yang langsung diterima dan dibaca oleh Alexander dan juga William.


Raut wajah keduanya sangat serius membaca setiap informasi yang tertulis dengan detail.


"Sebelumnya saya memastikan jika Adele La Orien murni masuk kedalam istana untuk bekerja karena kondisi keuangan keluarganya yang merosot akibat kesehatan Baron. Hingga kesehatan Baron Orien semakin memburuk yang membuatnya harus mengonsumsi herba langka dengan harga mahal. Mendapati kesempatan tersebut Duke Robert Ferus memberikan kesepakatan kepada Adele, untuk menjadi matanya di kekaisaran dengan imbalan obat tersebut untuk Baron," jelas Alfons menuturkan garis besar maksud dari informasi yang ia berikan.


Rossy yang sudah mengetahuinya dari mulut Adele sendiri hanya diam saja. Gadis itu menunggu kesempatan untuk berbicara dan menuturkan ide yang ia miliki.


"Penjarakan wanita itu! Adakan rapat bangsawan untuk memastikan hukuman yang pantas untuk dirinya!" seru William.

__ADS_1


Kedua mata Rossy terbelalak mendengar perintah yang baru saja diturunkan oleh Putra Mahkota, dengan sigap gadis itupun bangkit dan berteriak sebelum Caine benar-benar pergi dan menyeret Adele kedalam penjara bawah tanah.


"Tunggu, aku punya ide lebih baik daripada harus membawanya ke dalam penjara!"


__ADS_2