My Favorite Prince

My Favorite Prince
Adele


__ADS_3

Alexander mengeluarkan dua buah gulungan sihir teleportasi yang ia simpan di balik jubah yang ia kenakan lalu memberikannya sebuah kepala Rossy.


"Beruntung aku membawanya, sekarang kamu ambil satu dan sobek. Gulungan sihir ini akan membawa kita menuju istana dengan cepat," ucap Alexander.


"Baiklah, nanti aku jelaskan jika kita sudah kembali," ucap Rossy yang dijawab sebuah anggukan kepala dari sang pangeran


Keduanya bersiap lalu merobek gulungan sihir itu dengan kedua tangan mereka. Secara ajaib mereka menghilang dan kembali muncul di halaman belakang Istana Bintang.


"Yang Mulia, syukurlah anda segera kembali." Caine yang sudah menunggu seketika menghampiri Alexander dan Rossy yang tiba-tiba saja muncul, seolah pria itu memiliki insting jika Alexander dan Rossy datang dari tempat tersebut secara bersamaan.


"Ada apa, Jendral? Apa yang membuatmu panik seperti ini?" tanya Alexander.


"Entah mengapa ada rumor tersebar jika Lady membohongi Yang Mulia Putra Mahkota untuk pergi bersama Anda. Saya khawatir rumor tersebut akan membuat reputasi Lady memburuk dan kehilangan kepercayaan dari Yang Mulia Putra Mahkota."


"Maaf Yang Mulia, tapi lebih baik saya memang harus cepat kembali ke kamar saya. Jika keadaan sudah lebih kondusif, saya akan menghampiri anda kembali untuk membahas prihal permasalahan hari ini," ucap Rossy yang khawatir jika rumor tersebut akan sampai ke telinga Putra Mahkota.


Rossy sendiri pun tidak mengerti, mengapa Putra Mahkota seakan hendak memonopoli dirinya, walaupun yang membawanya ke istana dan menempatkan dirinya menjadi dayang sementara Putra Mahkota sendiri adalah Pangeran Alexander.


Rossy menghela napasnya, ia yakin sekali jika ada sesuatu yang salah.


"Baiklah, tolong hati-hati. Jaga dirimu baik-baik," ucap Alexander seraya menyentuh dengan lembut pucuk kepala Rossy dan menghilangkan efek sihir penyamaran warna rambut dan lensa mata gadis itu.


Warna hitam legam itu pun berangsur kembali, warna yang seolah identik dengan kekelaman ataupun kejahatan tetapi terlihat indah di bagi Alexander. Tatapan hangat dan senyuman tipis Alexander kembali membuat Caine tersentak, pria itu nyaris tidak percaya dan belum terbiasa melihat sikap ramah Alexander yang seperti itu.

__ADS_1


"Izin kan saya pamit undur diri dulu Yang Mulia dan Sir Caine. Lalu terima kasih untuk hari yang menyenangkannya, Yang Mulia," Rossy membungkuk, mengucapkan salam hormat kepada Alexander yang berada di depannya.


Gadis itu melepaskan senyuman sumringah lalu berjalan meninggalkan Alexander.


Tatapan mata Alexander terus bergeming menatap Rossy yang kian menghilang bak ditelan cahaya. Hari yang terasa sangat singkat dan menyenangkan, yang sudah sekian lama tak ia rasakan akhirnya datang kembali untuk Alexander.


"Tolong panggilkan kepala pelayan menghadapku, sekaligus bawa seluruh data dayang yang bekerja di seluruh Istana."


"Baik, Yang Mulia!"


***


Setelah kejadian itu tanpa berbasa basi William bergegas menemui Alexander yang berada di ruang kerjanya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa orang yang mencurigakan bisa berada dan bekerja di dalam Istana.


Di dalam ruang megah yang dipenuhi oleh buku itu, terlihat Alexander tengah bersama James Volgh  dan juga Jendral Caine, ketiganya tampak tengah serius membahas sesuatu sambil mengamati buku besar yang berisikan seluruh data dayang dan pelayan Istana.


"Alexander! Ada ingin yang aku bicarakan denganmu!" seru William.


"Jika kamu ingin membahas pekerja yang mencurigakan, lebih baik bergabung bersama kami daripada berteriak-teriak seperti itu," jawab Alexander tanpa sedikitpun menoleh kepada William.


William mendekat dan turut membaca latar belakang Adele yang berada di buku besar daftar dayang Istana. Tak ada yang janggal, semua seakan terlihat baik-baik saja.


"Walaupun semuanya bersih, aku masih merasa janggal padanya. Firasat ku mengatakan jika wanita itu memiliki maksud terselubung," ujar William.

__ADS_1


"Kita tunggu sebentar saja, aku sudah memerintahkan Alfons untuk menyelidikinya."


Sementara itu aura mencekam terlihat menguap dari diri Rossy.


Rossy yang selama ini ia kenal sebagai sosok ramah dan humoris, tanpa di sangka berubah seratus delapan puluh derajat seakan menjadi sosok yang berbeda.


Senyuman masih mengembang di paras cantiknya, tetapi senyumannya kala itu terasa mencekik dan menekan tanpa ampun, buat siapapun begitu ngeri melihatnya.


"M-maafkan saya Nona, maafkan saya," ucap Adele terbata seraya menahan rasa takut dan sakit akibat wajahnya yang dicengkeram.


Rossy mengangkat sebelah alisnya, dan terus menatap tajam Adele yang kian terasa mengintimidasi.


"Aku rasa aku selalu berbuat baik padamu, atau mungkin karena aku terlalu bersikap baik maka kau bisa seenaknya padaku."


"A-ampun, Nona. S-aaya terpaksa melakukan ini semua," ucap Adele kembali.


"Terpaksa? Apa alasanmu hingga berbuat hal senekat itu? Apa kau tahu, jika nasib kau dan keluargamu di ambang batas rasa belas kasihan putra mahkota? Aku tidak tahu apakah Yang Mulia paham atas situasinya atau tidak!" ancam Rossy sambil merasakan gerakan tangan memotong leher.


Tampaknya perbuatan Rossy untuk menakuti dan menekan Adele rasanya tak sia-sia. Wajah Adele semakin memucat, membayangkan jika nasib dirinya dan bahkan keluarganya harus berakhir di tiang eksekusi karena mengkhianati keluarga kerajaan. Kini semua bak buah simalakama untuk dirinya, jika dia membuka mulut maka kondisi sang ayah akan terancam, tetapi jika ia tidak buka mulut maka kondisi satu keluarganya turut terancam. 


Adele menunduk, butiran air mata perlahan turun dari kelopak matanya, dan gadis itupun mulai berkata, "S-saya ...."


***

__ADS_1


__ADS_2