
"Y-yang Mulia," Rossy menggenggam tangan Alexander erat saat ia mulai merasakan jika jemari Alexander mulai bergerak. Perlahan sang pangeran membuka matanya walaupun memakan waktu yang cukup lama.
Perhatian Rossy yang semula tertuju pada suara misterius tersebut seketika teralihkan pada Alexander yang berbaring di hadapannya.
Alexander terdiam sejenak setelah benar-benar telah membuka matanya, sang pangeran berparas tampan itu menoleh perlahan ke arah Rossy lalu memerhatikan gadis itu dengan seksama.
"Aku baik-baik saja, jangan pernah segan untuk meminta apapun padaku," ucap Alexander sungguh-sungguh.
"Apa yang sudah aku lakukan?
"Alex, Alex kamu sudah sadar," ucap Rossy yang di balas senyuman tipis oleh sang pangeran.
"Ros, aku baik-baik saja. Loh, mengapa kamu menangis?" tanya Alexander seraya menyentuh ekor mata Rossy yang terus mengeluarkan butiran air mata lalu menghapusnya dengan sangat lembut.
Tangisan gadis itu seketika tumpah, perasaan takut kehilangan seketika tergantikan dengan perasaan lega. Tanpa sadar Rossy memeluk Alexander erat, menumpahkan segala emosi yang terus menyiksa.
"Tolong jangan pernah mati, jangan pergi!"
"Aku tidak akan pergi kemanapun, dan ku harap kamu pun begitu," jawab Alexander.
__ADS_1
Jawaban dari Alexander sontak membuat Rossy melepaskan pelukannya, perlahan Alexander berusaha bangkit dan duduk berhadapan dengan. Rossy.
"M-maafkan aku, aku sudah ceroboh. Seandainya aku tahu jika kontrak tersebut berakibat fatal bagi pembuat, maka aku tidak akan pernah meminta kamu untuk membuatnya."
"Jangan pernah berkata seperti itu, Lady. Aku melakukan semua permintaanmu dengan senang hati, karena kamu adalah satu-satunya sosok berharga untukku," ucap Alexander kembali.
Kedua mata mereka saling bersitatap satu sama lainnya, Alexander terdiam mengingat mimpi yang baru saja ia alami.
'Bagaimana dengan hadiah yang Ibu berikan? Apa kau menyukainya?'
Perkataan sang ibu yang ada di dalam mimpinya tiba-tiba saja terlintas, Perlahan Alexander menyentuh wajah Rossy menatapnya dengan harapan.
"Maafkan aku sudah membuatmu takut. Ini reaksi yang biasa mengingat aku menggunakan seluruh tenaga dalam yang kumiliki secara tiba-tiba," ucap Alexander berusaha menenangkan.
Tiba-tiba saja Alexander menarik lengan Rossy, membawa gadis itu kepelukannya lalu berkata lirih, "Hanya kamu satu-satunya yang berpihak padaku dan mengkhawatirkan diriku tanpa maksud terselubung. Bolehkah aku serakah, dan meminta dirimu untuk tidak meninggalkan aku sendiri lagi?"
***
"Salam pada Matahari kecil kekaisaran." Salam diucapkan para ksatria yang menjaga di depan pintu kamar Alexander.
__ADS_1
William yang berpenampilan tak seperti biasanya itu menggunakan kepalanya dan berkata, "Bagaimana kondisi Alex?"
Cklek!
Pintu kamar Alexander terbuka, memperlihatkan sosok Rossy yang baru saja keluar dengan nampan dan mangkuk kosong di tangannya.
William yang melihatnya tampak sinis, merasa tidak senang dengan apa yang dikerjakan oleh Rossy.
"Bagus sekali, kau mengabaikan pekerjaanmu selama tiga hari lalu memilih untuk mengerjakan hal lain."
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya bertanggung jawab untuk merawat Yang Mulia Pangeran hingga pulih, karena bagaimanapun beliau sakit karena saya," jawab Rossy dengan tenang.
"Baiklah, saya izin ke dapur dulu. Siang nanti saya akan bertugas kembali sebagai datang Yang Mulia."
William mengerutkan keningnya, untuk pertama kalinya ia melihat raut wajah Rossy sedingin itu. Gadis yang biasanya selalu bertindak sesuka hatinya dan berbicara ceria di hadapannya kini berbanding terbalik. Bahkan saat ini Rossy tak sedikitpun memandang kearahnya, gadis itu hanya menunduk lalu berlalu begitu saja.
Rossy mempercepat langkah kakinya, hingga dirasa sudah cukup jauh gadis itupun berdengus kesal.
"Sialan kau William, sudah tiga hari berlalu tapi kau baru menemui Alexander dan menanyakannya kabarnya. Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakuin padamu!"
__ADS_1