My Favorite Prince

My Favorite Prince
Penawaran


__ADS_3

"Selamat pagi, Yang Mulia!"


Suara Rossy yang memiliki nada suara yang tinggi seketika membangunkan William dari tidurnya.


Pria berambut kuning keemasan itu sontak menutupi kepalanya dengan bantal, lalu berusia keras untuk mengabaikan kehadiran Rossy dan kembali melanjutkan tidurnya.


"Yang Mulia, bangun! Kalau terus bermalas-malasan seperti ini nanti rejekinya di patok ayam!" seru Rossy sambil menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh William.


"Kamu ini bicara apa? Bisa diam tidak dan jangan menggangguku? Aku ini masih mengantuk!" protes William dengan suaranya yang masih terdengar parau.


Rossy menggelengkan kepalanya seraya menarik lengan William. Tak ada rasa segan ataupun takut yang terasa di hati gadis itu, sepertinya ia benar-benar sudah terbiasa untuk mengganggu William guna membuat pria itu menjadi lebih ekspresif.


"Ayolah, Yang Mulia! Segera ganti pakaian lalu sara ...." Perkataan yang Rossy ucapkan seketika terputus saat tiba-tiba William menarik balik tangan Rossy yang mengganggu dirinya.


Keseimbangan gadis itu pun seketika hilang, hingga akhirnya tubuhnya limbung dan terjatuh tepat di atas sang putra mahkota yang masih berbaring.


Hal tersebut seketika membuat mereka saling bersitatap, bahkan William tampak menatap dalam-dalam lensa mata Rossy yang hitam pekat dengan binar bak bintang pada langit malam.

__ADS_1


Jantungnya sontak berdebar cepat, membuatnya tak mampu untuk bergerak bahkan tak kuasa mengucapkan satu bait katapun dari bibirnya.


"Maaf, Yang Mulia. Anda sih main tarik-tarik saja, saya kan jadi terkejut!" protes Rossy sambil berusaha sesegera mungkin untuk bangkit.


Ucapan yang keluar dari bibir gadis itu seketika menyadarkan kembali akal sehat William. Dengan cepat ia segera kembali memasang raut wajah masamnya sambil berdengus kesal.


"Kau ini payah sekali, begitu saja jatuh! Lalu saya sarankan agar kau harus mengurangi porsi makanmu itu, asal kau tahu jika kamu itu sangat berat sekali!" ejek William guna menutupi perasaan berdebar dan gugup yang seakan tak mau menghilang.


"Anda ini benar-benar ya, ini bukan salah saya yang terlalu berat tapi anda aja yang terlalu kurus. Lagi pula makanan itu memang untuk dimakan bukan cuma dilihatin saja!" seru Rossy yang tidak mau kalah dari William begitu saja.


Rossy meraih pakaian yang sudah ia siapkan untuk William, lalu kembali mendekati William yang seakan tak ingin berpisah dari singgasananya


"Biar aku ganti baju sendiri saja, awas kau masuk!"


Brak!


***

__ADS_1


"Yang Mulia, Lady Isabella Antonius Nore telah tiba!"


Pandangan Alexander yang semula berfokus pada pekerjaannya pun sontak teralihkan menatap kepala pelayan. Pria tampan berambut bak perak itu segera meletakkan pena bulu yang tengah ia genggam pada tempatnya semula.


"Baiklah, saya akan segera menemuinya!" jawab Alexander seraya menghela napasnya, sebelum dirinya melangkah menuju ruangan dimana Isabella sudah menanti dirinya.


Rasa malas dan muak seakan tengah menyerang dirinya, tetapi tanggung jawab yang tengah ia emban membuat Alexander tak mampu menolak jika ada seorang bangsawan hendak ingin bertemu.


Pintu ruangan pun terbuka, terlihat seorang wanita muda yang memiliki paras cantik itu tengah menunggu dengan mengenakan gaun berwarna kuning, selaras dengan warna rambutnya yang panjang menjuntai dan bergelombang 


Gadis itu pun tersenyum sumringah lalu segera bangkit dan menunduk hormat.


"Salam untuk Yang Mulia Pangeran Alexander."


"Silahkan duduk! Ada keperluan apa hingga membuat Lady Nore datang ditengah cuaca yang tak bersahabat ini?" tanya Alexander terus terang, yang seolah tak ingin berlama-lama bersama gadis itu.


Ekspresi dingin dan datar yang Alexander perlihatkan sontak membuat senyuman Isabella kian mengembang, gadis itu meneguk secangkir teh yang sudah di hidangkan sebelum menjawab pertanyaan dari Alexander.

__ADS_1


"Ho-ho-ho ... Anda benar-benar tidak sabaran. Kedatangan saya hari ini karena ingin menawarkan sebuah kesepakatan untuk anda, bagaimana?"


__ADS_2