My Favorite Prince

My Favorite Prince
Trauma


__ADS_3

"Y-yang Mu-li-a, to-long a-ku! I-ni sang-at me-nya-kit-kan."


William terpaku kala melihat sang istri sudah bersimbah darah di hadapannya. Suara Celine terdengar lirih dan terbata-bata, tatapannya pun menatap penuh harapan kepada sang suami.


"Cepat obati putri mahkota! Saya tidak apa-apa!" pekik William gusar walaupun kondisinya sendiri cukup terluka parah.


Hujan deras disertai angin dan guntur menambah mencekam keadaan malam itu.


Alexander yang mendatangi lokasi kejadian kecelakaan kereta kuda itu pun tampak tidak peduli walaupun tubuhnya harus basah kuyup dan kedinginan.


"Y-yang Mu-lia! T-tolong!" ucap Celine kembali.


Tanpa berpikir panjang, William mengangkat tubuh sang istri dari batang pohon yang menancap. Namun siapa sangka, hal itu membuat semuanya semakin fatal.


Seketika putri mahkota mengalami pendarahan hebat yang akhirnya merenggut nyawanya saat itu juga. William pun tersungkur, memeluk sang istri yang sudah tidak memilikinya detak jantung lagi. Hari itu sang Putri Mahkota Celine meregang nyawa di tangannya sendirian, membuat William terpukul dan memutuskan untuk menutup diri.


Pria itu hidup bak cangkang kosong, pikirannya terus berlarian mengingat kejadian yang sangat memilukan.

__ADS_1


Bahkan William terus menyalahkan dirinya sendiri, membuatnya kehilangan semangat dan tujuan hidupnya.


***


Pancaran arunika perlahan mulai menyinari hamparan tanah yang diselimuti dengan salju, mengusik indra penglihatan William yang masih terlelap dari alam mimpi. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, hingga kesadarannya benar-benar telah kembali sepenuhnya.


Rasa sakit di kepalanya kembali muncul, karena mimpi yang terus berulang-ulang setiap kali dirinya tidur pasca meninggalnya putri mahkota. Pria itu mulai membunyikan lonceng yang merupakan tanda jika dirinya membutuhkan sesuatu kepada para pelayan. Hingga seseorang mulai membuka pintu kamar William dengan sangat hati-hati.


"Selamat pagi, Yang Mulia matahari muda kekaisaran. Mulai hari ini saya akan melayani segala kebutuhan Anda."


"Hah! Kau!" pekik William terkejut.


"Tidak perlu, saya bisa melakukan sendirian," jawab William singkat.


Senyuman terus tersemat di wajah cantik gadis itu, yang berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Jika saja bukan karena misinya dan juga atas permohonan Alexander, demi apapun ia tidak ingin dekat-dekat dengan Putra Mahkota William.


"Baiklah, saya akan membawakan sarapan untuk Anda."

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku tidak ingin memakan apapun!" tolak William berusaha untuk membuat gadis itu menahan rasa kesalnya.


"Tidak bisa, anda tidak bisa melewatkan waktu makan! Lihat tubuh kurus kering anda! Kalau sampai angin berhembus, bisa saja anda akan terbang seperti dedaunan kering!" seru Rossy sambil menyelipkan cibiran pada pria yang baginya sangat menyebalkan. Rossy  keluar dari ruangan itu sejenak, lalu tak berselang lama kembali dengan troli yang berisikan makanan.


Gadis itu pun membuka satu persatu tudung saji lalu mengambil salah satu piring ke hadapan putra mahkota.


"Silahkan dinikmati, Yang Mulia!" ucapnya.


"Tidak!" jawab William singkat.


"Ayolah, sedikit saja. Ini gak ada racunnya kok, kalau gak percaya saya akan cicipi terlebih dahulu nih! Emm ... enak Yang Mulia." Rossy menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya, membuat William mengeryitkan keningnya karena melihat tingkah laku Rossy yang benar-benar aneh dan sana sekali tidak takut.


"Kau gila, ya! Kau menyuruhku makan bekas kamu?"


"Mau saya ambil baru lagi?" tanya Rossy dengan senyuman yang semakin lebar dan terlihat menyebalkan.


"Tidak, aku tid ...." perkataan William terputus saat sesendok bubur sontak meluncur ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa ia menelan makanan yang sudah terlanjur masuk itu lalu berteriak.


"Wanita gila!"


__ADS_2