
"Bos, lebih baik Anda beristirahat. Nampaknya belakangan ini Anda sudah terlalu banyak bekerja."
Fachny menatap Rossy dengan khawatir, mengingat sudah nyaris tengah malam tetapi Rossy sama sekali enggan untuk menyudahi pekerjaannya.
Semenjak menyudahi cutinya, Rossy terlihat berubah. Wanita yang terkenal dingin dan jarang menunjukkan ekspresi wajahnya dip depan para karyawan, kini terlihat lebih murung dan terus memaksakan tenggelam dalam pekerjaan walaupun membuat tubuhnya sakit.
"Kamu pulanglah terlebih dahulu. Sudah saya bilang, jika tidak usah menunggu saya!"
"Maaf, Bos. Saya tidak bermaksud mengeluh tapi saya sungguh-sungguh mengkhawatirkan kesehatan Anda."
"Baiklah, saya akan pulang sekarang!" seru Rossy dengan terpaksa.
Segera ia merapikan seluruh barang miliknya ke dalam tas lalu berjalan menuju area parkir untuk menemukan mobil miliknya.
Rossy mulai mengemudi melintasi jalanan ibukota, sungguh moment yang paling buruk baginya adalah saat dimana ia sendirian tanpa tahu harus melakukan apapun.
Setelah menempuh lima belas menit perjalanan, akhirnya ia sampai di depan pintu unit penthouse miliknya. Rasa sepi seketika menyelimuti hati Rossy, ia benar-benar benci saat sendirian.
Setelah membersihkan dirinya, Rossy membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ekor matanya melirik sebuah buku yang ia tempatkan di atas nakas samping ranjangnya lalu meraihnya perlahan.
"Sudah dua bulan semenjak hari itu tapi kamu masih terasa jelas di ingatanku," gumam Rossy sambil menatap buku kosong tanpa tulisan.
Rossy memeluknya dengan erat sambil terus membayangkan sosok Alexander yang kian melekat dan tak mampu hilang dari ingatannya.
__ADS_1
"Satu hari di dunia ini sama dengan satu bulan di duniamu. Mungkin di sana sudah lewat dari lima tahun sejak kita berpisah, lantas apakah kini kamu sudah melupakan aku? Ya, aku berharap kamu hidup bahagia dan lebih baik, atau kamu mungkin sudah berkeluarga."
Air mata kembali mengalir dari sudut mata gadis itu, ingatannya pun kembali pada dua bulan lalu, tepatnya saat dirinya kembali ke dunianya berasal.
***
Rossy membuka matanya setelah ia merasa tubuhnya terhantam sesuatu. Langit-langit cerah akan cahaya lampu, serta dingin yang terasa menyelimuti ruangan karena AC, membuat dirinya tersentak karena menyadari sudah berada di dalam kamarnya.
Rossy memegang kepalanya yang terasa berdenyut, seakan tengah menerka apakah semua yang terjadi hanyalah mimpinya belaka? Namun, semuanya terbantahkan karena ia menyadari masih memakai gaun tidur yang sama seperti saat dirinya terakhir kali berada di Istana.
Dengan panik Rossy mencari buku novel ajaib yang telah membawa dirinya, lalu segera membukanya.
"A-apa-apaan ini!" Rossy melihat dengan jelas semua tulisan yang ada di dalam buku tersebut menghilang secara perlahan hingga tak meninggalkan satu titik pun.. Berkali-kali Rossy berusaha membolak-balikkan buku tersebut tetapi nihil, kini buku itu hanyalah sebuah buku kosong yang tak berarti apa-apa.
Rossy mengira dirinya benar-benar sudah siap untuk kembali tetapi kenyataannya semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Dirinya sadari jika ia sudah terlalu dalam memiliki perasaan pada Alexander, kini ia hanya ingin bertemu kembali dengan Alexander dan mengucapkan kalimat perpisahan dengan benar.
Rossy bersimpuh di lantai sambil terus menangis meraung tanpa ada seorang pun yang tahu. Cukup lama dirinya tenggelam dalam kesedihan yang menyiksa. Hingga tanpa terasa tiga hari berlalu tanpa dirinya melakukan apa-apa.
***
"Alexander! Sudah lima tahun berlalu, mau sampai kapan kamu terus melakukan perjalanan tanpa tujuan? Lebih baik kamu menetap di ibukota dan menerima gelar Grand Duke serta wilayah dariku," William berkata sambil meneguk secangkir teh yang terasa hangat di musim dingin.
"Ibukota bukan tempat yang cocok untukku. Aku sama sekali tidak tertarik ke sini, kecuali hanya untuk bertemu keponakanku yang baru terlahir," jawab Alexander sambil menatap ke arah jendela.
__ADS_1
Salju pertama yang turun pada saat itu sungguh kembali mengingatkan dirinya pada sosok Rossy. Gadis misterius yang tiba-tiba muncul dan menghilang di depan mata kepalanya sendiri, tanpa mengucapkan sepatah kata kalimat perpisahan.
"Kau sangat keras kepala. Pasca eksekusi keluarga Duke Ferus, Duchy kembali di ambil alih oleh Istana. Aku berencana untuk memberikannya pada dirimu, mengingat seluruh kontribusimu yang membantuku saat itu."
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Baginda. Tapi, saya tidak akan mengubah keputusan saya. Saya harus tetap mencari keberadaan Naga seperti yang tertulis di buku tua menara sihir."
"Alex! Tapi semua itu berbahaya, kau bisa saja kehilangan nyawamu!"
"Apa yang diharapkan dari kehidupan saya yang tidak memiliki apa-apa. Saya sama sekali tidak memiliki apapun kecuali dia, bahkan di tempat ini sekalipun. Fakta tentang diri saya yang merupakan anak haram berdarah campuran tak mampu dihapus dan akan menjadi aib seumur hidup saya," ucap Alexander.
Alexander tersenyum walaupun wajahnya terlihat lebih tirus dan kusam seperti tak terurus. Perlahan ia meletakkan cangkir berisikan teh hangat perlahan lalu kembali berkata, "Kalau begitu saya izin pamit, Yang Mulia. Sampaikan salam ku untuk Yang Mulia Permaisuri dan Pangeran kecil."
"Tunggu, Alex! Kemana tujuanmu saat ini? Bagaimanapun kau adalah adikku, aku harus menjamin keselamatanmu. Tolong maafkan kesalahanku yang berusaha merebut Rossy darimu, aku benar-benar menyesal, Alex," ucap William.
"Sudahlah, Baginda. Semua itu sudah berlalu, saya harap Anda bisa menjadi kaisar bijak dan hidup bahagia dengan Permaisuri Isabella. Kalau begitu saya pamit, tujuan saya kali ini adalah lembah hitam di ujung utara. Saya harap Anda tidak mencari keberadaan saya lagi mau hidup ataupun mati, karena mungkin saat ini adalah terakhir kalinya saya menginjakkan kaki di Istana."
"Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Namun Alex, aku berharap kau tetap baik-baik saja di manapun kamu berada," William menghela napasnya sambil menepuk pundak Alexander yang berada di hadapannya.
Keteguhan hati Alexander membuat William tak bisa menahannya lebih dari itu. William hanya bisa menatap punggung sang adik yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan matanya sambil berharap yang terbaik dan juga keselamatan untuk Alexander.
Alexander berjalan di istana bintang, tempat yang menjadi miliknya lima tahun yang lalu. Pandangan matanya terpaku pada sebuah rumah kaca kecil yang dulu ia bangun untuk sang kekasih hati. Tempat yang menjadi saksi bisu atas pernyataan cinta mereka berdua.
'Walaupun harus memakan waktu seumur hidup ataupun harus mempertaruhkan jiwaku, aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu dengan dirimu lagi.'
__ADS_1
Alexander bergumam sambil menggenggam sebuah gulungan peta usang. Ia pun mulai melangkah menuju tempatnya menyimpan kuda lalu meninggalkan istana kekaisaran menuju tempat yang terkenal akan lubang hitam yang mampu memakan jiwa.