My Favorite Prince

My Favorite Prince
Pilihan yang Sulit


__ADS_3

'Apakah arti Yang Mulia Pangeran bagi Anda?'


Pertanyaan dari Rossy terus menerus terngiang dan memenuhi seluruh kepalanya. William terdiam dengan tatapan matanya yang terlihat sendu.


Masih jelas diingatkannya tentang kehidupan Alexander saat pertama kali memasuki istana kala usianya masih sepuluh tahun. Bahkan para pelayan sekalipun tidak ada yang menghormati dirinya layaknya pangeran hanya karena mengalir darah rakyat jelata pada diri Alexander.


Cibiran, tatapan merendahkan menjadi makanan sehari-hari, tetapi Alexander selalu mengabaikannya dan memilih menyendiri tanpa ada satu orang pun yang peduli.


"Bahkan aku pun tak pernah sekalipun membelanya," gumam William, mengingat betapa takut dirinya dengan permaisuri yang merupakan ibunya. Permaisuri selalu menegaskan untuk menjaga jarak antara dirinya dan juga Alexander, hingga membiarkan pangeran kecil yang baru kehilangan ibunya itu harus bertahan hidup seorang diri dilingkungan yang tidak menyukainya.l dan cenderung mengucilkannya.


Alexander tumbuh seorang diri dalam kesendirian, hingga permaisuri sebelumnya mengembuskan napas terakhir dan membuatnya sedikit demi sedikit memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan William.


Walaupun tumbuh dengan lingkungan yang tak mendukungnya, tak membuat peringainya menjadi butuh. Alexander tumbuh menjadi sosok sempurna yang bahkan tak memiliki kebencian terhadap ayah dan juga William yang sudah mengabaikannya. Berkali-kali dirinya menjadi perisai bagi William, menganggap nyawa William lebih berharga daripada dirinya sendiri.


Bagi Alexander dia tak butuh kasih sayang dari Kaisar, karena bagi dirinya sudah lebih dari cukup Kaisar membiarkan dirinya tetap tinggal di istana dan juga memberikan  pendidikan yang layak.


"Tapi apa yang aku lakukan? Mungkin semua ini adalah karma untukku yang sudah merebut dirimu dari Alex." William mengingat saat dirinya sengaja merebut perhatian mendiang putri mahkota. Menarik gadis itu ke sisinya walaupun ia mengetahui jika Alexander menaruh hati terlebih dahulu.

__ADS_1


Kini semuanya terulang kembali, William sadar jika dirinya sudah egois memonopoli Rossy. Bahkan ia melarang Rossy mendekati Alexander walaupun ia sadar jika Rossy hanyalah sebatas dayang yang ditugaskan untuk melayani dan menyembuhkan hatinya.


William menghela napasnya, rasanya sungguh sulit mengalah untuk Alexander. Mungkin baginya saat ini lebih baik dia menyerahkan takhta daripada mengalah atas diri Rossy.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"


***


"Tolong buka matamu, Alex!" 


Sejak kejadian itu Rossy terus berada di samping Alexander, gadis itu bahkan tak sedikitpun berniat untuk beranjak dan terus menggenggam tangan sang pangeran.


"Aku mohon buka matamu! A-aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi!" gumamnya kembali.


Rossy menatap wajah pucat Alexander dengan mata sembabnya. Tak terpikir sebelumnya, pria yang beberapa kam lalu masih terlihat segar dan menemani dirinya berjalan-jalan kini telah terkulai tak berdaya seakan nyawanya telah berada di ujung tanduk.


Untuk pertama kalinya Rossy merasakan seperti seorang pecundang, yang tidak bisa melakukan apa-apa walaupun masalah besar berada di depan matanya.

__ADS_1


Ketakutan meluap memenuhi hatinya, karena bagi Rossy, Alexander adalah satu-satunya alasan ia bersemangat hidup di dunia antah berantah tersebut.


'Rossy, Rossy. Kau tidak melupakan misimu, kan?'


Suara misterius yang sudah sangat lama tak terdengar kini muncul dan memancing emosi Rossy.


Sekuat tenaga Rossy menahannya, agar tidak berteriak dan membuat kegaduhan di dalam kamar Alexander.


'Perasaanmu hanya akan menjadi penghalang untuk tujuanmu. Jika kau ingin segera kembali maka lupakanlah!'


"Maksud kau apa? Kau yang mengirimku seenaknya ke dunia antah berantah ini, tetapi kenapa aku juga harus menuruti mau mu?" Rossy menahan suaranya agar tak terdengar keluar. 


'Ha-ha-ha itu sudah takdirmu. Sekarang kau hanya memiliki dia pilihan, dan semua ada di tanganmu.'


"Kau ini, dasar sialan!"


Kesabaran Rossy tampaknya mulai runtuh, tetapi tiba-tiba fokusnya terpecah kala ada sesuatu yang menyentuh telapak tangannya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2