My Favorite Prince

My Favorite Prince
Penyergapan


__ADS_3

PRANG!!!


Suara pecah terdengar,l gaduh, berbagai barang pecah belah yang menghiasi sebuah kamar megah dan mewah terdengar saling sahut bersahutan mengganggu telinga siapapun yang mendengarnya.


Seorang gadis muda yang berasal dari kaum bangsawan itu nampaknya yang sudah kehilangan kendali. Hal itu terjadi karena seluruh rencananya gagal total, membuat gadis itu terus menerus melampiaskan amarahnya dengan membanting benda tersebut lalu memecahkannya. Sikap buruk gadis itu tak ayal membuat pelayannya terluka terkena pecahan vas bunga yang terbuat dari porselen.


"Sialan, wanita sialan!" pekiknya terus mengumpat.


Sementara itu di luar kamarnya, sosok ayahnya baru saja datang dengan mimik wajah yang tak kalah menunjukkan kemurkaan, membuat nyali para pelayannya seketika menciut saat berpapasan dengan dirinya.


"Dimana Isabella?" tanyanya pada seorang pelayan putrinya dengan suara yang sedikit membentak. Ekor matanya melirik ke arah lengan pelayan wanita itu yang mengalami luka sobek cukup serius.


"Maaf, Tuan. N-n-nona mengamuk di dalam kamarnya, tidak ada satupun dari kami yang berani menghentikannya," jawabnya gugup.

__ADS_1


"Lebih baik kalian jangan mendekatinya dulu, katakan semua pada pelayan. Lebih baik, kau segera  obati lukamu itu!" seru Marquess Nore dan segera kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putri yang terletak di ujung lorong lantai dua.


Bunyi kekacauan bahkan terdengar saat baru saja melangkah pada anak tangga terakhir lantai dua, hal tersebut semakin membuat Marquess Nore murka dan semakin mempercepat langkah kakinya.


BRAK!.


PRANG!


"Bedebah gila! Aku sudah bilang jangan menggangguku, apa kalian ini tuli atau bodoh?" Isabella melemparkan parfum miliknya disertai dengan perkara kasar, sesaat setelah pintu kamarnya terbuka lebar-lebar. Gadis itu mengira jika para pelayannya lagi dan lagi berusaha menenangkan hatinya, tetapi semua tak seperti yang ia duga. Seketika Isabella terdiam mematung saat mendapati ayahnya masuk dengan wajah masamnya.


Isabella pun menunduk untuk meraih gulungan kertas lalu membacanya. Sebuah surat perintah bertanda lambang kekaisaran, dengan sebuah cap yang dibubuhkan oleh Putra Mahkota.


Kedua mata Isabella terbelalak, tangannya gemetar saat membaca isi yang tertulis di dalamnya.

__ADS_1


Sementara Marquess Nore tak bisa melakukan apapun lagi, ia akui jika tingkah laku putrinya sudah melewati batas.


"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan, Isabella? Tanpa berpikir panjang kau sudah melakukan sesuatu hal yang fatal?" tanya Marquess Nore pada putri yang sangat ia sayangi.


"A-aku ...," jawab Isabella gugup.


"Ayah tidak bisa membantumu, sikapmu ini sudah keterlaluan. Kau benar-benar ingin menorehkan aib pada nama keluarga yang sudah ayah jaga puluhan tahun lamanya."


Langkah kaki beberapa orang terdengar serentak, semakin lama semakin mendekat membuat perasaan Isabella yang murka seketika beralih menjadi takut dan panik.


"Marquess Nore, waktu sudah habis. Kami harus membawa Lady secepat mungkin untuk menghadap Putra Mahkota," ucap seorang utusan kekaisaran yang di dampingi oleh tiga orang ksatria.


"Ayah! Aku tidak mau! Aku tidak mau dipenjara, aku mohon tolong aku! Aku tidak ingin dipenjara! Aku tidak mau!"

__ADS_1


Isabella bersimpuh sambil menggenggam kaki sang ayah, gadis itu menangis histeris dan terus memohon pertolongan dari Marquess Nore. Kedua orang kesatria menarik paksa Isabella yang terus memberontak, semantara Marquess Nore hanya bisa terdiam sambil menahan perasaannya.


Orang tua mana yang tidak sedih melihat anak kesayangannya mendapat marabahaya. Namun, Marquess Nore sadar jika hal tersebut terjadi karena tingkah laku sang putri yang sudah nekat dan nyaris membuat tamu Agung kehilangan nyawanya.


__ADS_2