My Favorite Prince

My Favorite Prince
Keributan


__ADS_3

Brak!


Suara barang-barang berjatuhan dengan cukup keras kembali mengusik sepasang insan yang tengah menikmati waktu damai mereka berdua..


Setelah keduanya saling melemparkan kode berupa bahasa tubuh, Rossy dan Alexander pun segera keluar dari toko kue yang tengah mereka kunjungi dan berlari menuju ke arah sumber suara.


"Cepat bayar!"


Suara keributan kian terdengar dengan jelas, tetapi anehnya tidak ada satupun orang yang berani untuk membantu melerai, seolah-olah mereka yang ada di sana berpura-pura buta dan juga tuli, berpura-pura tidak ada masalah apapun yang tengah terjadi.


Alexander dan Rossy terkejut saat melihat lapak dagangan seorang wanita tua sudah berantakan. Kentang yang ia jajakan kini berhamburan ke mana-mana, sedangkan sang empunya tengah bersimpuh di hadapan beberapa orang pria berbadan kekar.


"Ampuni saya, Tuan! Saja berjanji akan bayar setelah dagangan saya ada yang terjual," ucapnya memohon.


Air mata jelas terlihat membasahi wajahnya yang sudah dipenuhi oleh kerutan, wanita tua itu meraung dan terus memohon dengan mengabaikan seluruh harga diri yang ia miliki.


"Heh, apa-apaan ini?" Rossy berteriak seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


Tanpa rasa takut sedikitpun gadis itu semakin mendekat lalu membantu wanita tua itu untuk bangkit.


"Kucing kecil darimana ini, berani-beraninya mengganggu kami yang tengah melaksanakan tugas!" seru salah satu pria sambil tersenyum seringai, pria itu seolah tengah meremehkan perkataan Rossy dan memandang gadis itu dengan sebelah mata.


"Nona, pergilah! jika terus di sini anda akan berada di dalam bahaya," ucap wanita tua itu dengan nada suara yang sangat lirih.


Rossy tersenyum menanggapi perkataan wanita tua itu yang telah mengkhawatirkan dirinya. Tidak ada rasa takut sedikitpun yang berkecamuk di hati gadis itu.


"Sudah tidak perlu khawatir, anda bisa menyerahkan semuanya kepada saya nanti," ucap Rossy terkekeh kecil.


"Hei, Nona! Kami ini hanya menagih pajak, jadi lebih baik kau tidak perlu ikut campur!" seru pria yang lainnya.


"Menagih pajak? Apa perlu sekasar itu?" tanya Rossy yang sudah kesal bukan kepalang.


"Pajak? Pedagang kecil di dalam kekaisaran ini tidak pernah dipungut pajak apapun? Siapa yang sudah memerintah kalian, dan membuat kebijakan sepihak tanpa diketahui pihak istana?"


Alexander yang sedari tadi hanya diam melihat Rossy yang melawan pria-pria itupun kini sudah tak kuasa untuk menahan suaranya. ia juga sudah muak dengan kelakuan para bangsawan uang sudah seenaknya memeras rakyat kecil uang hanya ingin memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan.

__ADS_1


"Siapa kau! Kalian jangan ikut campur daripada kalian akan bermasalah!" seru pria lainnya.


"Katakan, siapa tuan kalian?" Alexander mengeluarkan sebilah pedang yang selalu ia bawa kemana-mana, membuat para penagih pajak itu terlihat ketakutan terlebih melihat tatapan mata Alexander yang seolah tak segan untuk menghabisinya saat itu juga.


"D-duke R-robert," jawabnya dengan terbata-bata.


"Lebih baik kalian pergi selagi saya memiliki kesabaran, katakan pada Tuan anda jika dia takkan bisa berlama-lama menyembunyikan bangkai itu lagi!" ancam Alexander sambil tersenyum seringai.


Ketiga pria itu pun berlarian pontang-panting akibat ancaman dari Alexander. Keberaniannya sontak dihadiahi tepuk tangan yang meriah dari para pedagangdan pengunjung yang berada di sana.


"Terima kasih, Nona dan Tuan! Semoga Tuhan memberkati kalian dan senantiasa melindungi kalian," ucap wanita tua itu penuh haru.


"Terimalah, untuk mengganti mentang-mentang yang rusak."


Alexander mengeluarkan beberapa keping koin emas lalu memberikannya kepada pedagang ke pedagang itu sebagai bentuk ganti rugi. Sebelum mereka meninggalkan tempat tersebut Alexander pun kembali berkata, "Untuk seluruh pedagang Kecil tanpa terkecuali. Jika ada hal seperti ini terulang mohon segera laporkan pada istana! Lalu besok silahkan kalian melaporkan hal tersebut, dan juga keluhan apapun termasuk jika penjualan kalian tengah mengalami penurunan. Katakan saja jika kalian telah berkoordinasi dengan Alex dan Nona Rossy hari ini!"


Senyuman mengembang kembali dari wajah tampan pria itu. Alexander pun kembali menggenggam tangan Rossy, dan kian membuat gadis itu merasa terpesona akan sikap dan sifat Alexander yang bahkan jauh melampauinya ekspektasi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2