My Favorite Prince

My Favorite Prince
Keputusan Rossy


__ADS_3

"Yang Mulia!"


Suara seseorang yang familiar membuat Alexander menghentikan langkah kakinya. Pria itu pun menoleh dan melihat Rossy yang tengah kesulitannya berlarian dengan mengenakan gaun.


"Yang Mulia, tunggu saya!" pekik Rossy sekali lagi. 


Dengan napas tersengal-sengal pada akhirnya Rossy sudah berada di hadapan Alexander.


"Kenapa kau berlari seperti itu, bagaimana kalau kamu sampai terjatuh?" omel Alexander. 


Rossy hanya menanggapi semua Omelan Alexander dengan tersenyum. Suasana hatinya benar-benar merasa nyaman selepas dirinya keluar dari ruang makan yang membuatnya merasakan sesuatu ketidaknyamanan yang cukup menyiksa.


Sudah terasa lama bagi Alexander tak melihat senyuman secerah itu di wajah Rossy. Tanpa dirinya sadari tiba-tiba ia menyentuh tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


Cahaya rembulan tampak terang menyinari taman tersebut, diiringi hembusan angin yang lembut dan terasa sejuk kala menyentuh indra peraba kedua insan tersebut.


"Maaf, Rossy. Aku tidak sengaja," ucap Alexander yang baru menyadari jika dirinya menyentuh tangan Rossy sembarangan.


Alexander segera melepaskannya, dirinya sungguh tidak ingin jika Rossy membencinya lebih dalam lagi.


Berhadapan bersama Alexander cukup membuat Rossy tak mampu berkata apapun. Bukannya dirinya tidak ingin menerima seluruh hati sang pangeran, namun dirinya harus tetap berteguh hati karena sadar jika tidak akan selamanya berada di tempat itu.

__ADS_1


Raut wajah Alexander terlihat tak seperti biasanya. Wajah yang kadang terlihat tegas dan dingin, atau terkadang penuh senyuman hangat, kini hanya tersisa raut wajah penuh akan keputusasaan.


Deg!


Rasa sakit dan sesak kembali dirasakan oleh Rossy, setiap kali dirinya menolak ataupun berusaha mengabaikan Alexander. Pria itu benar-benar tulus, dan membuat dirinya ingin berlari kearah Alexander dan memeluknya erat..


"Rossy, kamu kenapa?" tanya Alexander khawatir karena sedari tadi Rossy hanya terdiam tanpa mengucap sepatah katapun.


"Maaf, maafkan aku," lirih Rossy mengingat semua perlakuannya belakangan ini kepada Alexander. 


"Maaf untuk apa? Kamu bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, Lady," ucap Alexander.


"Lady, bagaimana tawaranku? Aku akan menjamin seluruh kehidupanmu disini jika kau berkenan untuk menjadi permaisuriku," tanya William yang tak menyerah menjadikan Rossy sebagai pendampingnya menggantikan Celine.


Kepribadian Rossy yang tangguh dan pintar, sungguh membuatnya terpikat. Membuat William berpikir jika Rossy layak duduk mendampingi dirinya di atas takhta.


Sementara Rossy hanya menundukkan kepalanya, hatinya benar-benar resah terlebih saat mengingat mimpinya semalam.


Sebuah mimpi yang memberikannya peringatan dan masih terus menerus terngiang di dalam kepalanya hingga saat itu.


"Bagaimana, Lady?" desak William.

__ADS_1


"Tapi, kan anda tidak mencintai saya."


"Kata siapa saya tidak mencintai anda? Walaupun memang sejujurnya tidak sedalam itu, tetapi bukanlah hal asing untuk menikah secara politik yang bahkan tanpa cinta sekalipun di keluarga Kerajaan," jawab William.


'Rossy saya mohon padamu, jangan sampai Alexander berpikir untuk merebut takhta. Cukup ia menderita dengan pandangan orang-orang terhadapnya, saya tidak ingin Alexander semakin tersiksa hingga tak mampu bertahan lagi. Cepatlah selesaikan semuanya, jangan ditunda lebih lama lagi.'


Suara misterius di dalam mimpinya kembali terngiang-ngiang di kepala Rossy. Suara seorang wanita yang sangat lembut dan bahkan mampu menyentuh relung hati gadis itu.


"Lady, Lady."


Rossy tersentak lalu kembali menatap William, pria itu tak lepas memandangnya seolah menuntut kepastian dari Rossy.


"Apakah anda bersedia untuk segera mengisi takhta yang kosong secepatnya? Dan bertanggung jawab atas semua beban yang harus anda tanggung sebagai seorang kaisar?" tanya Rossy memastikan.


William tersenyum sumringah, wajah putus asa yang dulu terlihat padanya kini benar-benar sudah menghilang tak berbekas kembali. Dengan cepat ia pun menjawab, "Tentu saja. Itu semua sudah tanggung jawab saya. Saya sudah banyak menyusahkan Alexander, dan saya tidak ingin membebaninya dengan kewajiban yang seharusnya saya lakukan, jadi bagaimanakah jawabanmu?"


"Baiklah, saya bersedia. Tapi saya minta satu persyaratan," jawab Rossy.


"Apa, katakan saja?"


"Saya harap upacara pengangkatannya dilakukan saat Pangeran Alexander tidak berada di sini."

__ADS_1


__ADS_2