My Favorite Prince

My Favorite Prince
Menjelang Persidangan


__ADS_3

Alexander terus memikirkan perkataan Rossy yang terus menerus mengucapkan kata maaf pada dirinya. Perasaan hatinya benar-benar merasakan sebuah ketidaknyamanan, seakan ada sesuatu hal besar yang akan terjadi


Alexander menghela napasnya, rasanya sangat berat meninggalkan Rossy di dalam istana seorang diri. Seandainya memungkinkan, ingin sekali dirinya membawa serta Rossy menuju menara sihir.


Namun perjalanan menuju utara sangatlah jauh dan melelahkan, belum lagi bahaya yang mengintai di tengah perjalanan membuat Alexander mengurungkan niatnya.


Hari-hari berlalu, kini tiba waktu persidangan untuk Isabella. Tanpa terasa pula esok hari Alexander harus meninggalkan ibu kota. Rossy akan segera mencapai tujuannya untuk menjadikan William sebagai Kaisar namun, hatinya tidak senang seperti yang ia kira. Sepanjang hari ia hanya menatap luar jendela, berusaha mengukir semua kenangan di tempat itu jika dirinya sudah kembali ke dunianya berasal.


"Aku tidak ingin kembali," gumam Rossy sambil menatap ke luar jendela.


Kilasan kenangan indah bersama Alexander kembali berputar di dalam kepalanya, membuat hatinya terasa sesak walaupun hanya sekedar memikirkannya.


Rossy meraih secarik kertas dan pena bulu dari atas meja di dalam kamarnya, gadis itu pun mulai mencurahkan apapun yang membuat hatinya gelisah.


"Nona, ada kiriman gaun dari Yang Mulia Putra Mahkota."

__ADS_1


Rossy menoleh saat melihat Adele membawakan sebuah gaun yang akan dipergunakan saat mengikuti jalannya pengadilan. Gadis itu mengangguk lalu berkata, "Baiklah, tolong bantu saya untuk memakainya."


Rossy berjalan menyusuri koridor istana di temani Adele yang berada di belakangnya. Setiap langkah dan waktu yang ia lewati di sana, terus ia ukir agar tersimpan dengan apik di dalam ingatannya.


Keramahan para pelayan dan ksatria, membuat dirinya merasa berat jika tiba-tiba harus meninggalkan semuanya.


Rossy terus berpikir, bagaimana cara dirinya kembali ke dunianya berasal. Apakah dirinya masih sempat mengucapkan kata perpisahan ataukah akan menghilang tiba-tiba bagaikan di telan bumi?


Di persimpangan tiba-tiba dirinya berpapasan dengan Alexander. Pria itu pun tersenyum hangat seperti biasanya, membuat hati Rossy semakin tak kuat menahan perasaannya.


"Salam Yang Mulia Pangeran Alexander," ucap Rossy memberikan salam.


Namun siapa sangka, tiba-tiba saja William datang menghampiri. Pria itu bahkan langsung menarik tangannya Rossy, dan tak memberikan kesempatan bagi Rossy untuk mengucap salam kepada dirinya.


"Salam untuk Putra Mahkota," ucap Alexander sebagai bentuk kesopanan.

__ADS_1


"Lady akan pergi bersama saya, jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk menjaganya," ucap William sinis.


Rossy hanya menundukkan kepalanya, namun dirinya sempat melihat bagaimana senyuman Alexander yang terlihat berbeda.


Sorot mata birunya menyiratkan rasa kesepian yang mengusik hati Rossy, seakan dirinya ingin sekali berlari ke arah Alexander lalu memeluknya.


"Kalau begitu, saya pergi terlebih dahulu, Yang Mulia," ucap Rossy.


"Baiklah, hati-hati di jalan, Lady."


Alexander tersenyum menatap gadis yang sudah meluluhkan hatinya, walaupun ia harus menyembunyikan rapat-rapat rasa tidak nyaman setiap kali melihat Rossy bersama dengan William.


Pria itu tetap terdiam di tempatnya berada, dan terus menatap ke arah Rossy hingga bayangan gadis itu benar-benar telah menghilang sepenuhnya dari jangkauan matanya.


Kastil Owards, berada di ujung Selatan ibu kota. Tempat yang terkenal dengan kuburan Bangsawan itu adalah tempat pengadilan dan juga tempat ekseskusi mati para bangsawan yang melakukan kesalahan fatal.

__ADS_1


Marquess Nore sudah terlebih dahulu datang ke tempat itu, berharap secercah harapan jika sang putri dapat terbebas dari hukuman yang membelitnya.


Dari kejauhan Duke Robert Ferus tersenyum seringai melihat kegelisahan Marquess Nore. Pria itu seakan tak melewatkan kesempatan emas untuk kembali mengusik sang Marquess yang terkenal akan kesetiaannya.


__ADS_2