
"Hasil penjualan biji kopi selama 3 bulan terakhir meningkat dengan pesat. Lalu, masyarakat wilayah barat mulai berbondong-bondong mempelajari budidaya tanaman kopi dari benua Timur." Alexander mendengarkan dengan seksama, laporan perkembangan perekonomian masyarakat dari sang ajudan yang berada di sebelahnya.
Tanpa terasa tiga bulan telah berlalu semenjak saat itu, musim dingin pun sudah mulai berganti. Cahaya mentari terasa begitu hangat menelusup celah jendela ruangan tempat Alexander menghabiskan waktunya.
"Ide Nona Rossy benar-benar merubah cara pandang masyarakat terhadap kopi. Bahkan bisa dikatakan tidak hanya di ibukota, tren kopi mulai menjamur hingga kewilayah pelosok," ucap Alfons kembali yang seakan tiada habisnya memuji kepiawaian Rossy dalam mengembangkan bisnis.
Alexander tersenyum sambil terus membubuhkan cap dan tanda tangannya pada berkas-berkas yang berada di hadapannya.Bagi Alexander, Rossy adalah wanita yang istimewa dengan kemampuan fisik dan otak yang luar biasa.
"Sudah satu pekan dia tidak menemui ku. Sebenarnya apa saja yang ia lakukan?" tanya Alexander.
__ADS_1
"Entahlah, Yang Mulia. Namun, perubahan sikap Nona memang membuat segan para pelayan. Bahkan saya mendengar jika Nona hanya bicara seperlunya dengan Yang Mulia Putra Mahkota."
Seusai menyelesaikan berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani, kini perhatiannya setuju pada tumpukan surat yang baru saja datang pagi itu. Alexander membukanya satu persatu. Revolusi ekonomi yang terus menerus dikerjakan oleh dirinya dan Rossy, sontak membuat popularitas Alexander melambung. Para bangsawan mulai berhenti mencibirnya, bahkan mengundang Alexander untuk ke pesta.
"Bakar saja semuanya, saya tidak butuh semua sanjungan menjijikkan ini!"seru Alexander.
"Maaf Yang Mulia, ada satu lagi surat yang tersisa. Sepertinya ini dari keluarga Marquess Nore."
Alfons langsung menjalankan seluruh perintah dari Alexander tanpa banyak bertanya, membakar seluruh surat-surat dari para keluarga yang tidak dikehendaki oleh sang pangeran. Keluarga yang dulu menentang keberadaan Alexander dan pengesahannya menjadi seorang pangeran, sedangkan untuk keluarga Marquess Nore, Alexander sudah yakin jika surat yang dikirimkan adalah surat permintaan pernikahan yang terus menerus datang walaupun berkali-kali sudah dirinya tolak.
__ADS_1
Setelah semuanya usai akhirnya Alfons meninggalkan Alexander seorang diri. Membuat pikiran pria itu kembali terusik, oleh ingatannya saat tak sengaja mendengar Rossy berbicara dengan suara misterius saat dirinya tengah terbaring sakit 3 bulan yang lalu.
"Jika menjadi kaisar bisa menahanmu disini, akan aku lakukan walaupun aku tak menyukainya," gumam Alexander yang mengetahui, jika cara Rossy untuk kembali ke dunianya adalah dengan cara membuat William move on dan naik takhta.
Tampaknya pria itu sudah terjebak dengan perasaan pribadinya sendiri. Semakin lama dirinya mengenal dan bersama dengan Rossy maka semakin ia menyadari jika perasaannya pada gadis itu semakin istimewa.
Waktu menjadi momok paling menakutkan untuk Alexander. Bagaimana tidak, karena Rossy yang muncul secara ajaib dan tiba-tiba bisa saja kembali dengan waktu yang tiba-tiba dan tak diduga.
Sementara ditempat berbeda, Rossy terlihat beristirahat sejenak guna melepaskan rasa lelah yang ia rasakan. Sejak hari itu, kedekatan dirinya dengan William mulai merenggang, membuat keduanya kembali berada di titik nol.
__ADS_1
"Kalau seperti ini terus, kapan aku bisa kembali? Dasar manusia keras kepala, sudah tahu salah tapi tidak introspeksi diri," cerocos Rossy.
Seorang pelayan datang dan menyuguhkan teh untuk dirinya. Rossy mengerutkan keningnya saat menatap wajah pelayan tersebut yang terlihat menegang lalu berkata, "Hei kamu, ayo minum teh bersamaku!"