My Favorite Prince

My Favorite Prince
Provokasi


__ADS_3

'Aku akan menjadi Kaisar, asalkan kamu yang menjadi permaisuriku.'


Perkataan William terus menerus mengganggu pikiran Rossy, membuat dirinya merasakan suatu ketidaknyamanan karena terjebak di antara Alexander dan juga William.


"Gak bisa begini, aku harus segera membuat William bersedia naik takhta! Aku memang suka berada di sini, tetapi aku gak mau mereka kembali bertengkar karena ku," gumam Rossy.


Rossy menuangkan secangkir teh untuk dirinya nikmati seorang diri di dalam kamarnya. Kepalanya terasa sakit karena beban yang harus ia tanggung atas perasaan kedua orang pangeran tersebut.


"Nona, Yang Mulia Putra Mahkota meminta anda untuk menemaninya makan malam bersama," ucap Adele memberitahu perintah dari William yang seenaknya. Rossy menghela napasnya kembali, rasanya sungguh malas mengikuti perintah William. Namun sayangnya, posisinya saat ini tidak memungkinkan untuk menolak. 


"Lalu, Yang Mulia memberikan sebuah gaun dan sepasang sepatu untuk Nona. Beliau mengatakan jika berharap Nona berkenan mengenakannya saat perjamuan makan malam nanti," sambung Adele kembali.


"Hah, untuk apa repot-repot seperti itu? Hanya makan malam saja," gumam Rossy.


Rossy bangkit dari tempat duduknya dan berkata,"Tolong bantu aku bersiap-siap, Adele."


***


Sebagai etika di istana, sudah semestinya Rossy sampai terlebih dahulu sebelum keluarga istana sampai di ruang makan. 

__ADS_1


Langkahnya tiba-tiba terhenti karena Putra Mahkota sudah datang terlebih dahulu walaupun waktu makan masih kurang dari lima belas menit lagi.


"Lady Rossy memasuki ruangan!" seru seorang pelayan, menandakan jika seseorang memasuki ruangan itu.


"Salam untuk Matahari kecil kekaisaran, maafkan saya karena datang terlambat," ucap Rossy setelah membungkuk dan mengangkat sedikit sisi kanan dan kiri gaun yang ia kenakan.


Melihat Rossy yang mengenakan seluruh pemberiannya tentu saja menjadi sebuah kepuasan tersendiri untuk William. Pria itu tersenyum lebar terutama saat melihat kecantikan Rossy dengan gaun berwarna gold yang diberikan olehnya.


Rossy mulai menempati sebuah kursi yang berada di sisi kanan Putra Mahkota hingga seorang pelayang kembali berseru, "Yang Mulia Pangeran kedua Alexander memasuki ruangan!"


Deg!


"Salam untuk Matahari kecil kekaisaran," ucap Alexander memberikan salam.


"Duduklah, Alex!" seru William.


Alexander memilih tempat dihadapan William tetapi juga merupakan tempat paling terjauh dari jangkauan William ataupun Rossy.


Suasana di ruangan itupun semakin dingin dan sunyi, hanya terdengar sesekali dentingan garpu dan pisau yang tak sengaja bersinggungan.

__ADS_1


"Saya tidak menyangka, gaun yang saya berikan akan pas dan sangat cocok untuk Anda, Lady. Anda benar-benar terlihat cantik, betulkan Alex?" William sengaja memprovokasi Alexander yang sedang berusaha tenang dengan fokus pada hidangan di hadapannya. Pria itu tersenyum seringai, seakan menegaskan jika dirinyalah pemegang kekuasaan sesungguhnya badan mampu memberikan apapun untuk Rossy daripada Alexander. 


"Ya, benar. Tetapi warna itu terlalu berlebihan, karena setahu saya Lady lebih menyukai warna yang lebih lembut," jawab Alexander tak mau kalah.


Rossy hanya tersentak tipis, berusaha tidak menanggapi Kakak adik yang berhasil membuat dirinya sakit kepala. Rossy terus saja berfokus pada makanannya dan berharap segera menyelesaikannya agar ada alasan untuk dirinya pergi dari ruangan itu.


"Lady, tentang Marquess Nore dan putrinya, saya sudah mempertimbangkan permohonan anda," ucap William kembali.


Alexander yang mendengar tersebut seketika mengernyitkan keningnya dan berkata, "Lady Nore ingin mencelakai Rossy, dan dengan mudahnya kau mempertimbangkannya semuanya! Tidak bisa, dia sudah melakukan sesuatu yang fatal!"


"Tapi Lady sendiri yang menginginkannya. Sebagai seorang Putra Mahkota yang memimpin kekaisaran, merupakan hal bijak jika kembali mempertimbangkan semuanya. Lagipula kau harus ingat, jika semua keputusan ada di atas telapak tanganku ."


"Terima kasih atas hidangannya, saya izin untuk diri terlebih dahulu!" Alexander bahkan belum menyelesaikan setengah dari makanan yang tersaji di atas piringnya.


Alexander keluar dengan perasaan kesal akan perkataan dan sikap William. Kalimat yang dilontarkan oleh putra mahkota seolah menegaskan jika Alexander tak memiliki hak apapun dalam mengambil keputusan, hanya dirinyalah calon penguasa yang mampu mengabulkan semua keinginan Rossy. Dimulai dengan hal kecil hingga hal besar.


"Takhta belum ada yang menempati, William. Lagi pula selama ini hanya aku yang bekerja mengurus semuanya, bukan kau!" gumam Alexander tidak terima.


Sang pangeran yang tidak memiliki obsesi apapun terhadap takhta nampaknya mulai terprovokasi. Alexander berpikir jika dengan naik ke atas takhta akan membuat dirinya diakui, dia juga akan mampu menahan Rossy agak tak dapat kembali ke dunianya berasal. 

__ADS_1


__ADS_2