
Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Alexander merasakan amarah yang tak terkendali lagi. Dengan sekali serangan sihir Alexander berhasil menghancurkan jeruji yang terbuat dari baja.
PRANG!
Tubuh Isabella bergetar hebat. Pria yang selama ini terlihat tenang kini berubah menjadi buas dan menakutkan.
Alexander menyeret pedang yang ia bawa hingga bergesekan dengan lantai dan menimbulkan bunyi decitan, membuat suasana menjadi semakin mencekam.
"Kau pikir nyawa seseorang adalah mainan?" tanya Alexander sambil terus menatap Isabella yang bergetar di sudut ruang penjara.
"M- maafkan saya, Yang Mulia. Saya salah, saya mohon pengampunan!" Isabella bersimpuh dengan wajah pucat dan air mata yang tiada henti mengalir. Semakin Alexander mendekat jantungnya kian berdebar, dan semakin gemetar pula tubuhnya hingga ia pikir jika dirinya bahkan tak sanggup untuk sekedar berdiri.
"Pengampunan? Kamu mohon pengampunan? Ha-ha-ha Lady Nore, mana wajah angkuhmu itu? Kenapa kau terus menunduk?" tanya Alexander seraya tersenyum seringai.
"Lalu mana hilangnya perkataan arogan mu itu?" sambung Alexander kembali.
__ADS_1
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Isabella selain permintaan maaf, gadis itu semakin menangis, karena rasa takut yang sudah meluap di dalam hati.
"Isabella Antonius Nore, seujung kuku saja kau berani menyakiti Rossy maka saya tak segan untuk membalasnya sepuluh kali lipat," ucap Alexander.
"K-kenapa, kenapa anda segitunya melindunginya?" Isabella memberanikan diri untuk bertanya walaupun rasa takut masih mendominasi sanubarinya.
Namun mengingat perasannya pada Alexander, hingga rela menjatuhkan harga dirinya untuk mengirimkan lamaran walaupun harus berakhir dengan penolakan berkali-kali, mendorong gadis itu spontan bertanya walaupun nyawanya berada di ujung tanduk.
Dengan mimik wajah yang masih datar tanpa Isabella duga, Alexander mengatakan sesuatu yang terasa bagaikan sesuatu yang tidak mungkin.
"Karena aku mencintainya."
PRANG!
Alexander tersentak dan langsung menoleh ke arah sumber suara berasal. Pria itu berlari dan mendapati Rossy yang terdiam dengan lilin berserta wadahnya yang terjatuh ke lantai. Gadis itu mematung menatap Alexander, nampaknya Rossy mendengar seluruh perkataan Alexander kepada Isabella.
__ADS_1
"Lady," ucap Alexander.
Suara Alexander membuat kesadaran Rossy kembali pada tempatnya. Setelah memanggil beberapa orang ksatria penjaga untuk memindahkan Isabella menuju sel lain, Rossy menggenggam tangan Alexander dan membawanya menuju taman yang berada di Istana utama.
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah sengaja mengikuti kamu, tapi sepertinya ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ucap Rossy memulai pembicaraan.
Alexander menganggukkan lalu menggiring Rossy untuk berjalan di sebuah jembatan kecil yang berada di kolam buatan.
Gemericik suara air dengan berbagai ikan berwarna warni, ditambah dengan taman bunga yang indah bermekaran pada musim semi, menunjang suasana hangat dan menenangkan saat itu.
Rossy menatap pemandangan indah yang tersaji di depan matanya, lalu perlahan menghela napasnya dan kembali berkata, "Yang Mulia, saya tidak berani berspekulasi. Saya menanyakan ini semua karena takut jika apa yang saya pikirkan keliru."
"Tidak, semua memang seperti apa yang kamu dengar. Aku mengungkapkan semua apa adanya tanpa ada yang ku sembunyikan." Alexander menjawab dengan cepat pertanyaan yang Rossy lontarkan. Pria itu menatap mata Rossy dengan erat seakan takut jika gadis itu menghilang jika dirinya berkedip sebentar saja.
"Tapi ...," ucapan Rossy terjeda kala Alexander meletakkan jari telunjuk tangannya tepat di depan bibir gadis itu.
__ADS_1
Alexander mulai meraih kedua tangan Rossy dang menggenggamnya erat.
Alexander menatap lekat wajah Rossy dan berkata, " Lady, aku ingin mengakui sesuatu."