
Waktu tempuh lima hari perjalanan kini Alexander tempuh hanya dalam waktu empat hari saja. Setelah perjalanan panjang yang menghabiskan banyak tenaga, akhirnya ia sampai di menara sihir yang merupakan tempat pelariannya selama ini.
Kehadirannya tentu saja disambut oleh para perwakilan penyihir, yang menjadi pengurus dari tempat tersebut.
"Selamat datang Yang Mulia Pangeran Alexander, akhirnya Anda kembali datang ke sini," ucapnya dengan ramah.
Diantar dengan wakil pengurus menara sihir, Alexander pun berjalan menuju kamar miliknya. Sebuah kamera yang dipenuhi buku-buku tentang sihir, dan juga berbagai percobaan yang ia lakukan.
"Aldrich, bagaimana keadaan menara sihir selama aku tinggal?" tanya Alexander tiba-tiba saat mereka masih berjalan menuju kamar Alexander.
"Menara sihir baik-baik saja. Hanya saja anak-anak didik tampaknya merindukan Anda lebih dari yang saya kira," ucap Aldrich, wakil Alexander yang kini telah memasuki usia setengah abad.
__ADS_1
Alexander tersenyum lalu menghembuskan napasnya dan berkata, "Sepertinya saya akan mundur dari posisi saya sebagai kepala menara. Ada banyak hal yang harus saya urus di Istana, yang tak memungkinkan bagi saya untuk kembali secepatnya ke sini."
"Tapi, tidak ada yang lebih pantas dari Anda untuk memimpin menara. Saya sendiri bahkan jauh dari kata pantas, terlebih kekuatan saya jauh di bawah Anda," ucap Aldrich.
"Kau sangat pantas, Aldrich. Nanti sore mari kita bicarakan kembali! Lalu, tolong buatkan gulungan teleportasi. Setelah saya mengurus semuanya, saya harus segera sampai ke Istana! Ada seseorang yang menunggu saja di sana."
***
"Nona saya mohon, lebih baik anda bersembunyi! Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada Anda." Suara rengekan Adele terasa memenuhi kamar Rossy.
"Ya, Lady. Saya tidak setuju dengan keputusanmu. Duke sangat berbahaya dan bisa saja mencelakai mu, lebih baik kau tetap berada di sisiku dan juga di sisi Sir Caine," sahut William yang turut berada di sana.
__ADS_1
"Gak bisa! Terlalu lama keputusan pengadilan yang Anda ajukan, Yang Mulia! Sekarang adalah sebuah kesempatan emas, untuk membuat Duke Ferus mendapatkan hukuman secepatnya. Terlebih dengan segala bukti kejahatan yang ia punya, kita bisa semakin memberatkannya!" seru Rossy yang tampak keras kepala dengan keputusan yang ia buat.
Rencana penculikan Rossy diungkapkan oleh Adele, membuat Rossy dan William terus memikirkan jalan keluarnya. Namun, berbeda dengan pendapat William. Rossy lebih memilih untuk berpura-pura masuk ke dalam jebakan, semua ini tidak lain karena pengajuan pengadilan atas Duke Ferus sangat berjalan lambat dan membuatnya semakin tidak sabar untuk segera membereskan segalanya.
Rossy tidak ingin mengukur waktu lebih lama, ia ingin William segera naik takhta tanpa ada masalah lama yang mengikuti, sebelum Alexander kembali tiba di ibukota.
Ketakutannya berpisah dengan Alexander setelah melihat wajah sang pangeran membuatnya berani menghadapi Duke Ferus. Ia sama sekali tidak peduli, seberapa berbahayanya seorang Robert Ferus yang bisa saja merenggut nyawanya dalam sekejap.
"Tidak! Kau harus tetap berada di kamar. Saya akan memperketat penjaga di kamar Anda, Lady!" seru William seraya berjalan keluar dari kamar Rossy.
"Hah ... bagaimana ini?" Rossy bergumam setelah menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
Kedatangan para ksatria dalam waktu singkat tentu saja akan membuatnya sulit untuk keluar. Rossy berusaha memutar balik kepalanya, lalu tak lama melirik ke arah Adele sambil tersenyum.
"Adele, kamu harus membantuku!"