My Favorite Prince

My Favorite Prince
Penculikan


__ADS_3

"Kekuatan tersembunyi Naga untuk Sihir?" Alexander mengerutkan keningnya kala mendapati sebuah buku kuno yang bahkan cukup berdebu


"Naga?" gumamnya sambil terus mengingat sesuatu.


Seketika Alexander teringat akan mimpinya saat dulu ia tak sadarkan diri akibat kontrak sihir. Sebuah mimpi aneh dimana ia bertemu dengan mendiang ibunya lalu sedikit berbincang sesuatu yang bahkan ia tak mengerti.


"Jantung naga? Tapi, untuk apa?" gumamnya kembali.


Sudah nyaris dua buku sudah ia baca dengan teliti. Namun, tak ada satupun yang menjelaskan detailnya. Semuanya hanya membuat Alexander semakin bertanya akan sosok makhluk magis yang keberadaannya bagaian semua legenda belaka.


Bros yang biasa selalu dikenakan oleh Alexander tiba-tiba saja berubah menjadi warna merah menyala. Seketika Alexander terkesiap, dan terperanjat mengingat itu adalah sebuah tanda jika Rossy dalam bahaya.


Dengan panik Alexander mendatangi ruang dimana terdapat benda-benda sihir. Yang ada di kepalanya saat itu adalah, untuk segera kembali ke ibukota yang berjarak sangat jauh dalam waktu sesingkat mungkin.


"Yang Mulia, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penyihir yang bertugas untuk menjaga ruangan itu.

__ADS_1


"Tolong berikan saya lembaran teleportasi! Saya harus segera kembali!" seru Alexander.


Penyihir penjaga yang memili nama Chelpi itu tampak gugup dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Untuk lembaran teleportasi sejauh itu kami masih tahap pembuatan, dan baru akan selesai tiga hari lagi sesuai keinginan Anda."


Mendengar jawaban itu Alexander tak bisa berbuat apapun, karena dia mengertilah jika sama halnya seperti sebuah kontrak sihir pengikat jiwa, teleportasi jarak jauh juga harus menggunakan mana yang sangat banyak dan tidak bisa dibuat dengan terburu-buru.


Alexander terus memikirkan cara lain agar secepatnya bisa kembali ke ibukota. Namun sebelumnya ia harus mendinginkan pikirannya sejenak, ia tak ingin jika salah dalam mengambil sebuah keputusan karena di dominasi oleh perasaan yang memenuhi hatinya.


'Sial! Kenapa perasaanku benar-benar terasa tidak enak!'


"Bagaimana kalau lembaran jarak pendek? Setidaknya itu bisa memangkas waktu perjalananku daripada hanya berkuda saja," tanya Alexander.


"Hanya ada tiga buah, Yang Mulia. Setidaknya bisa memangkas waktu dua hari perjalanan."


"Ya sudah tidak apa-apa. Yang terpenting aku bisa lebih cepat sampai ke Istana. Terima kasih banyak atas bantuannya, saya harus menemui wakil menara terlebih dahulu."

__ADS_1


***


"Wanita dalam ramalan ha-ha-ha"


Suara Robert menggema memenuhi seluruh sudut ruangan. Rossy yang terus berpura-pura pingsan menyiapkan seluruh pendengarannya untuk menguping apa saja yang dikatakan oleh Robert.


"Apa yang harus kita lakukan padanya?" tanya seorang pria yang Rossy duga adalah Henry, Sang ksatria pengkhianat.


"Tenang saja, dia bukanlah apa-apa tanpa Alexander. Dia bahkan tak jauh berbeda dari seorang pelayan wanita yang siap merangkak ke atas ranjang tuannya," jawab Robert.


'Sialan, ingin sekali ku robek mulutnya yang busuk itu!'


Ingin rasanya Rossy mengumpat, mengeluarkan segala perasaan kesal yang sudah di tadi ia pendam. Namun, Rossy sekuat tenaga menahan diri. Karena dia sama sekali tidak boleh menunjukkan kekuatannya dan berpura-pura menjadi lemah jika tanpa adanya Alexander.


"Bukankah dia cantik? Bagaimana kalau kita jual di pasar budak?" usul Henry

__ADS_1


Robert terdiam sejenak sambil terus memikirkan ide dari Henry. Bagaimanapun sosok fisik Rossy adalah sesuatu yang langka di sana dan akan sangat terlihat mencolok.


"Saya tahu apa yang Anda khawatirkan, Tuan. Tapi, kita bisa melakukannya di lelang pasar gelap. Pihak istana tidak akan tahu karena dia pasti akan terjual di luar wilayah kekaisaran."


__ADS_2