My Favorite Prince

My Favorite Prince
Rumor


__ADS_3

Suara langkah kaki kuda kian terdengar mendekat di susul sosok yang terlihat dari balik salju. William yang baru saja ingin kembali masuk ke dalam istana pun mengurungkan niatnya, lalu menyipitkan matanya guna melihat sosok tersebut.


"Yang Mulia Pangeran Alexander dan Lady Rossy telah kembali!" Suara para penjaga gerbang istana membuat William bisa bernapas dengan lega.


Pikiran buruk yang menyelimutinya seakan langsung terhempas tanpa tersisa.


Kuda yang ditunggangi oleh Alexander dan Rossy pun tiba di urutan pertama, disusul oleh Caine dan dua orang kesatria lainnya.


"Salam untuk Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Rossy sesaat setelah dirinya turun dari kuda dan menghadap William.


"Kau harus sadar jika tugasmu di sini untuk melayani segala kebutuhanku, bukannya berpergian hingga lupa waktu dengan Alexander!"

__ADS_1


Alih-alih menanyakan kondisi Rossy dan Alexander, William lebih memilih mengatakan sesuatu yang sangat menjengkelkan. Pria itu bahkan memasang wajah masam, sangat berbanding terbalik dengan raut wajah kala dirinya tengah mencari dan mengkhawatirkan keadaan Rossy dan Alexander.


"Sudahlah, segera istirahat lalu nanti sore bawakan camilan dan teh untuk saya!" seru William lalu berbalik dan masuk ke dalam istana.


Sementara itu, semua orang yang berada di sana tampak kebingungan dengan tingkah laku William, bahkan mereka saling pandang satu sama lainnya secara bergantian, seakan tengah menanyakan apa yang terjadi lewat gerakan mata.


"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat. Kondisimu semalam belum benar-benar membaik, kan? Apa ada yang masih terasa sakit?" tanya Alexander kepada Rossy.


Alexander pun mengangguk dan tersenyum, bahkan pria itu terus saja menatap hangat Rossy hingga benar-benar tak terlihat lagi oleh jangkauan matanya. Semua yang terjadi tentu saja tak luput dari pandangan Caine, bahkan kini pria itu terus saja salah paham dengan percakapan ringan antara Alexander dan juga Rossy yang baru saja ia dengar.


Sementara itu William melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya berada. Rasa kesal tiba-tiba saja ia rasakan sesaat setelah dirinya melihat kedatangan Rossy dan Alexander yang menunggangi kuda yang sama.

__ADS_1


Pria berambut kuning bak emas itu bahkan tidak memerdulikan sapaan orang-orang yang berpapasan dengan dirinya. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah sebuah pertanyaan, apa yang dilakukan oleh Alexander dan juga Rossy hingga mereka menghilang dalam waktu satu malam?


"Hah, aku tidak peduli! Aku hanya kesal karena ia melalaikan tanggung jawab pekerjaannya!" ucap William mencoba mencari jawaban sendiri atas apa yang menjadi kegundahan hatinya.


Pria itu pun segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat, berusaha untuk melupakan kekesalannya dan perlahan-lahan mencoba kembali memulai hobinya yang sempat terabaikan selama satu tahun.


Kabar menghilangnya Pangeran Alexander bersama Rossy sontak saja tersebar dari mulut ke mulut antar bangsawan. Bahkan ada banyak orang yang menambahkan bumbu-bumbu atas rumor tersebut hingga menjadi sebuah kesalahpahaman. Banyak di antara mereka menjadikan rumor tersebut sebuah topik hangat di acara pesta minum teh, hingga akhirnya rumor tersebut pun sampai di telinga putri Marquess Nore.


"Lady Isabella, bukannya anda menggadang-gadang jika akan menikah dengan Yang Mulia Alexander? Lantas apa tanggapan anda setelah mengetahui Pangeran mengencani seorang wanita asing tersebut?" tanya Belle Maksim, yang merupakan putri sulung dari seorang Duke Jacob Adour Maksim.


Kalah dalam tingkatan keluarga, membuatnya tak mampu membalas tatapan Belle yang mengejek. Gadis itu hanya bisa menahan kesalnya dengan menutupi sebagian wajah dengan kipas tangannya.

__ADS_1


'Sialan, jika aku menjadi keluarga kekaisaran. Akan aku potong lidah busukmu itu!'


__ADS_2