
Rossy tampak tergesa-gesa selepas dirinya turun dari kereta kuda. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat, yaitu kamar Putra Mahkota.
"Ada yang bisa dibantu, Nona?" tanya Helena, salah satu pelayan yang menggantikan seluruh tugas Rossy sebagai dayang Putra Mahkota.
"Apakah Yang Mulia berada di dalam kamarnya?" tanya Rossy.
"Yang Mulia sedang berada di ruang rapat. Mungkin sebentar lagi akan segera selesai."
"Baiklah, saya akan menunggu di sini saja. Tolong sampaikan pada Baginda setelah beliau usai!" seru Rossy yang seakan tak ingin menunggu dimana pun.
Gadis itu tetap bersikukuh berdiri di depan kamar William. Sambil menyembunyikan berkas-berkas bukti kejahatan Duke Ferus di dalam gaun yang ia kenakan. Cukup lama gadis itu berada di posisinya dengan harap-harap cemas. Hingga tiba-tiba dari kejauhan terlihat sosok William dengan mengenakan pakaian lengkap layaknya seorang putra mahkota.
"Lady, segitu rindunya kah dirimu padaku?" goda William seraya mengecup punggung tangan Rossy.
Rossy melirik ke kanan dan ke kiri lalu membekap mulut William dengan tangannya, dan menarik William untuk masuk ke dalam kamar secepat mungkin.
__ADS_1
"Yang Mulia maafkan kelancangan saya. Tapi saya mohon jangan berisik!" bisik Rossy.
William tersenyum saat melihat wajah Rossy yang serius. Sifat gadis itu yang dingin pasca kasus Adele, memberikan kesan dan pesona tersendiri bagi William. Pria itu mengecup tangan Rossy yang sedari tadi membungkam mulutnya, membuat Rossy terkejut dan langsung menarik tangannya kembali dari bibir William.
"Apakah kamu sadar jika posisi seperti ini sangat berbahaya, Lady?" goda William kembali, yang kini membuat Rossy mundur selangkah dari hadapan William.
Gadis itupun berdeham lalu mengeluarkan dokumen berupa gulungan kertas dari dalam gaun yang ia kenakan tanpa rasa malu. Perbuatan Rossy tanpa disadari membuat wajah sang Putra Mahkota memerah, lalu memalingkan wajahnya agak tak berpikiran macam-macam.
"Jangan berpikiran aneh-aneh, lebih baik anda singkirkan pikiran mesum anda!" ceplos Rossy dengan wajah datar, tanpa memperdulikan etika di hadapan Putra Mahkota.
Rossy menghela napasnya dan tak berniat melanjutkan pertengkaran dengan Putra Mahkota. Ia pun segera menyerahkan dokumen tersebut pada William agar bisa segera mengambil tindakan.
"Bacalah! Kita harus lekas bertindak!" seru Rossy.
William menerima gulungan dokumen itu dan membacanya dengan seksama. Semakin lama ia membaca maka raut wajah sang putra mahkota pun semakin berubah. William mengerutkan keningnya, pria itupun lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Rossy lalu berkata, "Apa ini? Dimana kamu mendapatkan semua ini?
__ADS_1
"Marquess Nore yang memberikannya kepadaku. Saya harap anda segera bertindak karena tindakan yang dilakukan oleh Duke Robert Ferus kian mengkhawatirkan," jelas Rossy.
"Mengkhawatirkan?"
"Ya, Duke beberapa kali berusaha mengirimkan sekelompok pembunuh bayaran padaku dan Alexander saat kami keluar Istana. Bahkan dengan tega ia memonopoli pasar dan memungut pajak sesuka hatinya, walaupun Istana sudah membebaskan para pendagang kecil dari pajak. Hal itu tentu saja membuat kepercayaan rakyat kecil pada istana mulai berubah, mereka yang tidak tahu jika semua hanya akal-akalan Duke pun mulai menyalahkan istana karena tidak konsisten akan kebijakan yang sudah disuarakan," ucap Rossy menjelaskan.
William berpikir sejenak dan mencerna semua penjelasan Rossy, tatapan pria itu masih tajam melihat tumpukan dokumen krusial tersebut.
"Jadi, ulahnya sama saja menghina dan menorehkan aib pada wajah kekaisaran?" tanya William kembali.
"Ya, betul Yang Mulia."
"Baiklah, saya mengerti dan akan segera melakukan penyelidikan. Tapi, satu hal yang saya ingin tanyakan!" seru William menjeda perkataannya.
William selangkah demi selangkah mendekati Rossy dan berbisik tepat di telinga gadis itu.
__ADS_1
"Jadi, kapan kau keluar bersama Alexander? Bukannya aku sudah melarangnya?"