My Favorite Prince

My Favorite Prince
Pengorbanan


__ADS_3

Suhu udara yang jauh berada di bawah ambang batas normal nampaknya tak membuat tekad Alexander goyah sedikitpun. Sudah tiga pekan lamanya sejak dirinya pergi dari ibukota, Alexander terus melanjutkan perjalanan menuju ujung Utara benua yang terkenal dingin dan dipenuhi oleh para makhluk magis.


Hamparan salju tak berujung yang dihiasi oleh pepohonan pinus, cukup membuat Alexander kesulitan bertahan dalam cuaca yang ekstrim. Serangan gerombolan serigala salju pun tak bisa ia abaikan, terlebih serigala yang terdapat di sana merupakan mahkluk magis yang memiliki kekuatan 10 kali lipat dibandingkan serigala pada umumnya.


"Naga, aku harus menemukan naga! Aku yakin akan mimpi itu!" gumam Alexander sambil terus berusaha menghangatkan tubuhnya dengan kemampuan sihir yang dimiliki.


Lima tahun berlalu di dunia itu bagaikan neraka bagi seorang Alexander.


Satu tahun ia lalui untuk menunggu Rossy, tepat di jalan saat dirinya pertama kali menemukan gadis itu. Berharap ada sebuah keajaiban, dan berharap tiba-tiba Rossy muncul kembali di tempat itu.


Namun semua waktunya terbuang percuma dengan sia-sia, yang diharapkan oleh sang pangeran tinggallah sebuah harapan belaka.


Alexander yang nyaris gila karena rasa putus asa, mencoba untuk bertahan karena ia sangat mengetahui jika Rossy tidak menyukai seseorang yang tenggelam dalam kesedihan hingga tak mampu melakukan apa-apa, seperti saat William meninggalkan seluruh tanggungjawabnya.


Tak ingin menjadi seperti William, Alexander kembali memutar otak. Ia pun memutuskan untuk kembali ke menara sihir untuk mengumpulkan petunjuk sambil berusaha meningkatkan kekuatan sihir yang ia miliki.

__ADS_1


Tiba di tahun ketiga setelah Rossy menghilang. Alexander menemukan sebuah petunjuk dari sebuah buku usang, yang menjelaskan tentang penaklukan naga yang mampu mengabulkan permohonan dengan imbalan tertentu. Hal tersebut tentu sedikit membuat Alexander mendapatkan angin segar, hingga membuat dirinya bersusah payah menemukan makhluk mitologi yang keberadaannya bak sebuah legenda belaka.


Mentari kian tenggelam, hanya cahaya bulan yang menerangi langkah kaki Alexander.


Rasa lelah yang menerpa membuat Alexander menghentikan langkah kakinya, ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil memandangi langit yang dihiasi oleh aurora yang indah.


'Auuuuuu ...'


Lolongan panjang saling sahut bersahutan yang dipercaya berasal dari serigala salju seketika membuat Alexander tersentak.


Alexander berusaha sekuat tenaga menunggangi kuda miliknya menjauh dari arah suara lolongan berasal. Mencari tempat yang aman setidaknya untuk melewati malam itu.


Auuuuuu!


Alih-alih menghilang, suara tersebut kembali terdengar dari berbagai sisi. Seolah Alexander tengah terkepung oleh kawanan serigala yang kelaparan.

__ADS_1


'Sial!'


Tak ada pilihan selain bertarung saat itu juga. Bayang-bayang serigala muncul dari balik pepohonan dan berjalan semakin mendekat ke arahnya hingga kini terlihat jelas.


Bukan hanya empat atau lima ekor serigala yang terlihat mengepung dirinya saat itu, tetapi sepuluh ekor serigala salju berdarah campuran mulai menargetkan Alexander menjadi mangsanya.


'Grrrrrr ...'


Salah satu serigala tersebut mengerang lalu melompat menerkam Alexander. Sontak Alexander segera melayangkan pedangnya, berusaha melawan dengan kekuatan sihir dan juga fisiknya sekaligus.


Krak!


Alexander tersungkur, sambil menahan sakit pada kakinya. Saat seekor lainnya berhasil melukai kali kanannya. Namun, ia berusaha untuk kembali bangkit mengingat jika tujuannya tinggal sedikit lagi untuk menemukan petunjuk besar keberadaan sang kekasih hati.


Alexander mengumpulkan seluruh mana yang tersisa di dalam tubuhnya pada titik, lalu mulai menyatukan dengan kekuatan sihir yang akan ia keluarkan. Ledakan besar terjadi hingga membuat salju mencair hingga radius dua kilometer, serta menjadikan area tersebut bagaian tanah tandus berdebu.

__ADS_1


Darah menetes dari hidung dan telinga Alexander. Ia melihat para serigala, kuda miliknya hingga pepohonan di area tersebut tampak tak tersisa dan menjadi debu di tengah area bersalju. Perlahan pandangannya menjadi buram hingga akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran.


__ADS_2