My Favorite Prince

My Favorite Prince
Pasrah


__ADS_3

Ha! Ha! Ha!


Suara tawa terdengar lepas dari kedua insan yang tengah bercengkrama dengan damai di depan perapian. Alexander tidak kuasa menahan rasa tawanya setelah mendengar seluruh cerita Rossy tentang putra mahkota hari itu.


"Kau ini benar-benar ya, Lady. Cuma anda yang berani dengan putra mahkota sampai memaksanya seperti itu." Alexander berkata sambil sesekali meminum secangkir teh hangat yang ia genggam.


"Saya paling benci dengan yang namanya penolakan. Yang Mulia juga pasti tahu  jika saya bersikap sungkan pada putra mahkota, maka semua usaha saya menjadi dayangnya akan sia-sia belaka," jawab Rossy dengan santainya.


Sinar rembulan remang-remang terlihat dari jendela yang berada di sampingnya. Malam bersalju yang biasanya dilewatkan Alexander dengan kehampaan, kini terasa berbeda karena kehadiran sosok Rossy.


"Alexander, kamu bisa menyebut namaku saja jika kita hanya berdua. Berbicara informal saja, sepertinya lebih enak didengar," pinta Alexander tiba-tiba.


Rossy terkejut dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh Alexander, gadis itu terperangah hingga bibirnya membentuk huruf o.


"T-tapi, Yang Mulia. Itu sangat tidak sopan!" jawab Rossy terbata-bata. Rossy tidak menyangka jika seorang Pangeran Alexander yang ia kagumi membiarkan dirinya hanya memanggil nama saja, bukankah jika di negri itu, hal tersebut hanya dilakukan oleh seseorang yang merasa sudah nyaman dan dekat satu sama lainnya?

__ADS_1


"Lebih tidak sopan mana, memanggil namaku saat kita berdua saja atau memperlakukan putra mahkota seenaknya seperti hari ini?"


"Saya tidak bisa mengelak, saya menyerah!" jawab Rossy terkekeh kecil berusaha menutupi rasa senang. Jauh di dalam hatinya gadis itu bersorak sorai, hingga rona merah muda terlihat jelas di wajahnya.


Pandangan matanya Alexander tampak berfokus pada wajah dan senyuman gadis yang berada di hadapannya. Entah sejak kapan, Rossy benar-benar telah menyita perhatiannya. Gadis itu seakan menjadi magnet, dan terus menerus membuat Alexander tak bisa mengalihkan pandangan matanya.


"Rossy, besok sore mau kah kamu menemaniku berjalan-jalan?" tanya Alexander kembali.


Dengan sumringah Rossy yang sudah bosan jika terus berada di dalam istana pun segera menjawabnya, "Mau! Tentu saja aku mau!"


Jantung gadis itu berdebar kencang, semua bagaikan mimpi di siang bolong. Alexander yang biasanya bersikap dingin dan angkuh pada wanita kini terasa sangat hangat menyambutnya, semua membuat pikiran Rossy menjadi penuh, dan membuatnya tak sengaja bergumam dengan spontan.


"Apakah ini tawaran untuk kencan?" gumam Rossy spontan, seakan bibirnya secara reflek mengatakan sesuatu yang ada di dalam pikiran gadis itu.


"Kencan?" tanya Alexander yang tak sengaja mendengar gumaman dari mulut Rossy. Rossy yang baru saja tersadar dengan apa yang ia katakan , sontak saja membulatkan matanya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Eh!"


***


"Selamat pagi Yang mulia, salam sejahtera untuk matahari muda kekaisaran!" Rossy menunduk sesaat setelah dirinya masuk ke dalam kamar putra mahkota.


Gadis itu tersenyum sumringah sambil membawa sebuah baskom air hangat untuk William membasuh wajahnya.


"Ada apa? Tidak biasanya kau bersikap sopan seperti itu," ucap William menanggapi dengan wajah sinis melihatnya keberadaan Rossy.


Bak seseorang yang sudah kehilangan rasa malunya, Rossy terus saja tersenyum lebar, yang terpenting bagi saat ini adalah perkembangan kondisi putra mahkota. Karena semakin cepat ia menyelesaikan misinya maka semakin cepat pula ia keluar dari dalam novel aneh tersebut.


"Anda harus membasuh wajah anda, setelah ini saya akan mengajak anda berolahraga, agar tubuh dan pikiran anda kembali sehat!" ucapnya sumringah.


Putra mahkota tak mampu berbicara apapun lagi, walaupun di dalam hatinya merasa kesal. Karena percuma untuk melawan gadis itu, karena Rossy satu-satunya orang yang tidak takut kepadanya.

__ADS_1


"Hah, terserah!" jawabnya pasrah.


__ADS_2