
'Aku mencintaimu Will.'
Tiga kata sederhana yang terangkai menjadi satu, tak diduga menjadi sebuah bayang-bayang yang menghantui selama satu tahun belakangan.
Sorot mata coklat yang terlihat indah kala itu, berhasil membuat William menutup matanya jika wanita tersebut tidak benar-benar tulis cinta pada dirinya.
Sepanjang hari ia hanya menatap pemandangan yang tersaji dari jendela kamarnya, kondisinya sangat kacau dan nyaris layaknya manusia tanpa jiwa.
"Bagaimana keadaan Yang Mulia? Apakah sudah menyantap hidangan makan malamnya?" bisik seorang kepala pelayan istana.
Seorang pelayan yang bertugas mengantarkan makanan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Makanan itu pun bahkan sudah terlihat basi karena semalam suntuk dibiarkan begitu saja dan tak tersentuh sama sekali.
"Bawakan sarapan untuk putra mahkota, biar saya yang akan berusaha membujuknya!" seru kepala pelayan tersebut.
Wajah yang kian tirus dengan kantong mata yang menghitam, kian membuat khawatir siapapun yang melihat kondisi William. Pandangan matanya pun kosong, tak menanggapi apapun yang berada di depan pandangan matanya.
Tak lama seorang pelayan pun datang dengan membawa hidangan sarapan, kini kepala pelayan yang mengambil alih pekerjaan tersebut lalu berjalan menuju kamar William.
Tok! Tok! Tok!
Pria yang memasuki usia lima puluh tahun itu perlahan mengetuk pintu yang dijaga oleh beberapa orang ksatria dengan perlahan, lalu ia pun mulai membukanya.
"Yang mulia! Saya mohon makanlah sedikit saja. Pangeran Alexander pasti sangat sedih jika melihat Anda seperti ini," ucapnya mencoba membujuk William yang hanya diam dan hanya menatap jendela.
Hening, tak ada jawaban ataupun respon dari putra mahkota. Pria itu terus saja terdiam bak raga yang kosong tanpa jiwa.
"Yang mulia, saya mohon makan sedikit saja demi kesehatan Anda."
"Seandainya saya tidak egois, dan tidak merebutnya dari Alexander, apakah dia masih hidup hingga kini?" Pertanyaan yang keluar dari mulut William secara tiba-tiba sontak mengejutkan kepala pelayan yang memiliki nama James Volgh.
Pria yang sudah mengabdi di istana sejak usianya menginjak sembilan belas tahun itu menghembuskan napasnya perlahan, lalu meletakkan nampan berisi hidangan sarapan di atas meja.
"Batas usia semua makhluk hidup sudah diatur oleh Tuhan. Yang mulia tidak boleh terus menyalahkan diri sendiri atas semua yang telah terjadi, karena kematian yang mulia kaisar dan yang mulia putri mahkota bukanlah kesalahan Anda. Hidup pun akan terus berjalan, dan kini nasib rakyat ada di tangan Anda. Jadi saya mohon, makanlah Yang Mulia! Walaupun hanya sedikit," ucap James yang kembali membujuk William dengan sabar.
__ADS_1
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kembali terdengar, tak lama muncul seorang kesatria sambil memberikan salam penghormatan kepada William.
"Hormat kepada Matahari muda kekaisaran, Saya ingin memberi kabar jika Yang Mulia Pangeran Alexander selamat dan kini sudah berada di gerbang perbatasan menuju ibukota!" seru ya memberikan kabar.
Helaan napas lega terlihat samar dari William, perlahan William mengambil sepotong roti dan memakannya sebanyak satu gigitan saja.
"Aku ingin bertemu Alexander!"
***
Rossy menatap kagum pemandangan lewat jendela yang berada di kereta kuda. Gerbang tinggi dan menjulang yang merupakan benteng batas kota serta pemandangan yang jauh berbeda dari jalan sebelumnya, seakan tiada henti membuat gadis itu berdecak kagum.
Suasana ibu kota persis seperti dijabarkan dalam novel, bahkan tak ada bagian sedikitpun yang luput dari mata sang Penulis.
"Ya ampun, ini semua benar-benar indah!" ucapnya bersemangat. Gadis itu pun membuka sedikit jendela dari kereta kuda lalu tiba-tiba saja.
Hatchi!
Sambil menutupi hidungnya gadis itupun mengangguk. Rasa malunya seakan memuncak saat sang idola harus melihat dirinya yang tengah seperti itu.
"Saya ha-ha-hatchi!"
Hidung Rossy yang memerah bagaikan tomat cukup membuat Alexander berusaha keras untuk menahan tawanya. Alexander membuka jubah yang dikenakan oleh dirinya lalu perlahan memakaikannya kepada Rossy.
"Hari ini memang lebih dingin dibandingkan kemarin, mungkin beberapa hari lagi salju akan turun," ucapnya.
"Terima kasih, maaf jika saya merepotkan, karena sejujurnya saya memang tidak tahan dengan cuaca dingin. Jangankan suhu seperti ini, di negara asal saya saja setiap mulai musim penghujan saya selalu memilih berdiam diri di dalam ruangan. Semua itu hanya karena menghindari suhu udara yang bahkan tak sampai di bawah 20 derajat celcius," ungkap Rossy berkeluh kesah.
Alexander menaikkan sebelah alisnya dengan pandangan menatap fokus pada gadis di hadapannya. Seakan dirinya sangat tertarik dengan dunia asal Rossy yang mungkin sangat berbeda dengan dunianya berasal.
"Sungguh? Apakah benar-benar ada negara sehangat itu?"
__ADS_1
"Ya, itu adalah tanah tempat asalku. Tidak ada musim dingin, gugur, ataupun semi. Hanya ada musim hujan dan kemarau saja. Walau demikian keadaannya, tanah kami sangat subur, layaknya musim semi berlangsung sepanjang tahun," jawab Rossy dengan tatapan mata berbinar yang seolah tengah memikirkan sesuatu.
Rossy yang tidak tahan akan suhu udara dingin terus merindukan kehangatan tanah kelahirannya. Bahkan di dunia asalnya, gadis itu selalu menghindari berpergian ke luar negeri kala negara tujuannya tengah memasuki musim gugur ataupun dingin.
"Aku semakin ingin mengetahui negri asalmu, bagaimana kalau kau menceritakannya saat kita sudah berada di Istana?"
"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawab Rossy dengan giginya yang telah saling bergesekan karena kedinginan.
Gadis itu terus mengusap-usapkan kedua telapak tangannya, Rossy benar-benar tidak tahan dengan dinginnya suhu udara hari itu hingga wajahnya terlihat memerah.
Lagi dan lagi, Alexander melakukan hal-hal tak terduga. Pria itu pun meraih kedua tangan Rossy dan menggenggamnya erat-erat.
"Y-yang mu-lia," ucap Rossy terkejut.
Rasa hangat tiba-tiba terasa dari telapak tangannya, nampaknya Alexander tengah menyalurkan rasa hangat dengan sihir yang ia miliki.
Rossy yang tak bisa berkata-kata lagi hanya bisa termenung, jantungnya terus berdebar kencang akibat perbuatan Alexander.
"Yang Mulia Pangeran Alexander telah tiba!"
Kereta kuda pun berhenti, menandakan jika mereka telah sampai tempat tujuan dengan selamat.
Perlahan pintu kereta kuda itu pun terbuka, memperlihatkan Alexander dan Rossy yang tengah duduk saling berhadap-hadapan.
"Ayo kita turun, Anda tidak perlu takut karena saya selalu berada di sisimu," ucap Alexander dengan sedikit berbisik.
Gadis itu tersenyum, menatap kembali Alexander sambil berkata, "Jangan berbicara seperti itu, Yang Mulia! Nanti saya bisa salah paham mengartikannya."
Deg!
Alexander mematung, entah mengapa gadis yang suka berkata seenaknya itu sama sekali tidak membuatnya dirinya merasa terusik.
Rossy perlahan turun dibantu oleh seorang ksatria yang menantinya di samping pintu kreta kuda, berpura-pura menjadi sosok wanita lemah lembut dan terus tersenyum ramah pada siapapun yang beradu pandang dengan dirinya.
__ADS_1
Sontak saja tatapan mata semua yang berada di sana langsung tertuju pada sosok Rossy. Angin yang berhembus tiba-tiba saja membuat surai hitam gadis itu pun berterbangan, membuat siapapun nyaris tidak percaya melihat sosok yang berada di depan mata mereka.
Pada akhirnya rumor kedatangan sosok seorang gadis berambut hitam dalam ramalan itu pun tersebar dengan cepat, hingga sampai di telinga seseorang lewat para pelayan yang tengah berbincang.