My Favorite Prince

My Favorite Prince
Pencarian Rossy


__ADS_3

Sudah hampir tiga puluh menit lamanya sang penerus takhta berusaha menyusuri aliran sungai untuk mencari Rossy. Dirinya sama sekali tidak peduli walaupun harus merasa kedinginan akibat pakaian basah yang ia kenakan ditambah dengan hembusan angin malam.


William dan para ksatria yang mengikutinya kini menyusuri tepian sungai, berharap belas kasih dari sang Dewi fortuna agar Rossy memiliki keberuntungan lebih dan segera ditemukan.


"Yang Mulia!" Seorang ksatria melompat turun dari kudanya lalu berlari tergopoh-gopoh mendekati putra mahkota.


"Yang Mulia, Duke Ferus sudah tertangkap bersama dua orang yang diduga adalah kaki tangannya yang bekerja di Istana," ucap Ksatria muda yang memiliki nama Edmund.


Pria muda berambut coklat itu terus berlutut penghormatan pada William, sebelum sang putra mahkota mengizinkannya untuk berdiri kembali.


"Berdirilah. Saya akan segera kembali ke Istana setelah menemukan Lady Rossy. Tolong sampaikan pada Caine, agar terus mengawasi Duke dam masukan ia ke dalam penjara bawah tanah!" seru William menitahkan.


"Baik, Yang Mulia. Izinkan saya untuk kembali menemui Sir Caine!"


"Baiklah, ingat katakan padanya untuk tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan saya. Saya akan segera kembali ke Istana jika Lady sudah ditemukan.


Perkataan William tentu saja membuat Edmund terkejut. Bagaimana mungkin sang putra mahkota mencari seseorang yang tak jelas keberadaannya dengan kekuatan fisiknya sendiri.


Edmund kembali memberikannya sajam penghormatan lalu beranjak pergi untuk segera melaporkan perintah William pada Caine.


Sementara Itu William menghela napasnya lalu memejamkan matanya sejenak, kedua tangannya mengatup dan saling bertautan, seakan ia hendak berdoa pada dewa dan dewi untuk Rossy.


Pria yang memiliki rambut berwarna pirang dan lensa mata sebiru laut itu kembali meneruskan langkah kakinya, berharap untuk segera menemukan Rossy apapun keadaannya.

__ADS_1


"Yang Mulia, lihat di sana!" teriak seorang prajurit secara spontan sambil menunjuk ke salah satu batu besar yang ada di sisi lain sungai tersebut.


Tanpa mengulur waktu dengan nekat William segera menyebrangi sungai, walaupun arus menghalangi dirinya untuk melangkah.


Keduanya matanya membulat sempurna saat melihat Rossy yang terjepit di antara tumpukan batu kali dengan kondis tangan kaki terikat dan tak sadarkan diri, kepalanya terus mengeluarkan darah yang membuat air sungai sekitarnya berwarna merah. Rahang pria itu pun mengeras, rasa amarah berkecamuk di dalam hatinya pada Robert Ferus yang sudah berbuat kejam dan menjadikan nyawa orang lain sebagai mainan belaka


'Sialan, kau Robert!' umpat William dalam hati.


"Cepat bantu saya!" seru William panik.


William segera melepaskan kain pengikat yang terpasang di tangan kaki serta kepala Rossy, lalu berusaha menggendong gadis itu hingga para ksatria datang dan membantunya menyebrangi sungai kembali.


***


William masih terjaga di samping Rossy yang selesai di obati oleh seorang dokter istana. Namun, sudah dua belas jam lamanya tapi gadis itu sama sekali tidak membuka matanya.


Tiba-tiba saja pintu kamar Rossy diketuk, memperlihatkan James yang datang dan langsung menghampiri William.


"Pendeta agung dari kuil sudah datang, Yang Mulia!" ucap James.


"Cepat bawa ke sini, saya ingin Rossy segera pulih!" seru William.


James menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar ruangan tersebut. Tak berselang lama seorang pria paruh baya datang dengan jubah putih yang menandakan jika dirinya adalah seorang tokoh besar yang dihormati setelah keluarga Kerajaan.

__ADS_1


"Salam pada matahari kecil kekaisaran," tuturnya memberikan hormat pada William.


"Tolong selamatkan gadis ini!" pinta William dengan raut wajahnya yang tidak terlihat baik-baik saja.


Sang pendeta yang terkenal akan kemampuan suci penyembuhannya itu pun terkejut saat melihat Rossy. Sosok gadis yang benar-benar sama persis seperti oracle yang didapatkan kardinal membuatnya tak mampu berkata apapun. Hingga akhirnya ia menyadari jika masa kritis kekaisaran pada akhirnya akan berakhir sesuai dengan apa yang telah diramalkan.


"Nona pembawa berkat, saya akan berusaha menyembuhkan Anda," ucapnya.


Perlahan ia mulai memercikkan air suci dari kepala hingga ujung kaki Rossy, lalu perlahan mengumpulkan tenaga dalamnya dan mulai menyentuh ujung kepala gadis itu.


Cahaya putih perlahan muncul dari telapak tangan pendeta agung. Luka fisik yang dialami Rossy pun berangsur membaik bahkan tak tersisa bekasnya lagi. Namun, sungguh disayangkan, setelah sekian lama sang pendeta mengerahkan kekuatan sucinya tetapi gadis itu tetap lelap dalam tidurnya. Rossy tetap bergeming bahkan tidak mengedipkan matanya sedikitpun.


"Kenapa Rossy tidak membuka matanya?" tanya William.


Sang pendeta itu menghela napasnya dan diam sejenak sebelum akhirnya menjelaskan pada William.


"Nona berasal dari dunia yang berbeda dengan yang kita tinggali. Jadi, sangat sulit menyembuhkan dirinya. Mungkin saya harus melakukannya hingga beberapa hari kedepan," ungkapnya.


William mengerti jika dirinya tak mampu memaksakan kehendak. Pria itu hanya berusaha untuk mengendalikan dirinya dan percaya dengan penuturan pendeta agung.


Sesaat setelah pendeta kembali, dengan rasa dendam dan amarah yang meluap William segera memanggil kembali James dan berkata dengan lantang, "Bagaimana persiapan penobatan esok hari?"


"Semuanya berjalan lancar, Yang Mulia."

__ADS_1


"Bagus! Dengan kekuatan sebagai Kaisar. Aku tak akan pernah membiarkan sedikit celah pada Robert untuk membela diri!"


__ADS_2