
Di depan mata kepalanya sendiri Rossy menyaksikan jika Alexander tiba-tiba saja terbatuk dengan mengeluarkan darah segar dari mulut serta hidungnya. Pria yang ia kenal selalu kuat dan gagah menghadapi apapun, kini tiba-tiba saja ambruk dengan wajah pucat pasi.
Ingatan Rossy kembali saat dulu dirinya berusia sepuluh tahun. Saat itu Rossy melihat dengan jelas kala ibundanya muntah darah dan meregang nyawa karena makanan yang dikonsumsinya telah diracuni oleh seseorang. Hal tersebut membangkitkan trauma dan rasa panik yang telah terkubur dalam-dalam
"Yang Mulia!" Rossy menjerit histeris dan langsung berlari menghampiri Alexander yang sudah terjatuh tak sadarkan diri di lantar ruang kerjanya. Rasa takut dan panik memenuhi hatinya, dia sama sekali tidak menyangka jika efek pembuatan kontrak sihir akan sefatal itu.
Dengan sigap James segera mengangkat tubuh Alexander dan memindahkannya ke dalam kamar, sementara William segera menitahkan seorang pelayan untuk memanggil dokter yang dipekerjakan di dalam istana.
"Nona, lebih baik anda beristirahat terlebih dahulu, biar kami yang mengurus Yang Mulia," ucap Jamie.
"Tidak, aku akan menemani Yang Mulia. Semua ini terjadi karena aku, aku yang sudah gegabah dalam mengambil keputusan tanpa tahu resikonya." Rossy berucap disela isakan tangisnya. Hatinya hancur dan takut jikalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Alexander.
Melihat Rossy yang sangat mengkhawatirkan Alexander cukup membuat suasana hati William kian memburuk, tanpa berpikir panjang ia merah lengan Rossy lalu menariknya.
"Rossy! Kau harus kembali bekerja, lagi pula saya sudah menyuruh pelayan memanggil dokter. Alexander akan baik-baik saja, manusia seperti dia tidak akan mudah mati, apalagi dengan cara seperti itu."
Deg!
Mendengar perkataan Alexander membuat dirinya seketika gusar. Rossy bergeming dengan wajah menunduk dan kedua tangan yang mengepal erat.
__ADS_1
"Yang Mulia, sebenarnya apa arti Yang mUlia Pangeran di mata Anda?" Pertanyaan Rossy yang berani berhasil menutup mulut William yang sedari tadi memaksanya untuk pergi.
Rossy tidak peduli lagi dengan etika di dalam Kekaisaran yang sudah membuatnya muak menjadi orang lain.
"Semakin saya mengenal Yang Mulia Pangeran Alexander maka semakin aku memahami dirinya. Yang Mulia Alexander sangat menyayangi anda, bagaikan baginya kini kebangkitan serta kebahagian Anda adalah tujuan hidupnya. Beliau bahkan siap menjadi perisai untuk anda, tapi pernahkah anda sedikit saja peduli pada dirinya?" ucap Rossy geram.
Kehadiran seorang dokter yang didampingi oleh pelayan membuat akal sehat Rossy kembali. Gadis itu mulai mengatur kembali perasaannya dengan perlahan-lahan menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak masalah jika Baginda marah dan tak berkenan menjadikan hamba dayang kembali," ucap Rossy lalu meninggalkan William seorang diri.
Perkataan Rossy terus menerus berputar di dalam kepalanya. William mengingat apa saja yang sudah Alexander lakukan untuk dirinya. Sejak kecil Alexander hanya hidup menjadi bayangannya, tak ada yang bisa dilakukannya selain bersembunyi kala semua orang menganggapnya rendahan hanya karena berstatus sebagai anak haram dari kaisar.
***
"Alex, Alex anakku." Suara yang terdengar lembut dengan belaian yang terasa hangat menyentuh kepalanya membuat Alexander membuka matanya.
Terlihat seorang wanita tersenyum hangat, dengan surai panjang berwarna perak dan mengenakan gaun berwarna putih yang kian menambah kecantikan wajahnya.
Alexander tersentak, lalu bangkit dari pangkuan wanita yang sudah melahirkannya. Alexander kembali terkejut mendapati tubuhnya yang mengecil seperti seorang anak berusia sepuluh tahun , tangannya yang mengecil membuatnya terus menatap dengan heran.
__ADS_1
"Alexander, anakku yang baik. Apakah kamu bahagia?" tanyanya kembali.
"Ibu!"
Rasa rindu memuncak memenuhi dadanya, Alexander memeluk sang ibu yang sudah meninggalkannya karena penyakit paru-paru yang diderita. Tak dapat ia bendung air mata yang seolah terasa membeku, kini dirinya benar-benar layaknya anak kecil yang menangis dipelukan ibunda tercinta.
"Terima kasih telah tumbuh dengan baik. Maafkan ibu yang tidak pernah sekalipun membahagiakanmu."
Wanita yang dulunya seorang penyihir tingkat rendah sekaligus pelayan Kaisar itu pun kembali tersenyum, dengan helaian surai peraknya yang terbang diterpa angin sambil tetap membelai rambut putranya yang berwarna senada.
"Bagaimana dengan hadiah yang Ibu berikan? Apa kau menyukainya?" tanyanya kembali.
"Hadiah?" tanya Alexander seraya melepaskan ibundanya.
Wanita itu mengangguk lalu menangkap wajah Alexander lalu berkata, "Jika hidupmu di dalam dunia ini terasa menyiksa. Pergilah ke lembah naga, ambil mustika naga yang ada di dalam jantung raja naga hitam. Maafkan Ibu karena hanya ini yang ibu bisa lakukan untuk kamu."
Alexander mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Namun, wanita itu hanya tersenyum tanpa penjelasan apapun lagi.
"Suatu saat kamu pasti mengerti. Hiduplah dengan bahagia Alexander-ku."
__ADS_1