My Favorite Prince

My Favorite Prince
Glass House


__ADS_3

"Apa yang ingin aku bicarakan padamu," pinta Alexander sambil menatap Rossy dengan seksama.


Ekor mata Rossy melirik ke arah lain, rasa khawatirnya jika William melihat dan salah paham mengusik ketenangan hati yang baru saja didapatkan oleh gadis itu.


Rossy tidak ingin terjadi pertikaian antara Alexander dan juga William. Keduanya harus tetap solid demi masa depan kekaisaran yang jauh lebih baik.


"Baiklah," jawab Rossy singkat.


Alexander tersenyum tipis, sorot matanya yang sayu tetap tidak berubah. Pria itupun kembali berkata dengan terus memandang wajah Rossy dengan seksama, seakan tengah mengukir di dalam kepalanya.


"Saya tunggu di rumah kaca taman Istana Bintang selepas waktu makan malam," ucap Alexander seraya mengecup punggung tangan Rossy.


"Rumah kaca di Istana Bintang?" tanya Rossy bingung.


"Ya, aku baru membangunnya untukmu. Kita akan bertemu di sana."


Perbuatan Alexander membuat debaran jantungnya kian berpacu dengan cepat, mengombang-ambingkan perasaannya yang seakan tengah hanyut di lautan lepas.

__ADS_1


Hingga tanpa terasa waktu makan malam tiba. Seperti biasanya William terus menuntut gadis itu menemaninya menikmati hidangan makan malam. William telah membebaskan seluruh tugas Rossy sebagai seorang dayang pribadinya, dan hanya terus menahan gadis itu di sisinya selama seharian penuh.


"Apakah makanannya tidak membuatmu berselera?" tanya William yang melihat Rossy hanya mengacak-acak makanan di atas piringnya, satu suap pun Rossy sama sekali tidak menyentuhnya, bahkan sorot matanya pun terlihat kosong.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya hanya kelelahan saja," jawab Rossy berdusta.


William mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan menyerahkan kepada Rossy sambil berkata, "Ada undangan minum teh dari kediaman Marquess Nore untukmu."


"Terima kasih, bolehkah saya menghadirinya, Yang Mulia?"


"Baik, Yang Mulia."


***


Rembulan yang bersinar terang, dengan semilir angin musim semi yang berhembus yang seakan menyapa Rossy yang hendak menuju rumah kaca di Istana Bintang.


Kini dirinya baru saja sampai di tempat yang dimaksudkan Gadis itu menghentikan langkahnya sejenak. Kedua matanya berbinar menatap rumah kaca kecil yang dipenuhi bunga mawar berbagai warna, dan dihiasi oleh ribuan bintang di langit yang berkelip bagaikan intan permata.

__ADS_1


Rossy menyentuh sebuah mawar berwarna putih, warna yang mengingatkan dirinya dengan warna rambut Alexander dan menjadi ciri khas pria itu.


"Alexander," gumam Rossy tersenyum dan terusĀ  menatap bunga tersebut tanpa berkedip. Hingga gadis itu dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya, dan memetik bunga yang sedari tadi ia pandangi.


"Petik saja jika kau menginginkannya," bisik Alexander tepat di telinga Rossy.


Napas sang pangeran yang hangat jelas terasa menyentuh tengkuk leher gadis itu. Rossy mematung, debaran jantungnya semakin terasa tak mampu dikendalikan lagi.


Alexander tersenyum lalu menyelipkan mawar putih itu di telinga Rossy. Wajahnya pun memerah walaupun hanya melihat punggung wanita yang sudah berhasil merebut hatinya.


"Petiklah jika kau menginginkannya. Mawar ini akan semakin terlihat indah jika kamu yang memiliki," ucap Alexander dengan suara yang lembut.


"Y-yang Mulia, Anda mengagetkan saya," ucap Rossy gugup.


Perlahan Rossy membalikkan tubuhnya, dan langsung berhadapan dengan Alexander yang hanya berjarak satu jengkal darinya. Tubuhnya kembali membeku dan menatap penampilan Alexander yang terlihat semakin menawan dari hari ke hari.


Alexander perlahan kian mendekat menyisakan jarak yang terlampau pendek di antara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2