
Belaian lembut sangat terasa di membelai surai panjang Alexander. Perlahan ia mulai membuka matanya dan berusaha untuk memfokuskan indra penglihatannya.
"Alexander, akhirnya kamu sadar."
Suara lembut yang sangat ia kenali seketika membuat Alexander terbangun. Kedua matanya membulat melihat sosok sang ibu berwujud arwah tengah tersenyum padanya.
"Ibu!"
"Ya, anakku. Apakah kamu sudah memutuskan kebahagiaanmu?" tanyanya.
Alexander mengerutkan keningnya, seakan masih mencerna situasi yang sedang dialaminya. Bagaimana tidak, ibundanya yang telah tiada kini tiba-tiba saja muncul di hadapannya dalam bentuk arwah. Bahkan saat itu Alexander masih meragukan kesadarannya, apakah semua nyata ataukah hanya sebatas mimpi.
"Kamu tidak perlu bingung, ini semua bukan sebuah mimpi," ucapnya seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh putra kesayangannya.
Alexander makin mengerutkan keningnya lalu menatap tajam ke arah sang ibu.
"Sebenarnya ibumu ini melakukan sebuah perjanjian dengan dewa setelah mengambil mustika pada jantung naga penjaga."
"Perjanjian?" tanya Alexander bingung.
"Ya. Ibu meminta kebahagiaanmu dengan imbalan kehidupan ibu sendiri. Ibu rela menjadi arwah penjaga wilayah suci ini menggantikan naga selamanya, asalkan ibu bisa memiliki kuasa untuk memberikanmu sebuah kebahagiaan sedikit saja."
Alexander terdiam berusaha untuk mencerna semua yang ia dengar. Hingga akhirnya ia mulai memahami jika kehadiran Rossy dari dunia yang berbeda adalah akibat ulah sang ibu yang memang sudah mengetahui masa depan kekaisaran.
"Jadi, tentang Rossy ...," ucap Alexander menggantung yang langsung di tanggapi anggukan kepala oleh Anastasia.
"Ibu tidak sengaja melihat masa depan dimana William terpuruk. Karena jika itu terjadi maka dirimulah yang akan menjadi kaisar selanjutnya, dan kehidupanmu akan lebih sulit dan tersiksa karena latar belakangmu yang tidak pernah diterima sampai kapanpun," ungkap Anastasia kembali.
Wanita bersurai silver itu tersenyum lalu menyentuh lembut tangan putranya. Dilihatnya kedua mata biru sang putra dalam-dalam dan kembali bertanya, "Jadi, bagaimana pilihanmu? Apakah kamu ingin tetap di sini dan menjadi seorang penguasa wilayah ataukah menyusul gadis itu dengan segala konsekuensinya?"
"Aku ingin bertemu Rossy!" jawab Alexander lugas tanpa berpikir terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sungguh, apakah kau benar-benar yakin? Terlebih kau harus melepaskan seluruh kekuatan magismu? Kau harus bertahan hidup di sana tanpa memiliki kekuatan sihir kebanggaanmu dan juga kekuasaan. Dirimu yang seorang pangeran, bukanlah apa-apa di sana," tanya Anastasia meyakinkan.
"Apapun demi dia, aku akan melakukannya."
"Namun, bagaimana jika dia sudah melupakanmu? Apakah kamu tidak menyesal?"
"Saya tidak pernah menyesal walaupun ia tidak menerimaku atau bahkan sudah melupakan diriku. Bagiku melihatnya hidup dengan baik sudah cukup, dan aku akan melanjutkan hidupku sendiri walaupun tanpa apa-apa," jawab Alexander.
Jawaban lugas dari Alexander semakin mengembangkan senyum Anastasia. Perlahan ia membelai wajah putranya seakan tengah memberkati Alexander sebagai seorang ibu.
"Bersiaplah, ibu berharap kamu bahagia, putraku!" serunya lalu mulai memejamkan mata.
Angin kencang seketika berputar dengan tubuh Alexander yang terasa tercabik-cabik. Sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakitnya seiring dengan sebuah cahaya putih yang membesar dan melahap dirinya.
***
"Permisi, apakah bapak tahu nenek-nenek penjual buku di area sini?" tanya Rossy pada seorang pedagang di kawasan kota tua.
"Maaf, Neng. Gak pernah ada nenek-nenek jualan buku di sini."
Sudah tiga jam lamanya Rossy berputar-putar di area kota tua, untuk mencari sosok nenek yang menjual novel ajaib itu padanya. Namun, tidak ada satu orang pun yang melihat dan mengenalnya, semakin menguatkan dugaannya jika sosok tersebut adalah jelmaan Anastasia yang sengaja menargetkan dirinya.
Rossy menghela napasnya di tengah-tengah cuaca terik. Ia pun memutuskan kembali ke penthouse miliknya, untuk beristirahat dan menenangkan dirinya yang semakin lama bagaikan orang kehilangan akal.
Setelah menempuh perjalanan lancar karena bertepatan dengan akhir pekan, akhirnya ia sampai dan segera membuka pintu penthouse miliknya.
Seketika aroma yang tak asing dan terasa ia rindukan memenuhi seluruh ruangan. Rossy melangkah masuk dan menghirupnya dalam-dalam.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat, sontak saja Rossy terkejut lalu bersiap meraih sebuah tabung pemadam kebakaran untuk berjaga-jaga.
Sistem keamanan ketat membuat dirinya selalu merasa aman, tapi kini entah mengapa tiba-tiba ada seseorang yang berhasil masuk dengan mudah bahkan tanpa membobol kunci pintu masuk yang menggunakan pin dan sidik jari.
__ADS_1
"Siapa itu? Keluar kau kau berani!" pekik Rossy menantang.
Langkah kaki perlahan semakin mendekat hingga memperlihatkan seseorang yang muncul dari ruangan lain sambil tersenyum pada dirinya.
Rossy mematung dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perlahan ia meletakkan tabung pemadam yang sedari tadi ia bawa lalu berjalan selangkah demi selangkah mendekat, meyakinkan jika semua bukanlah sebatas fatamorgana belaka.
"P-pangeran?" Rossy menyentuh wajah Alexander yang berada di hadapannya sambil tersenyum.
Semua terasa nyata, bahkan suhu tubuh Alexander terasa jelas di telapak tangannya.
Alexander tersenyum lalu meraih tangan Rossy badan mengecupnya dan berkata, "Maafkan saya jika datang terlalu lama, Lady."
"Pangeran Alexander, sungguh i-ini kamu?"
"Ya, Lady. Aku di sini bukanlah seorang pangeran lagi, aku di sini untuk menjadi milikmu."
Air mata Rossy seketika tumpah, melampiaskan segala kerinduan yang meluap di dalam hatinya. Rossy memeluk hangat Alexander dengan erat seakan tak ingin melepaskan pria bersurai silver yang berada di hadapannya.
"Saya merindukan Anda, Rossy. Saya berusaha menemukan keberadaan Anda bertahun-tahun lamanya," ungkap Alexander.
"Maafkan aku, aku juga sangat merindukanmu. Aku berusaha mencari cara kembali ke duniamu tetapi tidak berhasil. Aku mencintaimu Alex, aku mohon maafkan aku."
Rossy melepaskan pelukan Alexander dan kembali menatap wajah pria yang ia rindukan. Perlahan Alexander menyentuh kedua pipi Rossy dan menatap lensa mata hitam itu lekat-lekat.
"Sekarang saya akan di sini, saya yang akan bersama dengan Anda. Lady, saya mencintai anda, maukah anda menerima saya walaupun saya tidak memiliki apapun lagi?" tanya Alexander.
Rossy tersenyum dan mengangguk, gadis itupun menjawab, "Tentu saja! Jika kamu tidak memiliki apapun kini tinggal aku yang menghidupimu, aku memiliki segalanya dan aku pastikan kamu takkan kelaparan di sini."
Keduanya tertawa kecil dengan jawaban yang baru saja Rossy lontarkan. Alexander meraih sebuah cincin yang ia selalu ia bawa, sebuah cincin yang sudah lama ia persiapkan untuk Rossy.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanyanya tanpa berbasa basi.
__ADS_1
"Tentu saja, aku mau!"
Senyuman keduanya mengembang seiring air mata kerinduan mereka yang mengalir, Alexander kembali memeluk Rossy dan mengecup pucuk kepala gadis itu. Semua yang ia korbankan pada akhirnya tidak sia-sia, Alexander bersyukur karena pada akhirnya cinta telah membuat dirinya mampu melintasi sesuatu yang bahkan tak terjamah oleh akal logika.