My Favorite Prince

My Favorite Prince
Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Sepasang mata yang memiliki lensa berwarna hitam pekat itu perlahan membuka, lalu berkedip beberapa kali guna memfokuskan pandangannya.


Gadis yang belum sepenuhnya tersadar itupun terlihat termenung sambil menatap langit-langit ruangan yang terlihat asing. Hal tersebut sontak saja membuat keningnya berkerut, dan membuat samar-samar ingatannya tentang kejadian semalam mulai tersusun rapih menjadi satu.


"Eh!" seru Rossy membeku, ekor matanya melirik ke samping kirinya memastikan jika semua yang telah ia lalui bukanlah sebuah mimpi di siang bolong.


Deg!


Kinerja detak jantungnya mulai meningkat dua kali lipat dari biasanya saat melihat sosok yang tengah tertidur dengan lelap di sampingnya.


Warna rambut silver yang seolah menjadi ciri khasnya berhasil membuatnya menutup mulut dengan kedua tangan karena malu.


'Ya ampun, Alexander ku!'


Gadis itu terus berteriak dalam hati, dan mengingat akan hal yang membuatnya terjebak dalam situasi seperti itu. Ingatannya pun mulai menyatu menjadi satu, hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan kembali membawanya di hari kemarin, tepat saat dirinya janji keluar istana dengan sang pangeran.

__ADS_1


***


"Yang mulia, tugas saya hari ini cukup sampai di sini. Karena saya ingin berjalan-jalan keluar sore ini," ucap Rossy bersemangat.


"Sana, pergi saja! Kepalaku lama-lama pecah melihat kamu!" seru William yang sudah tidak tahan dengan sikap dan kecerewetan Rossy.


Izin dari putra mahkota sontak membuat dirinya semakin melebarkan senyumnya. Rossy sana sekali tidak peduli dengan perkataan putra mahkota yang lebih terdengar mencibirnya daripada memberikan izin.


"Baiklah, terima kasih Yang Mulia!" ucapnya lalu berjalan keluar sambil bersiul ria.


Sementara itu Alexander sudah menunggu Rossy, dengan berpakaian layaknya orang biasa . Keduanya memang sepakat menyamar agar identitas mereka tidak ketahuan.


"Yang Mulia, maaf sudah membuat Anda menunggu," ucap Rossy sambil tersenyum.


Sang pangeran berparas tampan itu pun turut membalas senyumannya, lalu membelai lembut pucuk kepala Rossy hingga ujung rambutnya.

__ADS_1


"Y-yang Mulia," ucap Rossy gugup dengan wajahnya yang memerah karena tindakan spontan dari Alexander.


"Aku harus merubah warna rambutmu dan juga lensa matamu agar tidak terlihat mencolok, sihir ini tidak akan bertahan lama, jadi sebisa mungkin kita tidak boleh berlama-lama di luar," ucap Alexander dengan tenang.


Warna rambut gadis itu pun seketika berubah menjadi pirang dengan lensa mata berwarna hijau bak sebuah batu safir. Hal tersebut membuat rasa kagum Rossy pada tokoh kesayangannya semakin meningkat hari demi hari.


"Hari ini kita akan berpura-pura menjadi sepasang kekasih," ucap Alexander seraya menggenggam tangan Rossy.


'Oh my God, oh my God, oh my God!'


Genggaman tangan Alexander juga membuat Rossy nyaris berteriak histeris karena euforia yang berlebihan. Namun, sekuat mungkin Rossy tetap menahannya, demi menjadi wanita elegan dan bermartabat di hadapan sang idola.


"Kencangkan mantelmu, karena sepertinya udara hari ini akan lebih dingin dari biasanya. Aku tidak bisa memakai sihir lebih banyak, karena takut akan ketahuan oleh orang-orang tertentu," ucap Alexander dan dijawab anggukkan oleh Rossy.


Dengan kedua tangan yang saling bertautan satu sama lainnya, mereka pun mulai berjalan menuju kandang kuda tanpa saling melepaskan satu sama lainnya. Keduanya pun menunggangi sebuah kuda bersamaan menuju luar gerbang istana yang seakan sudah menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2