My Favorite Prince

My Favorite Prince
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Rossy dan Alexander memejamkan mata saat kening mereka saling beradu. Perasaan yang tertahan seakan memuncah memecah dinding pembatas yang sudah susah payah Rossy bangun.


"Lady, besok aku akan pergi. Aku mohon tunggu aku kembali," ucap Alexander.


Bibir Rossy seakan kelu untuk sekedar menanggapi permintaan Alexander. Sejujurnya Rossy tidak bisa menjanjikan apapun, karena ia sadar suatu hari nanti, cepat ataupun lambat dirinya pasti meninggalkan Alexander dan kembali ke dunianya berasal.


Alexander meraih tangan Rossy, lalu menempatkannya di tepat di dadanya. Detak jantung sang pangeran terasa jelas seakan berada di genggaman tangan gadis itu.


"Aku mencintaimu, Lady. Jika kau bersedia, aku akan melakukan apapun agar kita bisa terus bersama."


"Maksud Anda apa, Yang Mulia?" tanya Rossy.


"Syarat kamu kembali adalah memulihkan mental dan menjadikan Putra Mahkota naik takhta. Jika kamu berkenan, aku berpikir untuk merebut kursi takhta dan menjadikanmu Permaisuriku."


Kedua matanya seketika membulat sempurna. Rossy sama sekali tidak menyangka, seorang Alexander yang tak memiliki ambisi apapun bisa berubah hanya karena dirinya seorang. Gadis itu pun menundukkan kepalanya, Rossy menyembunyikan rapat-rapat kenyataan jika William telah meminta dirinya untuk menjadi permaisuri.


"Yang Mulia ...."


"Alexander, tolong panggil namaku," pinta Alexander memohon.


Rossy memejamkan matanya sejenak karena merasakan gelombang hati yang semakin bergemuruh. Gadis itu pun bergumam, mengutarakan kalimat yang selalu ingin ia ucapkan.

__ADS_1


'Bolehkah aku sedikit egois, untuk kali ini saja?'


"Alexander."


"Ya, Rossy."


"Sejujurnya sejak awal anda adalah karakter favoritku. Saat saya terlempar ke dunia ini dan melalui hari denganmu, saya semakin jatuh hati dan saya sadari jika akhirnya saya jatuh cinta padamu," ungkap Rossy. Susah payah ia menelan saliva yang seakan tercekat di tenggorokan, Rossy menatap paras tampan Alexander seraya menyentuh lembut pipi pria bersurai silver itu.


"Tapi saya cukup sadar, kita tidak mungkin bersama. Anda dan saya adalah dua hal yang berbeda, dan sudah semestinya saya segera kembali ke dunia asal saya karena di sana saya memiliki tanggung jawab besar yang harus saya pikul. Saya harap anda mengerti, Yang Mulia," sambung Rossy.


Sebuah ungkapan cinta yang bersambut, namun terasa sesak dan menyakitkan. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, Rossy memilih tidak pernah membaca novel tersebut, agar dia tak pernah mengenal Alexander dan merasakan sakitnya jatuh cinta tanpa semesta yang merestui.


"Saya mohon agar Anda tetap bahagia. Lakukan apa saja yang anda inginkan, dan kejarlah terus mimpi anda untuk bisa menjadi seorang penyihir terkuat di kekaisaran ini."


Tanpa aba-aba Alexander memeluk erat tubuh Rossy, seakan dirinya berusaha menggenggam erat gadis itu agar tidak pergi kemanapun. Perasaan yang terasa menyiksa, dan membuat mereka saling menyakiti karena tak mampu untuk bersama.


Setelah beberapa saat ia pun melepaskan pelukannya, menangkup wajah gadis yang telah membuatnya kehilangan akal sehat.


"Bolehkah malam ini saja aku melupakan segala perbedaan kita, melupakan kenyataan jika suatu saat kau harus pergi dari sisiku?" pinta Alexander berbisik lirih.


Sepasang mata birunya terlihat sendu dengan kulit putih seperti salju. Tanpa menatap Alexander Rossy mengangguk perlahan, lalu melepaskan seutas pita di rambutnya.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menyulam dan membuat sapu tangan seperti gadis pada umumnya. Tapi, saya harap pita ini akan membuatmu terlindungi dan kembali dengan selamat," ucap Rossy tersenyum.


Rossy mengikatkan pita miliknya di rambut Alexander yang sudah dikuncir kuda. Sikap manis gadis itu seketika membuat Alexander meraih tangan Rossy lalu mengecup punggung tangannya perlahan.


"Aku akan kembali secepatnya. Jangan pernah pergi tanpa aku mengizinkannya terlebih dahulu!" seru Alexander yang hanya dibalas senyuman oleh Rossy.


Alexander menjentikkan jemari tangannya, dan membuat efek kelopak-kelopak bunga seakan turun dari atas langit.


Alunan melodi nan romantis tiba-tiba saja mengalun secara ajaib, membuat Rossy terperangah dan terpesona akan sihir yang dilakukan oleh sang pangeran.


"Sudikah anda berdansa dengan saya, Lady?" tanya Alexander seraya mengulurkan tangannya.


Rossy tersenyum lalu menyambut tangan Alexander dengan senang hati.


Di bawah hujan kelopak bunga yang indah, mereka berdansa guna melepaskan beban yang menjerat. Langkah demi langkah yang seirama bak perasaan mereka yang saling bersambut satu sama lainnya.


Sepasang mata kedua insan itu saling menatap satu sama lainnya, menyelami ketulusan dan kejujuran atas segala perasaan mereka.


Alexander merengkuh pinggang Rossy agar kian mendekat padanya lalu menyentuh dagu gadis itu dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu, Lady. Kamu hanyalah milikku, dan selamanya menjadi satu-satunya milikku."

__ADS_1


__ADS_2