
"Ini apa?" Rossy bertanya seraya memegang tumpukan dokumen di tangannya. Ia pun mulai membukanya dan membacanya satu persatu dengan teliti.
Deg!
"Ini ...," ucap Rossy menggantung, raut wajahnya menyiratkan sebuah rasa terkejut setelah membaca semuanya.
"Ya, sebenarnya waktu itu saya menjadikan ini semua sebagai alat tukar, agar Yang Mulia Pangeran Alexander menerima pinangan saya. Tetapi, Yang Mulia sama sekali tidak menerimanya walaupun saya memiliki bukti-bukti kejahatan Duke Ferus," ungkap Isabella yang merasa malu dan menyesal akan semua tindakan yang selama ini ia lakukan.
Isabella bahkan tak kuasa menatap wajah Rossy, kesalahan fatalnya telah membuat gadis itu tersadar jika dirinya tidak akan pernah mungkin layak bersanding dengan Alexander.
"Sekali lagi saya ingin berterima kasih pada Lady, mohon terimalah hadiah ini sebagai bentuk permintaan maaf dan terima kasih kami," sambung Marquess Nore seraya memberikan sebuah kotak pada Rossy.
Rossy pun kembali menerimanya dan membuka kotak hadiah tersebut. Seketika gadis itu terperangah melihat sebuah kalung Ruby yang terlihat sangat indah dan menawan.
__ADS_1
"Apa ini Marquess? Ini terlalu berlebihan untuk saya."
"Tidak. Hadiah ini tidak seberapa dibandingkan semua yang anda lakukan untuk putri saya. Saya mohon, tolong terima hadiah kecil ini!" seru Marquess Nore dengan penuh harap.
"Baiklah, terima kasih banyak atas hadiahnya, Marquess. Saya berharap semoga semua bisa menjadi pelajaran berharga untuk Lady Isabella," jawab Rossy. Perhatian gadis itu kembali tersita dengan tumpukan bukti yang ada di tangannya. Rossy terus berpikir jalan terbaik untuk mengungkap seluruh kejahatan yang sudah dilakukan oleh Duke Robert Ferus.
Kasus penggelapan pajak, perbudakan dan perdagangan manusia, serta perdagangan obat-obatan terlarang tertulis jelas pada dokumen tersebut. Namun sayangnya, kejahatan atas pembunuhan keluarga kekaisaran dan percobaan pemberontakan tampaknya tak terjamah karena sangat ditutupi dengan rapat oleh Duke Ferus beserta antek-anteknya.
"Saya mengerti apa yang ada di dalam pikiran Anda. Tetapi, maaf. Kasus yang bersangkutan dengan keluarga kekaisaran tidak bisa kami jamah," ungkap Marquess Nore.
Waktu tanpa terasa sudah nyaris menunjukkan petang. Rossy pun berpamitan untuk kembali dengan membawa hadiah pantas yang dipersembahkan untuk Alexander dan juga William. Gadis itu berjalan beriringan dengan Isabella menuju kereta kuda, sambil terus bercengkrama satu sama lainnya.
"Lady, terima kasih atas seluruh hadiahnya hari ini. Saya benar-benar merasa senang," ucap Rossy kembali.
__ADS_1
Isabella tersenyum tipis lalu wajahnya kembali berubah menjadi serius sambil merengkuh tangan Rossy dan bertanya, "Lady, apakah anda yakin akan menerima pinangan Yang Mulia Putra Mahkota? Bukankah selama ini anda dekat dengan Yang Mulia Pangeran? Lady, saya mohon tolong pikirkan matang-matang. Yang Mulia Alexander sangat mencintai anda."
Masih jelas diingatkannya bagaimana sikap Alexander pada Rossy, dan bagaimana pria itu mengatakannya sendiri padanya saat masih terkurung di penjara. Kedua mata Isabella berkaca-kaca lalu semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Selama ini Yang Mulia tidak pernah sekalipun bahagia dan menahan penderitaan seorang diri. Saya menyadari jika hanya Anda yang bisa membahagiakannya, saya mohon Lady. Tolong bahagiakan beliau!"
***
Tetesan darah sedikit demi sedikit berjatuhan di atas tanah yang tertutup pepohonan rimbun. Alexander tertatih sambil menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.
Pangeran berparas tampan itu terduduk di bawah pohon sambil menetralkan napasnya, terlihat beberapa jenazah para pembunuh bayaran yang bergelimpangan tak jauh dari tempatnya berada.
"Syukurlah aku tidak membawa Rossy," gumamnya sambil menahan rasa sakit dan berusaha memulihkan kembali kekuatan mana yang terkuras dari dalam dirinya.
__ADS_1
Pria itu menatap langit, mengingat paras wanita yang sudah membuatnya kehilangan akal sehat.
"Tolong bersabarlah, aku yakin bisa membantumu dan membuat kita tetap bersama, Rossy."