My Favorite Prince

My Favorite Prince
Kontrak Sihir


__ADS_3

"Aku tidak yakin jika mata-mata Duke Robert Ferus hanya Adele saja. Manusia tamak itu pasti menempatkan orangnya diberbagai tempat agar bisa mengawasi kita!" Rossy berspekulasi, wajah gadis itu terlihat serius mengucapkan apa yang ia duga di dalam pikirannya


"Agen ganda?"


"Ya, agen ganda. Kita bisa menjadikannya pion catur kita. Biarkan saja Duke menganggap kita bodoh karena tidak menyadari jika Adele adalah mata-matanya. Tanpa dia sadari jika sebenarnya kita yang telah mempermainkan dia dengan menjadikan Adele sebagai informan," ujar Rossy dengan penuh percaya diri.


Membereskan seseorang mata-mata yang menyelinap tentu bukan hal yang asing bagi Rossy. Sejak di kehidupan asalnya, sudah ratusan kali ia mengalami situasi seperti itu karena persaingan yang sangat sengit di dunia bisnis yang menghalalkan segala macam cara.


"Apakah tidak berbahaya? Ini seperti pedang bermata dua," sahut William.


"Kita gunakan kontak sihir, dengan begitu ia tidak bisa berkutik dan mengkhianati ataupun sedikit berbohong kepada kita."


"Kontrak sihir? Kontrak sihir adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didapatkan, hanya penyihir kelas tinggi saja yang bisa membuat kontrak tersebut."


Perkataan dari William membuat Rossy tersenyum, gadis itu perlahan mendekati Alexander dan berkata, "Bukankah kita memiliki master sihir tingkat tinggi? Apakah anda melupakan kenyataan besar itu?"


William mengepalkan kedua tangannya, dia benar-benar merasa kalah telak dengan pesona yang dimiliki oleh adik tirinya. Kemampuan yang cakap dalam berpolitik, seorang sword master, juga sekaligus penyihir tingkat satu, semua dimiliki oleh Alexander. Dimatanya pun Alexander memang terlihat sangat sempurna hingga membuatnya membangun tembok tinggi untuk membatasi diri, serta membangkitkan keinginan untuk memiliki bagian terkecil yang dimiliki Alexander.


"Bagaimana, Yang Mulia? Apakah anda setuju?" tanya Rossy sekali lagi.


"Terserah kau saja!"

__ADS_1


***


Mengingat perbincangan sebelum Adele masuk ke ruangan kerja Alexander semakin membuat Rossy bergairah. Sudah lama sekali rasanya bagi gadis itu tak mengintimidasi seseorang yang berniat buruk pada dirinya.


Sementara itu terlihat Alexander yang tengah membuat lingkaran sihir dengan kekuatannya. Aliran mana terasa pekat, hingga membuat mual orang yang tidak terbiasa merasakannya.


*Mana : Energi dalam biasanya berguna untuk sihir.


"Yang Mulia, saya butuh sedikit darahmu," pinta Alexander.


William mengangguk lalu menggores sedikit jari telunjuknya dengan sebilah pisau hingga mengeluarkan darah. Darah tersebut diteteskan pada selembar kertas kontrak yang sudah susah payah Alexander buat, terlihat Alexander yang mulai berkeringat dingin dan gemetar.


"Yang Mulia," ucap Rossy mulai khawatir.


"Sekarang Nona Adele, tolong teteskan darah Anda!" titah Alexander, berusaha tetap stabil walaupun kondisinya mulai melemah.


Tetesan darah Adele menjadi pengakhir prosesi pembuatan kontrak sihir yang sangat menyiksa dan melelahkan. Sinar yang terang membentuk pola sihir sempurna terbentuk dari tetesan darah William dan Adele yang menyatu, hingga kertas kontrak tersebut berwujud solid dan tiba-tiba menghilang dalam sekejap bak ditelan bumi.


"Sempurna, semuanya telah selesai. Jika Nona berbohong dan melanggar isi dari kontrak tersebut maka dalam sekejap tubuh Nona akan hancur berkeping-keping dan jiwa anda tidak akan pernah bisa kembali ke langit selamanya."


Adele menelan salivanya dengan susah payah, kini ia benar-benar terikat dan tidak bisa pergi kemanapun karena kesalahan yang telah ia perbuat. 

__ADS_1


"Sir Caine, bisa tolong antarkan dia kembali!" titah Rossy mengingat kondisi Alexander yang mulai tak stabil.


Caine yang peka tanpa banyak bertanya langsung mengerjakan apa yang dipinta oleh Rossy. Pria itu keluar dari ruang kerja Alexander bersama dengan Adele yang sejak tadi tak berani untuk mengangkat wajahnya.


Langkah kaki Rossy semakin mendekati Alexander, lalu menghapus keringat yang membasahi wajah Alexander yang pucat dengan sapu tangan miliknya.


"Anda tidak apa-apa, Yang Mulia?" tanya Rossy kembali.


Seolah tak menerima perlakuan yang didapatkan oleh Alexander dari gadis itu. Dengan cepat William mencengkram tangan Rossy, menarik gadis itu menjauh dari Alexander.


"Dia tidak akan kenapa-kenapa. Kau tidak perlu khawatir berlebihan, lebih baik sekarang kau kembali ke dalam kamarmu! Bukankah kondisi tubuh kamu sedang tidak sehat?" ucap William yang membuat Rossy kesal.


Gadis itu menoleh ke arah Alexander, dan menatap sang pangeran. Sedangkan Alexander menanggapinya dengan tersenyum Ndan mengangguk kecil.


"Baiklah. Yang Mulia Pangeran, kalau begitu saya pamit untuk kembali, terima kasih atas semua bantuannya hari ini," ucap Rossy berpamitan sebelum dirinya kembali ke dalam kamarnya.


Rossy berbalik arah dan melangkah dengan berat meninggalkan ruangan itu bersama dengan William.


Namun, tiba-tiba suara batuk seseorang membuatnya menoleh.


Seketika kedua matanya membulat sempurna dan gadis itupun berteriak histeris.

__ADS_1


"Yang Mulia!"


__ADS_2