My Favorite Prince

My Favorite Prince
Rencana Alexander


__ADS_3

Alexander memicingkan matanya kala melihat sosok yang tak sengaja berpapasan dengannya. Dia benar-benar tidak menyangka, jika seseorang yang telah mengurung diri selama berbulan-bulan lamanya kini keluar hanya untuk melihat para prajurit tengah berlatih pedang.


"Putra Mahkota, ada perlu apa anda di sini?" tanya Alexander sesaat setelah berpapasan dengan William.


"Memangnya kenapa? Apa aku memang sudah tidak diperbolehkan untuk berjalan-jalan di istanaku sendiri." William yang terlihat gugup itupun langsung pergi meninggalkan Alexander, membuat Alexander tersenyum karena sepertinya ramalan tersebut akan benar-benar terjadi.


Terlihat Rossy yang masih berfokus pada sesi latihan pedangnya bersama dengan Caine, hal tersebut sontak membuat Alexander kian mengembangkan senyumnya karena melihat betapa semangatnya gadis itu.


Perlahan ia mulai mendekati Rossy lalu menyapa gadis itu.


"Lady Rossy," ucapnya yang membuat Rossy menoleh.


"Salam untuk Yang Mulia Pangeran Alexander," seru Rossy sambil membungkukkan badannya tanda memberikan salam penghormatan.


"Ikut Saya! Ada yang ingin Saya bicarakan dengan Anda," seru Alexander yang langsung disanggupi oleh gadis itu.


Tanpa banyak bicara Alexander berjalan terlebih dahulu menuju ruang kerjanya, sementara Rossy hanya mengikuti setiap langkah kaki pria itu di belakangnya.

__ADS_1


'Pasti akan nyaman dan merasa aman jika bersembunyi di belakangnya.' Rossy bermonolog dalam hatinya, menatap postur tubuh sang pangeran yang bahkan nyaris dia kali lipat dari tubuhnya.


Tubuh tinggi dan bahu yang lebar serta tegap, sekilas membuatnya kehilangan fokus. Rossy berandai-andai sosok Alexander ada di dunianya, akankah ia bisa mendapatkan hati pria itu?


"Silahkan duduk, Lady!" seru Alexander.


"Hah?"


"Silahkan duduk," ucap Alexander kedua kalinya.


Perlahan ia duduk di sebuah sofa yang berada di dalam ruang kerja tersebut, dengan pandangan mata yang terus menatap Alexander tanpa terlepas sedikitpun.


"Lama-lama wajahku ini akan retak jika kau terus menatapnya dengan tajam seperti itu," ucap Alexander.


"Ha-ha-ha maaf Yang Mulia,  jujur saja perhatian saya terus saja berfokus pada Anda. Karena di mata saya Anda adalah pria yang terlihat menarik," jawab Rossy yang selalu tidak pernah berniat basa basi atau menutupi apapun.


Walaupun gadis itu berbicara tidak sopan kepada dirinya, entah mengapa tak ada rasa marah sedikitpun di diri Alexander. Mungkin ia memaklumi karena Rossy memang berasal dari dunia yang berbeda dengannya, dunia di mana tidak ada kesenjangan antara bangsawan ataupun rakyat biasa.

__ADS_1


"Nona, ada yang ingin saya katakan pada Anda," ucap Alexander.


"Silahkan, Yang Mulia!"


"Rumor tentang kehadiranmu di Istana sudah beredar luas. Apakah kamu sudah siap jika tiba-tiba saja akan ada orang yang mengintaimu?" tanya Alexander.


Pertanyaan dari Alexander lagi dan lagi membuat dirinya tertawa, gadis itu memandang Alexander seraya tersenyum lebar.


"Bukankah sejak awal tidak ada pilihan untuk diriku? Aku memang harus melewati ini semua, agar lekas kembali ke tempatku berasal," jawab Rossy dengan santainya, seolah tidak ada ancaman yang berarti bagi dirinya .


"Lagi pula ada Anda, aku bisa bersandar pada Anda untuk berlindung," sambung Rossy yang sontak membuat Alexander menjadi salah tingkah.


Jantungnya berdegup kencang, wajahnya bahkan terasa panas. Namun pria bersurai abu-abu itu berusaha untuk mengatur ekspresi wajahnya agar tak terlihat aneh di hadapan Rossy.


"Ehem ... satu hal lagi. Mulai besok saya berpikir lebih baik kamu menjadi dayang khusus untuk Putra Mahkota," ucap Alexander yang sontak membuat Rossy membulatkan matanya lebar-lebar.


"A-apa? Saya jadi sayang?"

__ADS_1


__ADS_2