My Favorite Prince

My Favorite Prince
Kencan


__ADS_3

Hiruk pikuk kegiatan para penduduk sangat kental terasa saat mereka sampai di sebuah pasar yang terletak di ibu kota. Kegiatan jual beli pun terlihat ramai, dengan berbagai kebutuhan yang mereka jajakan di sepanjang jalan.


"Wah ramai sekali! Padahal sekarang sedang musim dingin," ucap Rossy dengan mata berbinar kala menikmati pemandangan di depannya.


Pasar sederhana tetapi tertata dengan sangat baik, sehingga tidak menimbulkan kesan kumuh dan membuat nyaman siapapun yang hendak berbelanja segala kebutuhan di dalamnya.


Samar-samar terhirup aroma manis yang menyapa indra penciuman Rossy, membuat gadis itu seketika menelan salivanya dengan perut yang mulai terasa menuntut ingin diisi.


"Apakah kamu ingin sesuatu?" tanya Alexander.


"Aroma ini, dari mana aroma lezat ini?" jawab Rossy dengan pertanyaan kembali untuk Alexander.


Alexander tersenyum lalu membawa Rossy menuju sumber dari aroma manis tersebut. Pria itu terus saja mengandeng tangan Rossy seakan tidak berniat untuk melepaskannya.


Kini mereka sampai disebuah toko kue kecil, aroma lezat tersebut semakin pekat dan membuat Rossy kian tak sabar untuk masuk ke dalam sana.


"Keluarkan menu spesialnya masing-masing dua porsi," ucap Alexander setelah seorang pramusaji datang menghampiri mereka.


"Y-yang Mulia, apa tidak berlebihan?" tanya Rossy berbisik setelah pramusaji tersebut meninggalkan mereka.


Alexander tertawa kecil lalu menjawab, "Nanti kamu juga akan mengerti, mengapa aku memesan sebanyak itu."


"Hah?"

__ADS_1


"Sudah jangan dipikirkan, dan satu lagi! Berhenti menyebut Yang Mulia, bukankah kita sudah sepakat untuk berbicara informal?"


"Oh iya, maaf aku lupa," jawab Rossy sambil tertawa kecil.


Tak berselang lama pramusaji tersebut kembali dengan membawa berbagai macam hidangan dengan jumlah masing-masing sebanyak dua porsi. Tak lupa ia menyajikan teh hangat yang cocok diminum kala cuaca teras dingin.


"Tuan, sebelumnya kami meminta maaf, karena pie apelnya hanya tersisa satu porsi saja. Apakah Tuan masih menginginkannya atau tidak?" tanya pramusaji tersebut dengan ramah dan sopan.


"Tidak apa, bawa saja ke sini!" seru Alexander yang langsung dilaksanakan oleh pramusaji itu dengan cepat.


Rossy menatap tampilan kue-kue tersebut dengan mata yang berbinar-binar, semuanya terlihat cantik dengan aroma yang menggugah selera hingga membuatnya tidak sabar untuk segera mencicipi.


"Kenapa dipandangi saja, silahkan disantap," ucap Alexander.


"Enak!" seru Rossy.


Raut wajahnya kian sumringah. senyuman tak sedikitpun hilang dari wajah cantiknya hingga membuat Alexander bahkan tak sedetikpun mengalihkan pandangan mata darinya. Hanya satu yang pria itu sesali saat itu, ia sangat ingin melihat binar mata dari warna mata asli gadis itu. Seakan diri ya sudah terobsesi akan warna hitam alami yang dimiliki oleh rambut serta lensa mata Rossy.


"Ini coba pie-nya!" seru Alexander.


"Tapi ini cuma satu, kamu tidak mau?" tanya Rossy yang tidak sampai hati menikmati kue tersebut seorang diri.


"Tidak apa-apa, aku pernah memakannya sesekali."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Alexander seketika Rossy mengambil sedikit bagian kue pie tersebut dengan garpu makan miliknya. Gadis itupun segera memasukan ke dalam mulut Alexander hingga membuat Alexander tersentak.


"Bagaimana rasanya? Apakah enak?" tanya Rossy.


"Enak sekali, coba cicipi!" seri Rossy seraya mengambil potongan kue tersebut dengan garpu yang ia gunakan, lalu tanpa berpikir panjang menyodorkannya kepada Alexander.


"Kenapa cuma dilihatin, ayo makan!" seru Rossy kembali.


Namun tak ada pergerakan apapun dari Alexander, pria itu bahkan tampak mematung dengan mata yang bergantian terfokus pada garpu dan juga bibir Rossy yang ranum.


"O-oh maaf, aku harus mengganti garpunya dengan yang baru," ucap Rossy yang baru menyadari jika garpu yang hendak ia gunakan untuk menyuapi Alexander adalah bekas dirinya.


"Enak," ucap Alexander setelah tiba-tiba memakan potongan kue yang Rossy sodorkan.


"Astaga, tapi garpu ini bekas saya!" 


"Tidak apa, tidak buruk kok," jawab Alexander. 


Wajah Alexander sontak berubah memerah. Untuk pertama kalinya Alexander memalingkan wajahnya, ia tak kuasa melihat Rossy dengan detak jantungnya yang kian terasa berdetak dengan cepat.


Brak!


"Dasar sialan! Kau harus bayar atau nyawamu akan ku habisi saat ini juga!"

__ADS_1


Teriakan seseorang dari luar sontak membuat keduanya terkejut dan saling bertatapan satu sama lainnya. Seakan mengerti arti dari sirat mata Alexander, gadis itupun mengangguk lalu segera bangkit dari duduknya.


__ADS_2