My Favorite Prince

My Favorite Prince
Kesempatan


__ADS_3

Rossy terlihat frustasi saat beberapa orang ksatria mulai berjalan di sekitar kamar yang ia tempati. Hal itu tentu saja menyulitkan dirinya untuk menjadi umpan seperti yang sudah ia rencanakan.


"William bodoh!" pekik Rossy kesal ssmbil melemparkan sebuah bantal ke sembarang arah.


Adele yang menyaksikan tingkah laku Rossy hanya bisa diam dengan tenang sambil menyulam sebuah sapu tangan, karena kontrak sihir yang mengikatnya, menjadikan dirinya sebagai mata dan telinga William.


"Nona, lebih baik Anda beristirahat saja," ujar Adele.


"Kamu ini, sama saja dengan William!" seru Rossy jengkel.


Rossy menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menatap langit-langit ranjang yang terpasang sebuah kelambu. Matanya nampak melirik ke arah Adele, dengan isi kepala yang terus berusaha mencari jalan keluar.


"Ya sudahlah terserah kalian saja. Lebih baik aku tidur," ucapannya.


Rossy memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak. Namun, seolah ketenangan tak berpihak padanya, setiap kali ia menutup mata maka bayangan Alexander kembali muncul.


Rasa rindu perlahan menggerogoti hatinya, walaupun mereka baru tak berjumpa beberapa hari saja.


'Rossy! Rossy!'

__ADS_1


Suara misterius kembali terdengar, seketika mata gadis itu terbelalak dan ia pun langsung terperanjat sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


"Ada apa, Nona?" tanya Adele terkejut.


"Kamu mendengar seseorang menyebut namaku tidak?"


"Tidak, Nona. Lagi pula di ruangan ini tidak ada siapapun selain kita berdua," jawab Adele kembali.


'Ha-ha-ha ... Rossy, Rossy! Tidak akan ada orang lain yang mendengar percakapan kita berdua. Kamu bahkan bisa menjawab ku hanya dengan berkata dalam hati saja.'


Rossy mengerutkan keningnya saat kembali mendengar suara misterius yang sangat menyebalkan baginya. Suara sosok yang tak pernah ia ketahui wujudkan, yang membuatnya terdampar di dunia antah berantah lalu memerintahkan dirinya sesuka hati.


'Aku begini juga demi kebaikan kamu. Karena semakin lama kamu di sini maka ekstensi-mu di duniamu akan perlahan pudar. Lalu, Alexander tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan jika dia nekat untuk naik takhta. Aku tahu, kamu mencintai Alexander bukan? Kamu pasti ingin kebahagiannya, walaupun akan menyakiti hatimu sendiri dengan sebuah perpisahan.'


'Sialan! Kau yang sudah membawaku seenaknya ke sini! Seandainya kau berwujud, sudah ku cekik batang lehermu itu!' cerca Rossy menahan rasa kesalnya.


Raut wajah Rossy yang terlihat aneh tak luput dari penglihatan Adele. Gadis itu pun mengerutkan keningnya dan bertanya, "Nona, apakah ada sesuatu yang dibutuhkan? Atau anda ingin saya antar ke toilet?"


"Hah! T-tidak. Tolong ambilkan saja aku minum," jawab Rossy gugup karena terkejut.

__ADS_1


Adele pun langsung berjalan keluar kamar menuju dapur, guna mengambilkan air minum untuk Rossy. 


Meninggalkan Rossy seorang diri yang memasang wajah masam.


'Ha-ha-ha, tolong atur mimik wajahmu. Wajahmu yang seperti itu membuatnya salah paham dan mengira kau sedang menahan keinginan untuk buang air.'


'Kau ini! Benar-benar ya!" bentar Rossy kesal. Namun, suara tawa misterius itu semakin menjadi-jadi dan kian membuat Rossy semakin jengkel.


'Ha-ha-ha ... janganlah merajuk seperti itu, Rossy. Kamu ingin aku beritahu sesuatu tidak? Cara kau agar bisa diculik oleh Duke Ferus.'


Seketika raut wajah Rossy berubah seratus delapan puluh derajat, gadis itu mengangguk dan tampak antusias dengan perkataan suara misterius tersebut.


'Coba kau sedikit mengintip ke luar kamarmu!" seru suara misterius.


Rossy pun segera berjalan menuju pintu kamarnya, gadis itu membuka sedikit hingga menimbulkan celah kecil lalu mengintip ke luar kamar yang dipenuhi para ksatria penjaga.


'Lihat pria di sisi kiri dengan rambut ikal berwarna coklat itu! Dia adalah Henry Belwark, yang merupakan salah satu mata-mata yang ditempatkan Duke Ferus di Istana. Jadi, kau tahu, kan apa yang harus dilakukan? Manfaatkanlah kesempatan ini!' 


Rossy tersenyum seringai sambil memikirkan rencananya, gadis itu pun berkata, "Baiklah! Mari kita mulai!"

__ADS_1


__ADS_2