
Suara langkah kaki kuda terdengar saling sahut bersahutan menyusuri jalanan yang tertutup salju.
Tawa dua insan yang tengah beradu pacu terdengar jelas mengiringi desiran angin musim dingin.
"Rossy hati-hati, nanti kamu bisa tergelincir!" seru Alexander berusaha menghentikan Rossy yang memacu kuda dengan cepat di depannya.
"Oh anda tidak perlu khawatir. Karena jika saya terjatuh maka anda akan menangkap saya," jawab Rossy dengan tawa kecilnya.
Perkataan gadis itu yang spontan tanpa Rossy ketahui membuat Alexander tersenyum. Sang Pangeran yang memacu kuda berwarna putih itu pun menanggapi perkataan Rossy.
"Tentu saja, aku akan menangkapmu saat kau hendak terjatuh, aku akan menyelamatkanmu saat kau dalam bahaya, dan aku akan berada di sampingmu setiap kau membutuhkan bantuan."
"Itu terdengar sangat manis, Yang Mulia. Nyaris saja jantung saya meledak saat mendengarnya. Tapi sepertinya saat ini anda harus memikirkan diri anda sendiri terlebih dahulu, karena yang kalah harus membayar apapun yang dibeli hari ini!" ujar Rossy berusaha untuk menutupi kecanggungan akibat perkataan Alexander. Gadis itu memacu kuda yang ia tunggangi dengan cepat, hingga akhirnya berada jauh di depan Alexander.
Kini mereka tiba disebuah jalan yang penuh dengan pertokoan, Rossy menghentikan kudanya disalah satu restoran uang cukup besar dan ramai.
"Bagaimana jika kita makan dulu, Yang Mulia? Anggap saja ini adalah hukuman pertama anda karena kekalahan anda," ucap Rossy terkekeh kecilnya.
Alexander pun segera turun dari kudanya, mengikat kuda-kuda mereka di tempat yang telah disediakan.
"Baiklah hari ini kamu bebas membeli apapun yang kamu inginkan," ucap Alexander.
"Sungguh?"
"Ya, tentu saja. Kamu duluan saja masuk. Aku mau membeli sesuatu dulu di toko sebrang," ucap Alexander seraya menunjuk sebuah toko yang menjual berbagai pedang.
"Baiklah!" Rossy tersenyum sumringah lalu berjalan masuk ke dalam restoran tersebut tanpa rasa ragu. Suasana klasik yang terlihat mewah sangat terasa, hingga membuat Rossy cukup terpukau.
"Apakah masih ada kursi kosong?" tanya Rossy pada seorang pelayan. Namun pelayanan tersebut hanya melirik sekilas lalu kembali mengabaikan gadis itu dan lebih memilih melayani seorang bangsawan yang baru saja datang.
"Permisi, apakah masih ada kursi yang kosong?" tanya Rossy kembali pada pelayan lainnya.
Lagi dan lagi kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh para pelayang yang bekerja di sana membuat gadis itu berdengus kesal, dan langsung menduduki sebuah kursi kosong tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Kursi ini sudah ada pemiliknya! Seharusnya anda menanyakannya terlebih dahulu!" Suara seorang wanita seketika membuat Rossy menoleh. Terlihat seorang pelayan datang dengan dua orang wanita dari kalangan bangsawan.
"Heh, kau ini bertanya pada siapa?" Rossy menatap tajam pelayan tersebut dengan tatapan tajam. Suasana hatinya yang bagus seketika berubah maka kacau karena perlakuan berbeda yang ia dapatkan.
"Sungguh tidak sopan, beliau adalah pelanggan VIP kami, dan ini adalah kursi yang biasanya beliau pilih," ucap pelayan tersebut.
Sedangkan kedua wanita yang bahkan baru masuk ke dalam restoran itu pun tersenyum merendahkan, sambil menutupi sebagian wajahnya dengan kipas tangan. Penampilan Rossy yang hanya memakai pakaian biasa disertai jubah menjadikan gadis itu dipandang sebelah mata.
"Tapi saya sudah datang terlebih dahulu daripada mereka, dan kau sendiri yang mengabaikan saya. Jadi gak salah dong jika saya langsung mencari tempat."
"Disini bukan pasar, saya tidak mau makan ditempat yang dihinggapi lalat," ucap salah satu wanita bangsawan tersebut.
__ADS_1
Keributan yang terjadi membuat Rossy seketika menjadi bahan tontonan seluruh pengunjung yang berada di sana, tak sedikit yang menatap dirinya dengan tatapan merendahkan
Rossy yang tak pernah disepelekan itu pun seketika naik pitam, habis sudah kesabarannya hingga membuat gadis itu membalikkan meja uang berada di hadapannya.
BRAK!
Semua mata pengunjuk tak ada satupun yang mengalihkan perhatian mereka dari Rossy yang tengah mengamuk. Beberapa penjaga pun berdatangan, baik dari pihak dari pihak keamanan toko ataupun para ksatria yang mengawal gadis-gadis yang berasal dari keluarga bangsawan tersebut.
'Ya ampun, apa yang dia lakukan? Benar-benar anjing jalanan yang tak beradab.'
'Tolong cepat usir sampah itu!'
'Menjijikan, melihatnya saja sudah membuat selera makanku hilang!'
Cibiran para pengunjung di sana sangat membuat Rossy merasa terhina. Ratu bisnis yang diagung-agungkan para penjaring keuntungan, kini hanyalah seorang rakyat jelata asing di tempatnya kini berada. Kedua tangannya mengepal erat, seakan dirinya ingin membungkam seluruh mulut para bangsawan pongah tersebut. Sungguh dia sangat benci oleh rasa ketidakberdayaan, ingin rasanya ia menggila tetapi semua itu hanya akan membuatnya kian terperosok dalam lembah cibiran.
"Kemana perginya sikap tidak sopan dan liar itu?"
"Siapa yang kalian sebut liar?" Suara Alexander tiba-tiba saja terdengar diiringi langkah kaki yang kian mendekat. Rossy menatap sosok pria itu dengan senyuman tipis seakan merasa lega dan senang dengan kedatangan Alexander yang tepat waktu.
"Y-yang M-mulia!"
"Apa yang kalian katakan kepada wanitaku?" tanya Alexander kembali. Sesampainya tepat di samping Rossy, tanpa segan pria itu menggenggam tangan Rossy dengan erat hingga cukup membuat gadis itu terperangah.
Bukan hanya Rossy yang terkejut akan tindakan dan juga perkataan Alexander, nampaknya semua yang berada dan melihat kejadian itu pun tak mampu menutupi mimik wajah mereka, bahkan hal tersebut membuat semuanya tak bisa berkata-kata.
Sepasang mata Alexander menatap gadis yang sudah menghina Rossy lalu kembali berkata, "Apakah Duke Robert tidak memberikan pendidikan etika yang baik untukmu?"
"Lady, lebih baik kita pindah ke restoran lain yang layak untuk manusia," sambung Alexander kembali, pria itu kian mengeratkan genggaman tangannya pada Rossy, menuntun gadis itu untuk segera keluar dari tempat yang sudah menginjak harga dirinya.
"Terima kasih, Alex. Maaf jika aku sudah membuat rencana kita hancur," ucap Rossy setelah mereka sudah keluar dari sana.
Alexander melepaskan genggaman tangannya, lalu terdiam mematung membelakangi Rossy. Kedua tangannya mengepal erat dengan pandangan mata yang menatap lurus ke depan.
"Alex, maafkan aku," ucap Rossy sekali lagi saat dirinya merasa jika Alexander tengah merajuk.
"Tolong jangan diam saja jika anda mengalami penghinaan seperti itu. Seharusnya saya yang meminta maaf jika setiap bersama saya, lagi dan lagi selalu saja menempatkan Anda di situasi yang tidak menyenangkan."
Rossy terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alexander, perlahan gadis itu mendekati Alexander lalu sedikit menarik lengan jubah yang dikenakan sang pangeran.
"Tidak ada hal yang paling membahagiakan dibandingkan setiap waktu yang saya lalui bersama Anda, Yang Mulia! Tolong singkirkan pikiran anda yang seperti itu."
"L-lady ...."
"Sudahlah, bukankah hari ini seharusnya kita bersenang-senang. Jadi lebih baik Anda membayar seluruh rasa bersalah anda dengan memberikanku makanan yang enak-enak!" sambung Rossy diiringi tawa kecil yang kian menambah cantik parasnya.
__ADS_1
Senyuman yang melengkung pada wajah gadis itu seakan menjadi pelipur hati Alexander yang gundah. Rasa dingin yang menusuk kulit di cuaca bersalju kala itu seakan tak terasa karena terkalahkan oleh kehangatan hati yang baru ia dapatkan.
"Baiklah."
***
"Ayah! Ayah!"
Suara teriak yang melengking membuat telinga siapapun terasa berdenging kala mendengarnya.
Seorang gadis muda turun dari kereta kuda dengan tergesa-gesa, berlarian menuju lantai dua mansion milik keluarganya yang terlihat begitu megah dan mewah.
"Ayah mana?"
"Nona, Tuan Duke tengah kedatangan seorang tamu," jawab seorang pria yang merupakan seorang kepala pelayan dari keluarga Duke Robert Ferus.
"Saya tidak peduli! Saya ingin bertemu ayah saat ini juga!" jawabnya tidak peduli.
Langkah kakinya kian mendekat menuju ruang kerja Robert, hingga akhirnya ia berpapasan dengan seorang wanita muda yang baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya. Dengan cermat ia menatap wajah gadis itu hingga ia menyadari jika gadis itu merupakan anak dari seorang Baron yang tinggal di perbatasan, dan kini menatap di ibukota untuk bekerja di dalam istana kekaisaran.
"Heh, kenapa dayang rendahan sepertimu ada disini?"
***
Note :
Sekedar informasiĀ
Bangsawan terbagi menjadi beberapa tingkat. (Mulai dari kasta tertinggi.
1. Kaisar/Permaisuri
2. Putra Mahkota/Pangeran/Putri
3. Grand Duke/Grand Duchess
4. Duke/Duchess
5. Marquess/Marchioness
6.Count/Countess
7.Viscount/Viscountess
8.Baron/Baroness
__ADS_1
Dayang \= Berasal dari bangsawan untuk melayani keperluan seorang keluarga bangsawan yang kastanya lebih tinggi dari keluarganya.
Pelayan \= Dari masyarakat biasanya yang biasanya diseleksi dengan ketat sesuai standar masing-masing.