
Deg!
Alexander menghentikan pacu kudanya saat tiba-tiba napasnya terasa sesak seakan ada sesuatu yang mencekiknya. Jantungnya bahkan tiba-tiba berdetak dengan kencang, membuat perasaan pria itu kian tak karuan dengan pikiran yang masih tertuju pada Rossy.
Gulungan teleportasi yang ia bawa dari menara sihir sudah habis terpakai, membuat dirinya merasa frustasi karena tak mampu untuk berjalan lebih cepat lagi menuju istana kekaisaran.
"Lady, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" gumam Alexander dengan rasa khawatirnya.
'Tolong, aku tak bisa bernapas!'
Suara misterius tiba-tiba saja terdengar jelas di telinganya. Suara yang tak asing ia dengar yang merupakan milik dari gadis kesayangannya.
"Rossy!" seru Alexander tersentak.
Bros yang berubah menjadi warna merah kini kembali merubah warnanya menjadi ungu gelap, hal itu kian membuat Alexander gusar atas keterbatasannya dan menyesal telah meninggalkan Rossy sendiri.
'Alexander, maafkan aku! Aku begini karena keegoisan ku yang ingin segera kembali ke duniaku. Namun, mati seperti ini rasanya tak buruk juga. Aku bahagia bisa mengenal dirimu. Aku mencintaimu, Alexander ku.'
__ADS_1
Suara itu kembali terdengar oleh sang pangeran. Suara yang terdengar putus asa, seolah tengah berada di ujung kehidupan.
"Rossy, apa yang kau katakan? Rossy, Rossy! Bisakah kamu mendengarkan? Rossy!" pekik Alexander histeris. Rasa lelah dan sakit yang menerpa tubuhnya sakan hilang tanpa tersisa. Di dalam kepalanya hanya ada Rossy dan Rossy, gadis yang sudah membuat dirinya kehilangan akan sehat.
Alexander pun kembali memacu kudanya dengan sangat cepat, berharap jika kedatangannya belum terlambat.
***
Rasa air yang dingin menjalar di seluruh tubuh gadis itu yang tak mampu berbuat apa-apa. Rossy sama sekali tidak menyangka jika tindakannya yang gegabah membuat dirinya harus menanggung resiko fatal.
'Aku mencintaimu, Rossy.'
Kenangan bersama dengan Alexander tiba-tiba saja terngiang di dalam kepalanya. Kenangan indah yang tak akan pernah ia lupakan, bahkan kehidupannya sudah mencapai ambang batas.
"Tolong, aku tak bisa bernapas!"
Rossy bergumam di dalam hatinya, sementara air nampaknya kian memasuki paru-parunya dan membuatnya kian tercekik.
__ADS_1
Pandangannya semakin buram tetapi wajah Alexander yang tersenyum kian jelas saat dirinya menutup mata. Rossy tersenyum tipis, setidaknya semua berakhir dengan dirinya menatap wajah Alexander walaupun sebatas bayangannya belaka.
'Alexander, maafkan aku! Aku begini karena keegoisan ku yang ingin segera kembali ke duniaku. Namun, mati seperti ini rasanya tak buruk juga. Aku bahagia bisa mengenal dirimu. Aku mencintaimu, Alexander ku.'
Rossy mulai mengingat satu persatu wajah orang-orang yang ia cintai, dan wajah Alexander lah yang mendominasi seluruh ingatannya. Hingga tiba-tiba terlihat wajah kedua orang tuanya yang sudah lama meninggalkan dunia sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Rossy kembali tersenyum hingga dirinya benar-benar tak merasakan apapun lagi dan kehilangan kesadarannya.
"Rossy! Rossy!" teriak William lalu melompat turun dari atas kudanya.
"Yang Mulia, berbahaya!" teriak para ksatria yang mendampingi putra mahkota.
Tanpa mendengarkan seruan peringatan tersebut, pria itu berlari menuju jembatan dimana ia melihat Rossy dijatuhkan seperti barang.
William menaiki pembatas jembatan yang terbuat dari kayu, lalu terus berteriak dan mencari keberadaan Rossy yang tak terlihat.
"Rossy! Rossy!" pekiknya kembali dan tiba-tiba saja menceburkan diri tanpa peduli jika arus sungai malam itu tengah deras.
__ADS_1