
Kegaduhan terjadi di istana putra mahkota, untuk pertama kalinya seorang pelayan berusaha meracuni tamu yang kini menjadi dayang khusus Putra Mahkota. Terlebih Rossy terkenal dengan sebutan sang penyelamat putra mahkota yang diramalkan, tentu saja menimbulkan bermacam-macam spekulasi dari berbagai pihak.
"Lady! Apakah kamu baik-baik saja?" Alexander menggenggam tangan Rossy setelah dirinya berlari pontang panting dari istana Bintang. Wajahnya terlihat sangat khawatir dengan laporan dadakan dari Sir Caine dan James akan kejadian yang tak terduga.
Anggota keluarga kekaisaran memang sudah kebal terhadap racun, hingga tidak ada yang berniat membunuh anggota kekaisaran dengan cara meracuni. Tetapi berbeda halnya dengan Rossy, Rossy tidak kebal akan racun sehingga mudah menyingkirkannya dengan cara seperti itu.
"Tidak apa, dia baik-baik saja." Alih-alih Rossy yang menjawab, tetapi semua di wakilkan oleh William yang terlebih dahulu menemani Rossy. Pria yang memiliki warna rambut emas itu terlihat taman atas kedatangan adik tirinya.
Tiba-tiba Sir Caine datang menghadap, lalu berkata setelah memberikan salam penghormatan kepada kedua pangeran itu.
"Salam Yang Mulia Pangeran dan Putra Mahkota. Saya ingin melaporkan jika pelayan tersebut sudah melewati kondisi kritis, dokter mengatakan jika perkiraan kondisinya akan membaik dalam waktu 1 sampai 2 hari lagi," ucapnya.
"Baiklah, tolong kerahkan ksatria untuk menjaga! Saya tidak ingin jika kita kehilangan seseorang yang bisa menjadi saksi atas tersangka sebenarnya," titah William sambil melirik ke arah Rossy.
William menghela napasnya, dia sama sekali tidak habis pikir dengan sikap Rossy yang nekat menghadapi bahaya seorang diri. Pria itu kembali melirik sinis ke arah Rossy namun, Rossy hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh.
"Tunggu! Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alexander yang tidak begitu mengetahui awal mula duduk perkaranya. Rossy tersenyum lalu mulai menceritakan semuanya dari awal.
***
__ADS_1
"Minumlah bersamaku, aku bosan sendirian. Lagi pula Adele akan datang sebentar lagi, temani aku sampai dia kembali." Rossy tersenyum hangat lalu mulai menuang teh pada cangkir-cangkir yang diukir dengan ukiran cantik.
"Saya tidak berani, Nona. Anda adalah tamu kehormatan sekaligus datang Yang Mulia Putra Mahkota. Sungguh tidak sopan jika saya dijamu oleh Anda," jawabnya.
Pelayan tersebut terlihat semakin gugup dan terus menolak dengan berbagai macam alasan.
Rossy kembali menelisik ekspresi wajah pelayan tersebut, tatapannya terasa tajam dan membuat tak nyaman sehingga pelayan itu terus berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengan Rossy.
"Siapa yang memerintahmu?"
pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Rossy seketika membuat pelayan wanita itu menjadi pucat pasi. Tubuhnya bahkan terlihat sedikit gemetar meski dia berusaha sekuat tenaga untuk tenang.
Rossy mulai beranjak dari duduknya dan perlahan mendekati pelayan tersebut lalu berbisik dengan lirih sambil tersenyum seringai, "Saya tahu, jika ada sesuatu di dalam teh ini."
"Tidak, Nona! Saya tidak berani, Anda adalah tamu kehormatan," ucapnya berkelit.
"Kalau begitu, mari kita minum bersama!" seru Rossy kembali dengan lebih memaksa.
"Tidak, Nona. Saya tidak berani lancang."
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Rossy terbuka setelah terdengar bunyi ketukan beberapa kali. Terlihat Adele masuk sambil membawa beberapa lembar berkas yang ia dapatkan dari Alexander.
"Nona, ini hasil penjualan dari Yang Mulia Pangeran Alexander. Lalu ia meminta agar Anda meluangkan waktu untuk makan malam bersamanya," ucap Adele.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu, Nona."
Pelayan itu semakin menunjukkan gelagat aneh, Adele yang tidak mengetahui situasi sebelumnya pun bahkan mengerutkan keningnya terlebih melihat raut wajah pucat pasi dan tangan gemetar pelayan tersebut. Namun sebaliknya, Rossy semakin tersenyum sumringah.
Dengan cepat ia pun menggenggam tangan pelayan tersebut dan mencengkeramnya kuat.
"Adele, bantu aku menahannya!" titah Rossy yang langsung disanggupi oleh Adele.
Tawa Rossy kian keras seiring gadis itu mengaduk-aduk cangkir teh yang baru saja ia ambil dari atas meja, suaranya bahkan membuat Adele seketika merinding karena kini Rossy terlihat sangat berbeda dari awal dirinya masuk ke dalam istana.
Rossy mencengkram kedua pipi pelayan tersebut dan memaksa meminumkan teh yang ada di genggaman tangannya.
"Mari kita buktikan, mataku salah menilai atau tidak?"
__ADS_1