
William sudah tampak bersiap dengan seragam putra mahkota berserta sebilah pedang yang melekat pada tubuhnya. Sambil menunggangi sebuah kuda putih, untuk pertama kalinya ia memulai kembali sebuah pekerjaan berat yang selama ini ia lupakan.
Langkah kaki kuda saling sahut bersahutan, mengiringi perjalanan William bersama sekelompok ksatria istana kelas atas yang berada di belakangnya. Sementara Caine dan para ksatria terpilih sudah terlebih dahulu mencari jejek keberadaan Rossy hingga akhirnya menemukannya, dan langsung melaporkannya ke istana melalui seekor burung merpati.
"Percepat laju kalian, kita tak boleh menyia-nyiakan waktu!" seru William yang semakin mempercepat langkah kaki kuda yang ia tunggangi.
Sepasang lensa mata berwarna biru yang selama ini kosong, kini terlihat menyiratkan sesuatu. Segala pikiran negatif berkecamuk di dalam kepalanya, William ingin segera menyelamatkan Rossy bagaimanapun caranya.
Kini mereka tiba di sebuah mansion tua yang masih berada di wilayah perbatasan duchy. Merekapun disambut oleh Caine yang sudah menunggu kedatangan Putra Mahkota bersama anggota ksatria yang lainnya.
"Bagaimana kondisi Rossy?" tanyanya.
"Hormat pada Yang Mulia! Nona Rossy dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun, saya mendengarkan percakapan yang mengatakan jika Nona akan dijual disebuah lelang gelap untuk dijadikan seorang budak."
"Budak?" William sangat terkejut mendengar informasi baru saja ia dapatkan.
Kedua tangan William bergetar hebat, keinginannya untuk menebas leher seorang Robert Ferus pun kian meningkat. Masih Bagaimana pria licik itu tersenyum saat pemakaman mendiang Kaisar dan juga Putri mahkota, namun rasa terpukul yang amat dalam membuatnya hanya membungkam suara dan tidak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh Robert.
'Rubah tua itu! Kali ini akan kubiarkan lagi dia bernapas sesuka hatinya! Aku memang bukan Alexander yang kuat dan mampu melindungi Rossy seorang diri, tapi aku adalah seorang putra mahkota yang tinggal menghitung hari untuk menjadi seorang Kaisar, aku memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tak terbatas dan akan aku gunakan untuk melindungimu.'
Sementara itu Rossy merasa jika suasana sudah cukup sepi setelah langkah kaki Robert dan Henry terdengar semakin menjauh lalu diiringi suara pintu yang tertutup.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Rossy mulai membuka matanya, berniat menghilangkan tubuhnya yang sudah terasa kebas.
Namun baru saja ia membuka matanya, tiba-tiba suara tawa tepuk tangan seseorang dari arah berlawanan membuat gadis itu tersentak.
Rossy terkejut, ia tak menyangka jika dirinya baru saja bersikap ceroboh. Seorang Ferus pasti tidak akan pernah meninggalkanmu mangsanya begitu saja.
"Ha-ha-ha lihat apa yang dilakukan Nona manis ini? Bukankah sangat menggemaskan?" tanya Ferus yang berdiri di ambang pintu penghubung antara ruangan tersebut dengan ruangan di sebelahnya.
"Dasar sampah! Manusia licik, budak iblis! Aku tidak akan pernah membiarkanmu!" umpat Rossy sambil berusaha untuk bangkit.
Caci maki yang Rossy lontarkan tak membuat pria paruh baya itu meradang. Alih-alih marah, Robert semakin tertawa terbahak-bahak seakan menganggap semuanya sebagai sesuatu yang konyol.
"Menarik, gadis pemberani yang sangat menarik. Sayang sekali kau menjadi orang yang dimaksud dalam Oracle. Tapi, aku menawarkan suatu penawaran, maukah kau berpihak padaku? Dan aku akan memberikan apapun untukmu!" Robert berusaha membujuk Rossy untuk beralih memihak dirinya. Sorot mata Rossy terus saja menatap tajam padanya, seakan siap menerkam Robert selayaknya seekor binatang buas melihat mangsanya.
Seseorang terdengar berlarian ke arah ruangan itu lalu membuka pintunya tanpa diketuk terlebih dahulu. Rossy mengerutkan keningnya, menatap pria yang tak asing di penglihatannya. Pria itu adalah salah satu pelayan di Istana Bintang, dan ternyata menjadi salah satu kaki tangan Robert selain Adele dan Henry.
"Gawat, Tuan! Putra Mahkota memasuki wilayah duchy!" ujarnya.
Dari belakang tiba-tiba Rossy kembali mendapatkan sebuah pukulan keras tepat dibelakang kepala, yang seketika membuat tubuhnya kembali tersungkur. Henry yang ternyata mengawasi Rossy di belakangnya, segera mengikat tangan dan kaki gadis itu lalu membekap mulut Rossy dengan sebuah kain yang diikatkan melingkari kepala gadis itu.
"Sial, cepat kita pergi!" seru Robert.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Henry segera menggotong Rossy yang terikat lalu meletakkannya di sebuah kereta pengangkut barang.
Mereka pun segera meninggalkan tempat itu melewati jalan belakang agar tak berpapasan dengan kawanan putra mahkota.
"Kita harus kemana, Tuan?" tanya seseorang yang merupakan kusir kereta tersebut.
"Kita ke arah sungai, kita harus segera meninggalkan jejak wanita itu!" seru Robert.
Rossy mengerutkan keningnya, karena sepertinya Robert mengubah rencananya. Robert sama sekali tidak menduga jika putra mahkota yang tidak bisa berbuat apa-apa, tiba-tiba saja bisa mengambil langkah secepat itu.
"Berhenti Duke!"
Suara teriakan tiba-tiba saja terdengar dari kejauhan, selaras dengan jejak langkah kuda yang terdengar mengejar iring-iringan kawanan Robert.
"Kita berpencar! Kau cepat singkirkan wanita itu!" pekik Robert dari atas kuda yang ia tunggangi.
Kereta kuda yang membawa Rossy tampak berbelok dan memisahkan diri dari Robert dan yang lainnya. Lalu berhenti di sebuah tempat yang terdengar aliran air deras.
Rossy kembali digotong oleh seorang pria untuk keluar kereta kuda, yang membawanya ke sebuah jembatan dengan aliran sungai deras yang mengalir di bawahnya.
"Emph ...!" Rossy berusaha berteriak dan memberontak tetapi mulutnya tersumpal dan tubuhnya terikat dengan kencang.
__ADS_1
Seketika tubuhnya dihempaskan dari jembatan tersebut yang membuatnya harus terjun dan masuk kedalam sungai dengan keadaan terikat.
Samar-samar terdengar langkah kaki kuda yang semakin mendekat sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran kembali.