
Sudah tiga hari lamanya pasca dipenjaranya Lady Nore. Selama itu, setiap hari pula Marquess Nore selalu kepala keluarga dan ayahanda dari Isabella turut menghadap Putra Mahkota dan Alexander untuk melakukan negosiasi atas hukuman putrinya.
Pria paruh baya itu tampak lebih muram dari biasanya, dengan kantong mata yang melingkar jelas karena beban pikiran yang membuatnya mengalami insomnia.
"Yang Mulia, Marquess Nore datang kembali dan ingin menemui Baginda," ucap James kepada Putra Mahkota yang masih berada di kamarnya.
Rossy yang mendengar sedikit tersentak dengan kegigihan Marquess Nore. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan perhatian dari mendiang orang tuanya. Gadis itu terdiam sejenak, sedikit rasa iba dan iri berkecamuk di dalam hatinya. Seandainya saja ia merasakan sedikit perhatian dan kasih sayang, mungkin hidupnya tidak akan terasa hampa.
"Suruh saja dia kembali, lebih baik dia menyiapkan hatinya sampai persidangan bangsawan akan digelar," ucap William dingin.
"Baik, Yang Mulia." Tanpa membantah sepatah katapun James keluar dari kamar William.
"Yang Mulia, saya akan keluar terlebih dahulu."
"Kamu mau kemana? Tugasmu melayani semua kebutuhanku, bagaimana jika aku butuh sesuatu saat kau tak ada?" tanya William yang membuat Rossy menghela napasnya.
Bukan hanya Alexander yang membuatnya sakit kepala, tetapi William pun demikian. Walaupun Rossy sudah membatasi diri dan bersikap dingin kepadanya tetapi yang dilakukan pria itu adalah hal sebaliknya. Sebisa mungkin William terus menahan Rossy agar tetap berada di sampingnya, sekalipun ia tengah beristirahat dan menikmati secangkir teh di sore hari.
"Saya hanya sebentar, Yang Mulia. Secepat mungkin saya akan kembali," ucap Rossy berusaha mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Baiklah, segeralah kembali."
***
"Maaf Marquess, Yang Mulia sedang tidak berkenan untuk ditemui."
"Tapi saya mohon, saya ingin bertemu Yang Mulia Putra Mahkota. Keluarga Nore sudah sangat setia kepada keluarga kekaisaran, apakah kami tidak memiliki sebuah kesempatan," ucap Marquess memohon. Surat mata pria tua itu terlihat putus asa, entah harus bagaimana lagi dirinya menyelamatkan putri semata wayangnya dari hukuman.
James hanya tersenyum lalu menepuk pundak Marquess. Sang butler yang telah mengabdi nyaris sepanjang usianya di istana itu tak bisa berkata apapun lagi, selain menyemangati Marquess Nore tanpa berucap sepatah katapun.
Selepas kepergian James, Marquess Nore kembali terduduk. Kedua kepalanya menunduk dengan kedua telapak tangan yang yang menutupi wajahnya.
Perkataan Robert yang mendatangi kediamannya semalam terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Hati dan pikirannya terus beradu, bersitegang satu sama lainnya.
'Apakah aku harus setia atau masuk kedalam lingkaran menjijikan demi keselamatan dan reputasi Isabella?'
"Marquess!"
Suara langkah seorang yang berlari terasa semakin mendekat, seiring dengan namanya yang dipanggil. Marquess Nore menoleh dan melihat Rossy berlarian walaupun tengah mengenakan sepatu hak tinggi.
__ADS_1
"Lady, apa yang membuat lady berlarian seperti ini?" tanya Marquess Nore dengan sopan.
"Maafkan kelancangan saya Tuan Marquess, saya ingin mengatakan sesuatu pada Tuan," jawab Rossy.
"Saya akan membantu anda!" sambung Rossy kembali.
"Maksud Lady?" tanya Marquess Nore seraya mengerutkan keningnya
Sejenak gadis itu terdiam guna mengatur kembali napasnya yang terengah-engah. Rossy menatap lawan bicaranya tanpa rasa takut dan mengungkapkan seluruh maksudnya tanpa berbasa-basi.
"Saya akan berusaha membujuk Yang Mulia Putra Mahkota untuk mengurangi hukuman untuk Lady. Saya berjanji, Tuan! Anda bisa percayakan semuanya pada saya."
"Apa yang membuat Lady berpikiran seperti itu, padahal dalam kasus ini Lady adalah korban atas kejahatan putri saya. Mengapa Anda berniat membantu saya?" tanya Marquess Nore bingung.
Rossy tersenyum lembut lalu kembali menjawab,
"Saya melakukannya bukan untuk Lady Nore, tapi untuk Anda."
__ADS_1